POJOKSATU.id - Suara tentang demokrasi disampaikan seniman dalam Pameran Seni Rupa 'Aku Akan Memilih' di Gedung Eks Bakorwil pada 9 hingga 18 Desember 2023.

Karya-karya ini memang sengaja dihadirkan seniman sebagai bentuk partisipasinya dalam perhelatan demokrasi di Indonesia, yaitu Pemilihan Calon Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres).

Tema ini memang jarang dihadirkan dalam bentuk pameran seni rupa. Meski secara individu, karya-karya yang berbicara seputar demokrasi banyak menjadi perhatian seniman.

Seni dalam berbagai bentuknya, memiliki kemampuan untuk merangkul keragaman pandangan dan ekspresi. Dalam konteks demokrasi, seni bukan hanya cermin, tetapi juga katalisator perubahan.

Baca Juga: Catatan Pameran Seni Rupa AAM Bogor, Ketika Seniman Memilih, Caleg dan Perangkat Demokrasi Layaknya Mendekat

Sementara demokrasi memberikan panggung yang ideal bagi beragam suara untuk bersatu dan berpartisipasi.

Keduanya adalah pilar utama yang membentuk masyarakat yang dinamis, inklusif, dan reflektif.

Itu sebabnya, pada Sabtu 18 Desember 2023 pukul 13.30 WIB, para seniman menggelar diskusi 'Dari Apatis Menjadi Kritis'.

Dalam konteks Indonesia yang menganut demokrasi konstitusional, kedaulatan rakyat dimanifestasikan dalam pemilihan parlemen dan presiden setiap lima tahun.

Menurut Economist Intelligence Unit (EIU), kondisi demokrasi Indonesia pada tahun 2023 masih di atas rata-rata global, meskipun relatif belum matang.

Indonesia dinilai relatif mumpuni pada dimensi hak politik, khususnya proses elektoral.

Baca Juga: Pameran Seni Rupa Aku Akan Memilih di Kota Bogor, Ruang Seni di Tengah Pesta Demokrasi

Cerminan itu dilihat dari beberapa indikasi seperti kebebasan atau persamaan, kedaulatan rakyat serta pemerintahan yang terbuka dan bertanggung jawab.

Ketika kebebasan sipil, termasuk kebebasan berpendapat, berserikat, dan berkumpul mendapat tekanan. Dan regresi demokrasi cenderung terjadi akibat pembatasan institusi negara, banyak rakyat memilih bersikap apatis.

Apatisme politik juga dapat muncul karena beberapa faktor, termasuk ketidakpuasan terhadap sistem politik, kurangnya keyakinan bahwa partisipasi dapat membuat perubahan, atau rasa putus asa terhadap perwakilan politik.

Faktor-faktor lain dapat aja disebabkan oleh korupsi, ketidaksetaraan, atau kegagalan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Seniman Bogor Yana WS Pajang Es Krim di Pameran Seni Rupa Astra “Indonesian Dream”, Baca Masa Depan Indonesia

Mungkin stabilitas politik akan sangat dijaga karena saat ini seluruh partai berkepentingan menuju Pemilu 2024.

Namun di akar rumput kerap diwarnai situasi saling berbalas pantun, antara pihak pro dan mereka yang tidak sepandangan.

Sayangnya, perdebatan itu kadang lebih banyak diisi oleh isu-isu di luar politik, seperti ujaran kebencian dan toleransi.

Masyarakat lalu mulai apatis dengan isu politik mainstream yang akhirnya hanya menghasilkan perpecahan diantara masyarakat itu sendiri.

Ada juga masyarakat yang memilih jalannya sendiri, menghibur diri dari tekanan ekonomi yang sedang mereka hadapi. Lalu lama-lama apatis juga.

Baca Juga: Sosialisasikan Ganjar di Kabupaten Bandung, Ganjartivity Gelar Pertunjukan Seni Tradisional

Politik dan seni sebetulnya saling berkaitan. Apalagi, politik dipandang sebagai sebuah cara untuk menuju perubahan yang lebih baik, bukan sekedar meraih kekuasaan.

Meskipun tidak secara eksplisit disebut sebagai bentuk politik, peran seniman dalam pertempuran selalu memberikan dorongan semangat kepada para pejuang di medan pertempuran.

Seniman berperan melalui karya-karya seperti pembuatan lagu-lagu perjuangan, lukisan di atas kanvas, puisi, dan berbagai ekspresi seni lainnya.

