POJOKSATU.id - Kartu Kredit Indonesia (KKI) mulai menunjukkan geliat penggunaan setelah diluncurkan pada 17 Agustus 2026.

Bank Indonesia (BI) mencatat puluhan ribu kartu telah diterbitkan perbankan, meski sebagian masih belum digunakan untuk bertransaksi.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menyebut hingga 23 September 2026 sudah ada 32.457 KKI yang diterbitkan.

Dari jumlah tersebut, hampir 8.000 kartu telah aktif digunakan untuk transaksi.

Baca Juga: Kenali Pilihan Kartu Kredit DBS yang Sesuai dengan Kebutuhanmu!

"Sampai saat ini telah menerbitkan 32.457 kartu kredit yang telah diterbitkan. Dan yang aktif digunakan ini sudah terbit tapi belum digunakan. Tapi ini sekarang yang menggunakan adalah hampir 8.000 aktif bertransaksi," ujar Filianingsih dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu 23 September 2026.

Saat ini, tujuh dari delapan bank yang menjadi first mover telah menerbitkan KKI.

BCA menjadi bank dengan jumlah pengguna terbesar, sekitar 28 ribu pengguna, kemudian BRI dan Permata Bank yang masing-masing berada di kisaran 1.500 pengguna.

Puluhan Ribu Transaksi Sudah Berjalan
Penggunaan KKI tersebut telah menghasilkan sekitar 38.800 transaksi dengan nilai total mencapai Rp18,7 miliar.

Baca Juga: Strategi Cerdas Mengelola Kartu Kredit Dalam Belanja Kebutuhan Ramadhan Hemat!

Jika dirata-ratakan, nilai transaksi atau ticket size KKI berada di sekitar Rp482 ribu untuk setiap transaksi.

Pada tahap awal, BI memang merancang KKI sebagai instrumen pembayaran berbasis kredit yang dapat digunakan melalui QRIS.

Konsepnya sedikit berbeda dari QRIS yang menggunakan saldo tabungan atau uang elektronik.

Jika sumber dananya berasal dari rekening atau uang elektronik, saldo pengguna akan langsung berkurang ketika transaksi dilakukan.

Baca Juga: Menkes Sentil Keras Data PBI BPJS, Pemilik Kartu Kredit Rp20 Juta Dinilai Tak Layak Disubsidi

Sementara melalui KKI, sumber dana transaksi berasal dari fasilitas kredit.

"Kalau sekarang pakai QRIS kan langsung dari sumber dananya tabungan. Langsung tabungannya berkurang atau uang elektronik yang berkurang juga. Nah ini bisa pakai kartu kredit, kartu kredit digital Indonesia," jelas Filianingsih.

Dengan skema tersebut, pemegang KKI dapat melakukan pembayaran ketika tagihan jatuh tempo, sekitar satu bulan setelah transaksi.

Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Tagihan yang dibayarkan secara penuh tidak dikenakan bunga.

Baca Juga: Penting, Ini 5 Panduan Memilih Kartu Kredit Pertama

Sebaliknya, pembayaran yang tidak dilunasi akan dikenakan bunga sesuai ketentuan yang berlaku.

Tak Berhenti di QRIS
Pengembangan KKI juga belum selesai pada penggunaan melalui QRIS.

BI menyiapkan tiga tahapan pengembangan. Pada tahap pertama, KKI berfungsi sebagai kartu kredit digital dengan QRIS sebagai kanal pembayarannya.

Tahap berikutnya akan memperluas penggunaan KKI untuk transaksi online, termasuk pembayaran di berbagai platform e-commerce.

"Ini ada tiga tahap. Tahap yang pertama ini adalah kartu kredit digital yang merupakan sumber dana dari QRIS. Nanti tahap berikutnya (kedua) adalah kartu kredit digital yang bisa digunakan untuk pembayaran secara online," ujar Filianingsih.

Baca Juga: Camat Medan Maimun Tersandung Judol, Kartu Kredit Pemda Disalahgunakan hingga Rp1,2 Miliar

Tahap ketiga akan membawa KKI ke bentuk kartu fisik.

Pengembangan tersebut diharapkan membuat fungsi KKI semakin luas, termasuk sebagai consumption buffer atau penyangga kebutuhan konsumsi masyarakat.

BI memberikan gambaran sederhana. KKI dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan sementara ketika dana yang biasa diterima belum masuk.

Setelah dana tersedia, tagihan kartu dapat dibayar secara penuh.

Transaksi Mata Uang Lokal Juga Meningkat
Selain perkembangan KKI, BI mencatat peningkatan transaksi lintas negara menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT).

Baca Juga: Lebih Mudah, Limit Kartu Kredit BRI Bisa Dicairkan ke Rekening via Loan On App BRImo

Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono mengatakan nilai transaksi LCT hingga Agustus 2026 telah mencapai US$49,4 miliar ekuivalen.

Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan total transaksi sepanjang 2025 yang mencapai US$25,7 miliar ekuivalen.

"Perkembangan LCT sangat baik. Tahun 2025 total transaksi LCT mencapai US$25,7 miliar ekuivalen. Sementara hingga Agustus 2026 sudah mencapai US$49,4 miliar ekuivalen," kata Thomas dalam konferensi pers hasil RDG BI, Rabu 23 September 2026.

Saat ini, kerja sama LCT Indonesia telah mencakup China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab (UEA), dan Singapura.

Baca Juga: Lebih Praktis! Kini Ajukan Kartu Kredit BRI Easy Card Bisa Lewat Website Resmi

Melalui skema tersebut, transaksi dapat dilakukan menggunakan mata uang lokal masing-masing negara tanpa harus melalui dolar Amerika Serikat.

BI berharap cara ini dapat membantu menekan biaya transaksi sekaligus mengurangi risiko akibat perubahan nilai tukar.

Kerja sama serupa juga tengah dikembangkan dengan India, Filipina, dan Hong Kong.***