POJOKSATU.ID - Arsitektur keuangan negara untuk tahun dua ribu dua puluh tujuh menempatkan dua kementerian koordinator sebagai penerima dana terbesar di kelasnya.

Berdasarkan dokumen resmi yang disahkan oleh Badan Anggaran legislatif, posisi puncak alokasi anggaran masih kokoh digenggam oleh Kemenko Perekonomian.

Instansi yang mengawal stabilitas makroekonomi ini memperoleh alokasi dana sebesar enam ratus enam puluh empat miliar rupiah.

Sehingga mengalami kenaikan sebesar empat puluh lima koma delapan puluh tujuh persen dari modal tahun sebelumnya yang berada di angka empat ratus lima puluh lima koma dua miliar rupiah.

Baca Juga: Bukan Kemenko Perekonomian, Instansi Ini yang Anggaran Melejit Paling Ugal-ugalan!

Tidak kalah mengejutkan, posisi kedua ditempati oleh Kemenko Pemberdayaan Masyarakat yang berhasil mendapatkan kucuran dana sebesar enam ratus dua puluh koma sembilan miliar rupiah.

Yang menarik dari pos anggaran ini adalah persentase pertumbuhannya yang melampaui angka seratus persen.

Tepatnya di angka seratus empat koma lima puluh delapan persen dibandingkan tahun dua ribu dua puluh enam yang hanya bermodal tiga ratus tiga koma lima miliar rupiah.

Fenomena ini menunjukkan adanya dorongan kuat dari negara untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi makro dengan penguatan kapasitas ekonomi di tingkat akar rumput.

Baca Juga: Nasib Tragis Guru Swasta? Mengapa Mereka Dicoret dari Prioritas Utama Pengangkatan ASN

Dua instansi ini diproyeksikan menjadi motor penggerak utama dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan produk domestik bruto.

Kemenko Perekonomian akan fokus pada kebijakan investasi, perdagangan internasional, dan hilirisasi industri.

Sementara itu, Kemenko Pemberdayaan Masyarakat tampaknya akan mengalokasikan dana jumbo tersebut untuk pengentasan kemiskinan ekstrem, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah, serta program bantuan sosial yang lebih integratif dan berbasis digital.

Sinergi antara kedua lembaga dengan anggaran jumbo ini diharapkan mampu meredam potensi guncangan ekonomi global yang diprediksi masih tidak menentu.

Pembagian porsi dana yang masif ini menegaskan bahwa pembangunan fisik tidak boleh meninggalkan pembangunan kapasitas manusianya.

Efektivitas penyerapan anggaran dari kedua raksasa kemenko ini akan menjadi penentu utama apakah target-target pembangunan nasional dapat dicapai secara tepat waktu atau justru meloset dari estimasi awal.***