POJOKSATU.Id - Warga Situbondo dihebohkan oleh kejadian menggemparkan di Situbondo, Jawa Timur, sebelas siswa SD terlibat dalam tindakan menyayat tangan mereka.

Tindakan menyayat tangan yang tragis ini didorong oleh tren kontroversial di platform Tiktok yang dikenal sebagai Tren Barcode Korea.

Fenomena menyayat tangan atau Barcode Korea ini melibatkan siswa-siswi yang mencoba membentuk barcode atau kode batang di kulit mereka dengan harapan mempercantik tangan mereka.

Baca Juga: Kiai Muda Ganjar Adakan Cek Kesehatan Gratis di Situbondo, Jawa Timur

Para pelaku Barcode Korea menggunakan GDA Stik, yang diperoleh dari pedagang keliling di sekitar sekolah, untuk melukai diri mereka sendiri.

Para guru di sekolah tersebut dengan cepat menyadari kejadian ini setelah menemukan seorang murid dengan luka sayatan parah di tangannya karena menyayat tangannya sendiri.

Tindakan menyayat tangan atau Barcode Korea ini menyebabkan sekolah melakukan penyelidikan menyeluruh di seluruh kelas dan menemukan bahwa total 11 siswa terlibat dalam tren yang berbahaya ini.

Namun, fenomena atau tren Barcode Korea ini tidak terbatas hanya pada Situbondo.

Pada bulan Maret 2023, kejadian serupa terjadi di Bengkulu Utara, 52 siswi juga terlibat dalam tindakan yang sama yakni dengan menyayat tangannya sendiri.

Baca Juga: Srikandi Ganjar Beri Pelatihan Public Speaking bagi Perempuan Muda di Situbondo

Kedua insiden akibat tren Barcode Korea ini menciptakan kekhawatiran besar di kalangan masyarakat dan menyulut perdebatan tentang dampak negatif dari tren viral di media sosial, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

Pihak sekolah segera mengambil tindakan dengan memberikan pembinaan kepada seluruh siswa-siswi dan melibatkan orang tua mereka.

Dalam upaya pencegahan mengikuti arus tren menyayat tangan atau Barcode Korea ini.

Kepala sekolah melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah kesehatan mental di kalangan siswa.

Namun, respons terhadap kejadian tragedi menyayat tangan ini juga mencerminkan perubahan dalam kebijakan media sosial.

Hastag #BarcodeKorea yang digunakan oleh para pelaku sekarang tidak lagi dapat diakses di Tiktok.

Baca Juga: Ini Pengakuan Remaja Situbondo yang Hilang di Gunung Argopuro, Serasa Dibawa 4 Mahluk Halus 

Sebagai gantinya, pesan dalam Bahasa Inggris muncul, mengajak siapa pun yang melihat orang dengan masalah mental untuk membantu melaporkannya.

Kedua kejadian ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat dan orang tua tentang perlunya pemantauan yang lebih ketat terhadap aktivitas online anak-anak mereka.

Selain itu, mereka juga memicu diskusi lebih lanjut tentang bagaimana media sosial dapat mempengaruhi perilaku dan kesehatan mental anak-anak.

Serta perlunya pendekatan yang holistik untuk melindungi generasi muda dari pengaruh negatif di dunia digital yang terus berkembang pesat.

"Di masa SMP saya pada tahun 2000, tren ini juga sudah ada. Ternyata, fenomena ini berulang seperti mode fashion," catat akun @rumahnay.

"Sama seperti jaman SMP saya pada tahun 2015/2016," tulis akun @mamand.

"Jaman SMA saya, kira-kira tahun 1994/1995, banyak teman saya yang juga melakukan hal serupa," tambah akun @bagyowah.***