POJOKSATU.ID - Perkenalkan saya Neng Intan Nasiroh lulusan dari jurusan Manajemen di Universitas Nusa Putra sebagai fresh graduate tentu membawa perasaan campur aduk.

Antara bangga, cemas, dan penuh harapan. 

Setelah menyelesaikan perkuliahan, muncul satu pertanyaan besar: “Setelah ini, aku akan benar-benar masuk ke dunia kerja seperti apa?”

Baca Juga: Masjid Tiban Nurul Huda Lasem, Kisah Masjid “Datang Tiba-Tiba” yang Lebih Tua dari Jami’

Jawabannya datang ketika saya mendapatkan kesempatan mengikuti program MagangHub di Pojoksatu Indonesia. Bagi saya, ini bukan sekadar magang. 

Ini adalah pintu pertama untuk benar-benar memahami bagaimana teori manajemen yang dipelajari di bangku kuliah diterapkan dalam dunia kerja nyata terutama di industri media digital. 

Dan ternyata, realitanya jauh lebih menantang dari yang saya bayangkan.


Masuk ke Dunia Digital Marketing Paid Promote

Di Pojoksatu Indonesia, saya ditempatkan sebagai bagian dari tim digital marketing, khususnya di bidang paid promote. 

Awalnya, saya bahkan belum benar-benar memahami detail pekerjaan ini.

Baca Juga: Mendikdasmen Ajukan Revitalisasi 60 Ribu Sekolah di 2026, Target 71 Ribu Satuan Pendidikan Tersentuh

Paid promote bukan hanya soal memposting konten promosi brand. 

Lebih dari itu, ini tentang strategi, komunikasi, negosiasi, hingga menjaga hubungan jangka panjang dengan klien.

Sebagai fresh graduate, saya dihadapkan pada pekerjaan yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. 

Baca Juga: Masjid Tiban Nurul Huda Lasem, Kisah Masjid “Datang Tiba-Tiba” yang Lebih Tua dari Jami’

Dunia komunikasi dengan brand menjadi keseharian, saya harus belajar bagaimana cara mencari target brand, membangun pendekatan yang profesional, hingga menawarkan kerja sama yang relevan dengan kebutuhan mereka.

Tidak hanya itu, ada KPI yang harus dicapai.

KPI inilah yang membuat pengalaman maganghub di Pojoksatu menjadi penuh tantangan. 

Baca Juga: UNHI Denpasar: dari Piagam Campuhan Ubud hingga Menjadi Universitas Berkelas Dunia Berlandaskan Dharma

Target leads, target closing, hingga konsistensi follow up brand menjadi tanggung jawab yang harus saya pegang, awalnya terasa berat bahkan sangat berat.


Tantangan KPI dan Rasa Ingin Menyerah

Ada momen-momen ketika saya merasa lelah secara mental, tidak semua brand merespons dengan cepat, tidak semua prospek berujung pada deal. 

Ada hari di mana inbox terasa sepi dan ada hari di mana follow up tidak kunjung dibalas, di titik itu, pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dalam pikiran:

Baca Juga: UNHI Denpasar: dari Piagam Campuhan Ubud hingga Menjadi Universitas Berkelas Dunia Berlandaskan Dharma

“Apa aku berhenti aja ya?”

“Apa aku memang bisa di tugas ini?”

Sebagai fresh graduate yang baru pertama kali benar-benar terjun ke dunia kerja media, rasa ragu itu wajar, namun di situlah saya belajar bahwa dunia kerja tidak selalu tentang hasil instan dengan prosesnya yang membentuk mental dan karakter.

KPI bukan sekadar angka, KPI adalah alat untuk melatih konsistensi, daya juang, dan kemampuan problem solving.

Baca Juga: UNHI Denpasar: dari Piagam Campuhan Ubud hingga Menjadi Universitas Berkelas Dunia Berlandaskan Dharma

Ketika target belum tercapai, bukan berarti gagal, itu artinya ada strategi yang perlu diperbaiki, komunikasi yang perlu diasah, atau pendekatan yang perlu diubah.


Belajar Komunikasi dan Strategi Mencari Brand

Salah satu pelajaran terbesar selama maganghub di Pojoksatu Indonesia adalah tentang komunikasi strategis dalam dunia paid promote, komunikasi bukan sekadar mengirim pesan penawaran, kita harus memahami brand terlebih dahulu:

  • Siapa target market mereka?

 

  • Produk atau jasa apa yang sedang mereka fokuskan?
  • Campaign apa yang sedang mereka jalankan?

Dari situ, baru kita bisa menyusun penawaran yang relevan, saya belajar bagaimana membuat chat yang tidak terkesan kaku, bagaimana menawarkan benefit dengan jelas, dan bagaimana menjaga hubungan agar brand merasa dihargai, ini bukan hanya soal menjual slot promosi tapi ini tentang membangun relasi.

