POJOKSATU.id - Tekanan terhadap harga emas belum mereda.
Dalam beberapa hari terakhir, logam mulia ini terus mengalami pelemahan hingga akhirnya menyentuh level terendah dalam satu bulan terakhir.
Data perdagangan menunjukkan harga emas ditutup di US$ 4.541,75 per troy ons pada Rabu, 29 April 2026, turun 1,14%.
Baca Juga: 8 Cara Menghilangkan Bau Sepatu agar Tetap Segar dan Nyaman Dipakai
Penurunan ini memperpanjang tren negatif selama tiga hari berturut-turut dengan total koreksi mencapai 3,55%.
Meski sempat naik tipis ke US$ 4.551,59 pada Kamis pagi, pergerakannya masih terbilang terbatas.
Salah satu pemicu utama tekanan ini datang dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang memutuskan menahan suku bunga.
Baca Juga: 9 Kepala Desa Antar Waktu di Kabupaten Bandung Dilantik, Bupati Minta Langsung Tancap Gas
Meski keputusan ini sudah diperkirakan pasar, dinamika di dalamnya justru memunculkan kekhawatiran baru.
Keputusan tersebut menjadi salah satu yang paling terpecah sejak 1992.
Beberapa pejabat bahkan menolak pernyataan resmi karena tidak ingin ada sinyal pelonggaran kebijakan.
Baca Juga: Ini Alasan Kereta Tak Bisa Berhenti Mendadak
Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin yakin bahwa pemangkasan suku bunga belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Situasi ini berdampak langsung pada pergerakan emas.
Trader logam independen Tai Wong mengomentari hal ini.
"Perbedaan suara dari pejabat yang ingin menghapus bias pelonggaran dalam pernyataan kebijakan memberi tekanan pada harga emas," ungkapnya.
Baca Juga: Honor Guru Honorer Kota Bandung Dirapel 4 Bulan, Wali Kota Pastikan Cair Hari Ini
Tak hanya itu, kekhawatiran terhadap inflasi global juga kembali mencuat.
Harga minyak dunia yang bertahan di atas US$100 per barel, dipicu konflik di Timur Tengah, ikut menambah tekanan terhadap pasar.
Analis dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menilai kondisi ini membuat prospek emas belum menjanjikan.
Baca Juga: 33 SMA dan SMK di Cirebon Kuningan Terkendala Status Lahan, DPRD Jabar Dorong Tukar Guling Aset Desa
"Hanya Donald Trump dan Iran yang bisa menyelamatkan pasar, tetapi kedua pihak belum juga mendekati kesepakatan dan harga minyak mencerminkan hal itu. Dalam kondisi ini, prospek emas saat ini tidak terlihat terlalu cerah," ungkapnya.
Menariknya, di tengah tekanan harga, permintaan emas global justru mengalami peningkatan.
Dewan Emas Dunia mencatat kenaikan sebesar 2% secara tahunan pada kuartal pertama 2026.
Lonjakan ini didorong oleh pembelian emas batangan, koin, serta aksi akumulasi oleh bank sentral.
Baca Juga: Apa Itu Sporadik Tanah? Begini Cara Mengurusnya agar Aman Secara Hukum
Namun, permintaan perhiasan mengalami penurunan cukup dalam hingga 23%, menandakan adanya pergeseran preferensi pasar dari konsumsi ke investasi.
Pergerakan emas memang tak pernah lepas dari dinamika global.
Di tengah tekanan dan ketidakpastian, pasar selalu menyimpan cerita yang tak terduga.
Bagi investor, ini bukan sekadar soal naik atau turun, tapi bagaimana membaca arah dan mengambil langkah dengan penuh pertimbangan.***


