POJOKSATU.ID – Ketua KAGAMA Cirebon, Heru Subagia, meminta Rismon untuk segera menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada pihak Universitas Gadjah Mada (UGM), civitas akademika, serta para alumni.

Desakan tersebut disampaikan menyusul polemik panjang terkait pernyataan Rismon yang menyebut ijazah Presiden Joko Widodo palsu, yang dinilai telah menimbulkan kerugian materiil maupun non-materiil, khususnya di lingkungan UGM dan para alumninya.

Menurut Heru, meskipun Rismon telah menerima penghentian penyidikan (SP3) dari Polda Metro Jaya, hal itu bukan berarti persoalan selesai begitu saja.

“Paska mendapatkan SP3, bukan berarti yang bersangkutan bisa lepas dari tanggung jawab moral. Masih ada dampak yang dirasakan oleh UGM dan para alumninya,” ujar Heru dalam pernyataan resminya.

Baca Juga: Trump Klaim Iran Siap Serahkan Uranium Diperkaya ke AS Meski Perundingan Nuklir Kedua Negara Belum Capai Kesepakatan

Ia menegaskan, sebagai seseorang yang mengaku peneliti sekaligus alumni UGM, Rismon seharusnya menunjukkan sikap sportif dengan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

Heru bahkan menantang Rismon untuk datang langsung ke rektorat UGM atau kantor KAGAMA terdekat, dengan membawa surat permohonan maaf dan menyampaikannya di hadapan pihak kampus.

“Kami menunggu itikad baik Rismon untuk datang secara langsung, secara gagah berani, menyampaikan permohonan maaf kepada rektor dan pihak terkait,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Heru juga menyampaikan pandangannya terkait sikap hidup dalam menghadapi penilaian publik. Ia mengaku tidak ingin terlalu ambil pusing terhadap penilaian orang lain selama dirinya merasa telah bertindak jujur sesuai hati nurani.

Baca Juga: Mulai Hari Ini Harga Pertamax Turbo Rp19.400 per Liter, Naik Hampir 50 Persen dari Biasanya

“Yang paling tahu diri kita adalah diri kita sendiri. Kalau kita sudah jujur dan melakukan yang terbaik, maka penilaian orang lain itu di luar kendali kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, dirinya memilih menjalani hidup dengan sederhana, tanpa harus mengikuti standar orang lain, serta tetap fokus pada hal-hal yang lebih penting seperti keluarga dan pengembangan diri.***