Sebagai lulusan manajemen, saya mulai menyadari bahwa teori pemasaran, manajemen hubungan pelanggan, hingga komunikasi bisnis yang dulu dipelajari ternyata sangat terpakai di sini, hanya saja, bentuknya lebih dinamis dan real time.


Mentor dan Teman Seperjuangan

Hal yang membuat saya bertahan dan terus berkembang di Pojoksatu Indonesia adalah lingkungan kerjanya, saya bertemu mentor yang tidak hanya memberi arahan, tetapi juga membuka ruang diskusi, setiap kesalahan bukan untuk dimarahi, tetapi untuk dievaluasi bersama.

Baca Juga: Kaum Mokel Wajib Baca, Ancaman Berat bagi yang Sengaja Membatalkan Puasa, Ini Dalilnya

Selain itu, saya memiliki teman-teman seperjuangan, kami mungkin datang dari latar belakang dan tujuan yang berbeda, tetapi berjuang di tempat yang sama dan ketika satu merasa down, yang lain memberi semangat, ketika satu berhasil closing brand, itu menjadi motivasi bersama.

Bertemu dengan teman baru dengan tujuan berbeda namun berjuang di tempat yang sama adalah kunci untuk bertahan, lingkungan kerja yang suportif membuat rasa ingin menyerah perlahan berubah menjadi rasa ingin membuktikan diri.


Dunia Media yang Dinamis dan Penuh Eksperimen

Satu hal yang awalnya tidak saya sangka bekerja di dunia media ternyata tidak monoton, awalnya saya berpikir pekerjaan akan terus sama setiap hari mencari brand, follow up, closing ternyata tidak.

Baca Juga: Kaum Mokel Wajib Baca, Ancaman Berat bagi yang Sengaja Membatalkan Puasa, Ini Dalilnya

Di Pojoksatu Indonesia, kami diberi ruang untuk bereksperimen, bahkan di luar KPI utama, ika punya ide campaign, konsep konten, atau pendekatan baru ke brand, kami boleh mencoba, ruang eksplorasi inilah yang membuat saya merasa berkembang.

Saya jadi paham bahwa dunia media itu cepat berubah, tren berganti, strategi pemasaran digital berkembang, dan kreativitas menjadi kunci utama, dari situ saya sering berpikir, “Oh, ternyata seperti ini dunia kerja media sebenarnya.” dan jujur, saya menikmati prosesnya.


Pengalaman Magang yang Lebih dari Sekadar Kerja

Maganghub di Pojoksatu Indonesia memberi saya jauh lebih banyak dari sekadar pengalaman kerja, saya belajar tentang Manajemen waktu, Target oriented mindset, Komunikasi profesional, Mental tahan banting, Kerja tim, Kepercayaan diri.

Baca Juga: Kaum Mokel Wajib Baca, Ancaman Berat bagi yang Sengaja Membatalkan Puasa, Ini Dalilnya

Dari yang awalnya ragu, perlahan saya mulai yakin bahwa saya mampu, dari yang awalnya merasa tidak tahu apa-apa, perlahan saya mulai mengerti ritme kerja media digital.

Pengalaman ini juga mengubah cara pandang saya tentang dunia kerja, ternyata bekerja bukan hanya soal menyelesaikan tugas tapi soal bagaimana kita berkembang setiap hari, menghadapi ketidakpastian, dan tetap melangkah meski sempat ingin berhenti.


Bertumbuh di Tempat yang Tepat

Sebagai fresh graduate Manajemen dari Universitas Nusa Putra, saya bersyukur pernah menjadi bagian dari MagangHub di Pojoksatu Indonesia, tempat ini menjadi ruang belajar, ruang jatuh, sekaligus ruang bangkit.

Tidak semua proses berjalan lancar ada rasa ragu, ada tekanan KPI, ada target yang belum tercapai, namun justru dari situlah saya belajar arti konsistensi dan keberanian mencoba. 

Baca Juga: Pendaftaran TKA SD-SMP 2026 Segera Ditutup, Ini Cara Generate Nopes dan Alur Lengkapnya

Magang ini bukan akhir perjalanan, tapi fondasi yang kuat untuk melangkah lebih jauh di dunia digital marketing dan industri media dan jika suatu hari saya melihat ke belakang, saya akan selalu ingat bahwa di sinilah saya pertama kali benar-benar belajar tentang dunia kerja yang sesungguhnya.

Ke depannya, saya berharap terus berkembang di dunia digital marketing, memperluas relasi brand, meningkatkan kemampuan strategi bisnis media, serta menjadi pribadi profesional yang tangguh, adaptif, dan berdampak.***