POJOKSATU.id - Bencana banjir bandan dan longsor di Tapanuli Tengah membuat pasangan suami-istri (Pasutri) Safran Simanulang (53) dan Daraini Hasugian (55) hanya bisa meratap.
Satu-satunya rumah yang dimiliki pasutri warga Batu Gerigis, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, kini nyaris rata dengan tanah.
Rumah pasutri itu bukanlah rumah yang mewah. Tapi rumah semi permanen yang didominasi kayu dan seng.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Tapi di rumah itulah Safran dan Daraini membina rumah tangga sejak awal hingga menemukan kebahagiaan bersama anak-anak dan cucu mereka.
Rumah penuh kenangan 25 tahun di tepi pantai itu kini hilang dalam sekejap diterjang banjir bandang yang dikirim dari aliran sungai.
Daraini mengungkap kesedihan di balik raut wajah yang kini sudah mulai keriput itu.
Baca Juga: Anies Menimbang Banjir Sumatera Layak Bencana Nasional, Pemerintah Bakal Lebih Leluasa Membantu
"Aku ngurus anak-menantu di sini. Mereka tinggal di Medan, menantuku keturunan Tionghoa. Waktu mau melahirkan, dia datang ke sini. Ya saya urus lah, namanya juga sayang sama anak," ucap Daraini, Jumat, 12 Desember 2025.
Menurut Daraini, kenangan-kenangan itu ia simpan sendiri karena sulit bagi dirinya untuk menceritakan semuanya secara utuh kepada orang lain.
Kini, yang ada hanyalah sisa-sisa bangunan yang telah roboh tersapu air.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Sejak bencana 2 minggu lalu, Daraini dan Safran bersama tiga anggota keluarga lainnya menumpang di rumah warga.
Mereka belum tahu kapan bisa kembali membangun hunian yang baru.
"Bisa dibaguskan? Banyak duit kan? Kemana duit dicari? Itu yang dipikirkan," lirih Daraini.
Sebanyak 14 rumah di lingkungan mereka rusak total akibat banjir ini.
Untuk sementara, bantuan yang datang baru berupa bahan makanan dari warga dan donatur pribadi.
"Beras, mie sudah banyak. Tapi yang ngecek perbaikan rumah belum ada," kata Daraini.
Baca Juga: Mahfud MD Ungkap Alasan Publik Tak Terima Cara Pejabat Bersikap, Seperti Anggap Remeh Bencana!
Meski kehilangan banyak hal, pasangan ini tetap menyimpan harapan yang sederhana, dapat memperbaiki rumah yang telah puluhan tahun ditempati.
"Harapannya cuma satu, kapan rezeki itu (untuk membangun kembali rumah) datang," ungkap dia.
Mereka berharap ada perhatian dari pemerintah maupun lembaga kemanusiaan untuk membantu proses pemulihan rumah mereka yang kini hanya tersisa puing-puing.
Baca Juga: Kesaksian Warga Korban Banjir, Presiden Mau Datang, BNPB Buru-buru Pasang Tenda di Kuala Simpang
Sementara itu, Safran mengingat betul malam saat banjir bandang menerjang.
Peristiwa itu terjadi pada malam Rabu, beberapa jam setelah warga mulai ramai melaporkan naiknya air sejak Selasa sore.
"Kami ketiduran. Dibangunin orang, katanya 'bangun, bangun, air sudah tinggi sekali'. Waktu bangun, air sudah sedada," tutur Safran.
Baca Juga: Menteri Keuangan Semprot Bea Cukai! Barang Sitaan Tak Bisa Dijadikan Bantuan Bencana
Mereka buru-buru keluar rumah menuju pos jaga. Di tengah kepanikan, mereka melihat rumah tetangga sudah lebih dulu ambruk.
"Kami keluar jam 3 subuh. Air sedada. Rumah tetangga ambruk duluan, kami terakhir," tambah Safran.
Kata Safran, banjir besar itu datang dari arah Pasar Baru dan seluruh aliran air mengarah ke permukiman mereka.
"Bukan dari pantai, air dari sungai semua ke sini," beber pria yang kesehariannya menangkap ikan itu.
Pasangan Safran Simanulang dan Daraini Hasugian hanyalah satu dari ribuan keluarga yang kehilangan harta benda dalam bencana banjir bandang di Tapanuli Tengah.
Mereka pun tak meminta rumah mewah, hanya kepastian kapan rumah yang mereka diami selama ini bisa kembali diperbaiki dan dibangun.***




