POJOKSATU.ID – Gelombang protes untuk menyelamatkan kawasan Gunung Ciremai kembali menguat. Sejumlah elemen masyarakat Kuningan hari ini, Rabu (10/12/2025), menggelar aksi di depan Kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Desa Manis Lor.
Gerakan tersebut mendapat dukungan penuh dari Presidium Obor Cirtim (Oposisi Berontak Rakyat Cirebon Timur).
“Selamatkan Ciremai dari Penjajah Alam!” ini muncul setelah beredarnya berbagai laporan dan dokumentasi aktivitas ilegal yang diduga dilakukan oknum pengusaha dan dianggap merusak kawasan hutan.
Warga menilai kondisi Ciremai berada pada titik rawan akibat masifnya pembangunan dan alih fungsi lahan.
Dalam seruan aksi yang tersebar di media sosial, masyarakat menilai kerusakan yang terjadi sebagai bentuk “arogansi dan penjajahan alam”, yang dikhawatirkan mengancam kelestarian Ciremai sebagai warisan generasi mendatang.
Presidium Obor Cirtim, Qorib Magelung Sakti, SH, MH, menyatakan dukungan penuh atas aksi masyarakat Kuningan. Ia menilai pembangunan objek wisata dan aktivitas bisnis yang merambah kawasan hijau lereng Ciremai semakin tidak terkendali.
“Alih fungsi lahan yang tidak terkendali mengancam keseimbangan ekologis yang selama ini menjadi kekuatan Kabupaten Kuningan. Banyak pembangunan mengejar komersial, tapi mengorbankan resapan air.
Jika resapan hilang, ancamannya banjir, longsor, hingga turunnya kualitas lingkungan. Ini sudah lampu merah,” ujarnya.
Qorib menjelaskan, Gunung Ciremai bukan hanya ikon keindahan alam, tetapi juga tumpuan kehidupan warga sekitar. Hutan Ciremai berfungsi sebagai rumah bagi flora-fauna endemik serta penyedia air utama bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada pertanian.
Baca Juga: Terungkap! Polisi Akan Periksa Pemilik Gedung Maut Terra Drone setelah 22 Orang Terpanggang
Qorib menyebut kawasan penyangga TNGC kini berada pada kondisi paling rentan akibat degradasi tutupan vegetasi dan pembukaan lahan besar-besaran. Dampaknya disebut sudah terlihat pada meningkatnya potensi bencana ekologis.
“Longsor itu tidak muncul tiba-tiba. Itu akibat kelalaian menjaga hutan. Kayu ditebang, lahan dibabat, tanah gembur, tidak ada penahan. Ini bom waktu ekologis,” tegas Wakil Ketua IKA UGJ tersebut.
Ia juga mengungkapkan korelasi langsung antara kerusakan hulu dan seringnya banjir bandang di wilayah hilir. Penebangan liar membuat hutan kehilangan fungsi sebagai sabuk pengaman, sehingga struktur tanah menjadi labil.
Selain itu, perubahan bentang alam menjadi perkebunan monokultur dan destinasi wisata disebut telah mengurangi kapasitas tanah menyerap air.
“Run-off meningkat saat hujan dan menyebabkan banjir, tapi cadangan air tanah tidak terisi. Dampaknya, kemarau panjang memicu kekeringan dan matinya mata air,” jelas Qorib yang juga seorang advokat muda di Cirebon.
Baca Juga: Drama Kepemimpinan PBNU Memuncak! Zulfa Ditunjuk, Gus Yahya Menolak
Sebagai alumni Mapala Gunati UGJ, Qorib menyerukan agar pemerintah daerah dan pemangku kepentingan tidak lagi bersikap abai. Ia menilai masyarakat berhak menuntut moratorium perusakan hutan dan percepatan reboisasi.
“Saatnya memulihkan kembali penyangga ekologis Ciremai. Ini bukan hanya urusan lingkungan. Ini tentang masa depan masyarakat,” ujarnya.
Aksi Selamatkan Ciremai menjadi bentuk desakan agar semua pihak menghentikan praktik yang merusak akar kehidupan di wilayah kaki Gunung Ciremai dan mengembalikan fungsi hutan sebagai penyangga lingkungan.***