Ketika para pejuang mengangkat senjata dalam perlawanan terhadap penjajahan, seniman pun turut meresapi dan mengabadikan cerita para gerilyawan entah melalui sketsa atau lukisan.

Baca Juga: Museum Macan di Jakarta Suguhkan Karya Seni Menarik dan Estetik yang Wajib Dikunjungi

Sama halnya, terasa juga getaran seni rakyat, seperti dalam pertunjukan ketoprak atau ludruk yang merakyat kala itu.

Pada masa sekitar Proklamasi Republik Indonesia tahun 1945, seniman-seniman terlibat aktif dalam memelihara semangat perjuangan untuk kemerdekaan.

Mereka menciptakan poster, grafiti, mural, dan juga grafis (ukiran kayu) yang berisi ajakan untuk tetap mempertahankan persatuan, menjaga kemerdekaan, serta tetap waspada terhadap upaya asing yang berkeinginan untuk menguasai tanah air ini.

Karya-karya mereka tersebar di sepanjang tembok kota, gerbong kereta, bangunan-bangunan, atau gardu jaga yang mudah dilihat oleh warga.

Baca Juga: Pernyataan Anies Baswedan Tentang Penurunan Indeks Demokrasi Indonesia Bertentangan dengan Data BPS

Salah satu bentuk kerjasama tersebut terwujud dalam satu poster monumental yang berjudul "Boeng, Ajo Boeng" (1945). Poster ini menampilkan seorang pria yang memutuskan rantai yang mengikat tangannya dengan penuh tekad.

Salah satu tangannya menggenggam bendera merah putih, sementara mulutnya terbuka lebar dalam teriakan yang menggelegar. Di bagian bawah poster tertera tulisan yang sama, yaitu "Boeng, Ajo Boeng".

Gagasan untuk menciptakan poster ini berasal dari Soekarno, dengan pelukis Dullah sebagai model dan Affandi yang bertanggung jawab menggambarnya.

Frasa "Boeng, ajo boeng" dipersembahkan oleh penyair Chairil Anwar atas permintaan pelukis Soedjojono. Dengan demikian, poster ini merupakan hasil dari kerja sama kolaboratif para seniman dan politikus kawakan seperti Bung Karno.

Baca Juga: Seni Melukis di World Cerebral Palsy Day Kota Bogor sebagai Alat Kreatif dalam Mendukung Kesehatan Mental

Dalam semangat yang sama dengan Pameran Seni Rupa 'Aku Akan Memilih' di Bogor, Nasirun dan Sujiwo Tejo belum lama ini juga menggelar pameran yang berjudul "Presiden Alternatif: Doa Pemilu Damai dan Bahagia" yang diselenggarakan di Bentara Budaya Jakarta pada tanggal 31 Agustus hingga 9 September 2023.

Pameran itu juga memiliki tujuan untuk mengajak bangsa Indonesia untuk membangun demokrasi yang sehat.

Rakyat didorong untuk jernih dalam memilih dan menggunakan hak suara sehinga menghasilkan pemimpin sesuai harapan.

Seniman dalam catatan sejarah juga pernah bersilang pendapat dalam arus politik, sehingga pernah mempersoalkan haluan seniman. Mereka yang tidak memiliki ketegasan sikap politik disebut sebagai seniman gelandangan.

Baca Juga: Budi Dalton, Trie Utami, Eddi Brokoli Nongki Bareng Ganjar : Bahas Strategi Kembangkan Seni dan Budaya

Situasi itu juga direspon oleh para penggiat sastra yang cenderung tidak setuju dengan
slogan dan istilah tersebut.

Ini karena persoalan haluan seniman seolah mengisyaratkan bahwa politik dijadikan aspek utama dari segala aspek yang ada di Indonesia.

Namun situasi itu ternyata mendorong prakarsa baru, yaitu terjadinya konferensi kebudayaan sebagai wadah demokrasi seniman yang hingga kini dapat dipelihara sehingga bisa menghasilkan kelembagaan seni, termasuk diantaranya Dewan Kesenian.

Seniman juga mengalami perubahan pandangan, mereka tidak hanya mau menjadi penonton politik. Mereka juga tidak mau ada luka dalam demokrasi.

“Jika politik sudah menjadi liar tanpa kendali, maka seni harus turun gunung untuk menjinakkannya.”

Hingga kini seniman tetap lahir dari masyarakat, karyanya lahir dari keadaan masyarakat yang sedang bergolak. Suaranya lantang dalam karya-karya yang bermakna demokrasi. Apakah tuan bisa mendengarnya? ***