POJOKSATU.ID - Nama sebuah kecamatan kadang menyimpan cerita yang tak banyak diketahui.
Citeureup, misalnya, punya sejarah yang filosofis dan kaya makna.
Asal-usulnya sederhana, “Ci” berarti air, sementara “Teureup” diambil dari nama pohon yang tumbuh subur di wilayah itu.
Baca Juga: Grogi Level Dewa! Mobil Ujian SIM di Malang Terguling Gara-Gara Salah Injak Pedal
Jadi, Citeureup berarti air yang mengalir dekat pohon teureup.
Pohon teureup sendiri bukan pohon biasa.
Getahnya digunakan untuk berburu, buahnya dimakan, dan kulit batangnya bisa dijadikan tas koja, jadi tanda bahwa wilayah ini subur, basah, dan penuh kehidupan.
Baca Juga: Heboh! Lahan Adat Hilang Digerus Tambang, Gubernur Malut Tawarkan Ganti 1 Hektare
Menurut cerita warga, dahulu ada pohon teureup raksasa di tepi mata air yang jernih bak kaca.
Warga kerap mengambil air di sana, dan lokasi pohon ini kemudian menjadi patokan wilayah yang akhirnya disebut Citeureup.
Seiring zaman Belanda, Citeureup mulai ramai.
Baca Juga: Mengapa Harus Ada Internet Rakyat? Publik Pertanyakan Peran Telkomsel yang Sudah Menjangkau 3T
Banyak perkemahan dibuka, dan karena posisinya strategis di jalur Bogor–Jakarta, daerah ini berkembang sebagai pusat aktivitas dan perdagangan.
Setelah Indonesia merdeka, Citeureup terus tumbuh hingga resmi menjadi kecamatan sendiri, kini membawahi 14 desa dengan pertumbuhan penduduk yang pesat.
Selain perkembangan ekonomi, kearifan lokal dan budaya tetap terjaga.
Di sini ada pencak silat, kuliner khas Sunda, hingga situs-situs tua dan hutan konservasi.
Semua itu menjadi bukti bahwa Citeureup bisa berkembang tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Baca Juga: ASN Jabar Wajib Tahu! Hak Cuti Baru dari Dedi Mulyadi, Libur Ultah Ibu hingga Rawat Orang Tua Sakit
Citeureup bukan sekadar wilayah administratif.
Ia adalah contoh daerah yang memadukan kemajuan dan pelestarian warisan sejarah, membentuk sisi-sisi budaya dan identitas Kabupaten Bogor yang kaya.***

