POJOKSATU.ID — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau yang akrab disapa Zulhas kembali jadi perbincangan warganet. Kali ini, sebuah video yang memperlihatkan dirinya menyantap makanan sambil memegang cerutu saat kunjungan ke lokasi banjir di Aceh viral di media sosial.

Video tersebut direkam saat Zulhas berada di Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Minggu (14/12/2025). Dalam rekaman yang beredar luas, Zulhas tampak duduk santai di sebuah rumah makan. Di satu tangan ia memegang cerutu, sementara tangan lainnya menyantap hidangan yang tersaji di atas meja.

Momen itu langsung memicu beragam reaksi dari netizen. Tak sedikit yang menilai aksi Zulhas terkesan kontras dengan kondisi para korban banjir yang masih berjuang pascabencana. Kritik pun mengalir deras di kolom komentar media sosial.

Menanggapi viralnya video tersebut, pengamat ekonimi dan politik, Heru Subagia memberikan pandangannya. Ia menilai sorotan terhadap Zulhas perlu disikapi secara lebih bijak dan proporsional.

Baca Juga: Bisa Tembus Rp7 Juta, Ini Daftar Gaji PPPK BGN 2025 dari Golongan I hingga XVII

Menurut Heru, kebiasaan merokok cerutu merupakan bagian dari gaya hidup Zulhas yang sudah lama dikenal, terutama saat berada dalam forum pertemuan atau makan bersama kolega dan kader politik.

“Saya tidak dalam posisi membela atau menjadi corong siapa pun. Saya hanya menjelaskan bahwa merokok cerutu itu memang sudah menjadi kebiasaan Pak Zulhas. Itu bukan hal baru,” ujar Heru. Selasa (16/12/2025)

Heru juga menyebut, cerutu yang biasa dikonsumsi Zulhas memiliki kelas tersendiri dan bukan barang murah. Namun, ia menekankan bahwa kebiasaan tersebut merupakan urusan pribadi yang seharusnya tidak langsung dikaitkan dengan empati terhadap korban bencana.

Ia mengingatkan masyarakat agar bisa membedakan mana yang layak dikritik secara substansi, dan mana yang sebaiknya disikapi secara lebih dewasa. Menurutnya, tidak semua hal pribadi pejabat harus ditarik ke ranah serangan personal.

Baca Juga: Pendataan Non-ASN 2025, Harapan Terakhir Honorer yang Gagal Lolos PPPK Penuh Waktu

“Ketika makan bersama tim di sela-sela kegiatan lapangan, itu bagian dari keseharian. Jangan semua hal dijadikan bola liar yang berujung pada fitnah atau serangan politik,” tambahnya.

Heru juga menilai, kritik yang terlalu tajam terhadap hal-hal bersifat personal justru berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan politik.

Meski demikian, sorotan publik terhadap sikap dan gestur pejabat negara saat berada di lokasi bencana tetap menjadi pengingat bahwa sensitivitas sosial sangat penting, terutama di tengah situasi kemanusiaan.***