POJOKSATU.ID - Konsep Sekolah Rakyat komitmen kuat untuk menjangkau anak-anak yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan formal.
Hal ini tercermin dalam mekanisme rekrutmen peserta didik yang akan memanfaatkan data pokok pendidikan (dapodik) dan diintegrasikan dengan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Abdul Mu'ti, menjelaskan bahwa proses penerimaan siswa di Sekolah Rakyat akan mengedepankan data yang sudah ada untuk mengidentifikasi calon peserta didik yang paling membutuhkan.
Sementara itu untuk proses rekrutmen peserta didik akan melalui dapodik dengan diintegrasikan dengan DTKSN.
Baca Juga: Kepala Sekolah dalam Sekolah Rakyat Bakal Jadi KS SD, SMP, dan SMA Sekaligus!
Lebih lanjut, Abdul Mu'ti mengungkapkan strategi spesifik dalam menjaring siswa.
Jika mereka yang masuk desil 1 dan desil 2 tidak terdata pada dapodik berarti mereka adalah anak yang putus sekolah.
Sehingga tidak akan mengambil peserta didik dari mereka yang sudah bersekolah.
Penjelasan ini mengindikasikan bahwa Sekolah Rakyat memiliki fokus utama pada anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi paling rentan (desil 1 dan 2 dalam DTKS) yang belum terdata dalam sistem pendidikan formal (dapodik).
Baca Juga: Rekrutmen Guru dan Kepala Sekolah 'Sekolah Rakyat' Bakal Kontrak Individu dan Fleksibilitas?
Dengan kata lain, prioritas utama penerimaan adalah anak-anak yang putus sekolah atau bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali.
Integrasi antara dapodik dan DTKS menjadi kunci dalam proses seleksi ini.
Dapodik akan memberikan informasi mengenai siswa yang saat ini aktif bersekolah, sementara DTKS akan memberikan data mengenai keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah.
Dengan membandingkan kedua data ini, Kemendikbudristek dapat mengidentifikasi anak-anak dari keluarga desil 1 dan 2 yang namanya tidak tercantum dalam dapodik, yang mengindikasikan status mereka sebagai anak putus sekolah.
Kebijakan ini menunjukkan komitmen Sekolah Rakyat untuk menjadi wadah pendidikan bagi mereka yang paling membutuhkan uluran tangan.
Dengan tidak mengambil siswa yang sudah terdaftar di sekolah lain, Sekolah Rakyat secara tegas memprioritaskan anak-anak yang selama ini terabaikan dan memberikan mereka kesempatan kedua untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Langkah ini juga sejalan dengan semangat inklusivitas dalam pendidikan, di mana setiap anak berhak mendapatkan akses ke ilmu pengetahuan tanpa terkecuali.
Dengan memanfaatkan data yang akurat dan terintegrasi, proses rekrutmen siswa Sekolah Rakyat diharapkan dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.
Baca Juga: Jangan Cari Tombol Unduh! Begini Cara Dapat SKTPG Setelah Muncul di Info GTK
Serta menjangkau anak-anak putus sekolah dan memberikan mereka harapan baru melalui pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Implementasi kebijakan rekrutmen yang berbasis data ini menjadi langkah krusial dalam mewujudkan visi Sekolah Rakyat.
Sekolah Rakyat sebagai lembaga pendidikan yang berkeadilan dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa, terutama mereka yang berasal dari lapisan masyarakat paling rentan.***




