POJOKSATU.id, PONTIANAK – Upaya menjaga produktivitas dan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit rakyat terus diperkuat. Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menggelar Workshop Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit di Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat.

Kegiatan yang mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut menjadi forum strategis bagi petani sawit, akademisi, pemerintah, dan pelaku industri untuk membahas tantangan serius yang dihadapi perkebunan sawit rakyat, khususnya ancaman penyakit Ganoderma dan hama kumbang tanduk.

Workshop dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, unsur Forkopimda, Direktorat Jenderal Perkebunan, GAPKI Kalbar, akademisi Universitas Tanjungpura, serta ratusan petani sawit dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat.

Baca Juga: Hanya Naik Tipis, Mengapa Anggaran Sektor Politik dan Keamanan Tahun Ini Terkesan Ditahan?

Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO., menegaskan bahwa pengendalian Ganoderma dan kumbang tanduk harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan karena kedua ancaman tersebut berpotensi menurunkan produktivitas kebun sawit rakyat secara signifikan.

Menurutnya, Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah yang menunjukkan komitmen kuat dalam membangun kesadaran dan langkah konkret menghadapi persoalan tersebut demi menjaga keberlanjutan sektor sawit rakyat di masa depan.

Selain aspek teknis budidaya, APKASINDO juga terus memperjuangkan kepentingan petani sawit rakyat agar memperoleh posisi yang lebih kuat dalam rantai industri sawit nasional. Organisasi ini mendorong terciptanya tata niaga yang adil sehingga petani dapat menikmati hasil usaha yang lebih layak dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Barat, Indra Rustandi, S.M., menjelaskan bahwa workshop tersebut merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas petani, terutama petani swadaya, agar mampu mengelola kebun secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Ia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor utama dalam menjaga masa depan industri sawit rakyat. Oleh karena itu, regenerasi petani muda perlu mendapat perhatian melalui pendidikan, pelatihan, serta perluasan akses beasiswa di sektor perkebunan.

Menurut Indra, saat ini program beasiswa sawit di Kalimantan Barat masih terbatas sehingga diperlukan kerja sama yang lebih luas dengan perguruan tinggi maupun lembaga pendidikan vokasi untuk mencetak generasi baru petani sawit yang kompeten dan berdaya saing.

Baca Juga: Anggaran Kemenko Ini Dikabarkan Melonjak Dua Kali Lipat, Bagaimana Kementerian Lain?

Dalam workshop tersebut, peserta juga memperoleh berbagai materi teknis dari akademisi, praktisi, dan pakar industri sawit terkait strategi pengendalian penyakit tanaman, manajemen perkebunan berkelanjutan, serta penguatan kelembagaan petani.

APKASINDO Kalbar turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan, termasuk BPDP, GAPKI Kalbar, PPKS, BSI, Sawit Setara, Saraswanti, DPX Sriwijaya, PKKS Parindu, serta berbagai mitra lainnya.

Kehadiran petani dan pengurus APKASINDO dari berbagai wilayah seperti Sambas, Bengkayang, Sintang, Ketapang, Sanggau, Landak, Melawi, Kayong Utara, hingga Pontianak menjadi bukti kuatnya semangat kolaborasi dalam memperkuat sektor sawit rakyat.

Melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan petani, APKASINDO optimistis produktivitas sawit rakyat dapat terus meningkat sekaligus mendukung program energi terbarukan nasional, termasuk implementasi mandatori biodiesel B50 yang tengah didorong pemerintah.