POJOKSATU.id - Aktivitas ekonomi selama bulan Ramadan di Ibu Kota menunjukkan geliat yang signifikan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat nilai transaksi telah menembus Rp21 triliun hingga menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.
Peningkatan transaksi ini diperkirakan belum mencapai puncaknya.
Pemprov DKI Jakarta optimistis angka tersebut masih akan terus bertambah dalam beberapa hari ke pasca lebaran, bahkan berpotensi menyentuh kisaran Rp23 hingga Rp24 triliun.
Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Suharini Eliawati, menjelaskan lonjakan ini tidak terjadi secara kebetulan.
Baca Juga: Rudal Iran Jatuh Dekat Masjid Al Aqsa Saat Idulfitri, Picu Sorotan Dunia
Menurutnya, berbagai program promosi yang digelar sepanjang Ramadan menjadi salah satu pendorong utama meningkatnya belanja masyarakat.
Salah satu program yang berkontribusi besar adalah lomba diskon yang melibatkan pusat perbelanjaan dan sektor perhotelan.
Kegiatan ini berlangsung sejak 4 Maret dan dijadwalkan berakhir pada 31 Maret 2026.
Namun demikian, bukan hanya diskon yang menarik minat warga.
Pemprov DKI juga menghadirkan beragam rangkaian acara dalam Jakarta Ramadan Festival yang digelar sepanjang bulan suci hingga perayaan Idulfitri.
Baca Juga: H+1 Lebaran, BMKG Prediksi Jakarta Diguyur Hujan Siang Hari
Festival ini menghadirkan berbagai kegiatan mulai dari atraksi budaya, pertunjukan seni, hingga kuliner khas Ramadan.
Beberapa agenda yang mencuri perhatian antara lain Jakarta Light Festival, Harmoni Ramadan Jakarta, Rebana Ramadan Colossal, hingga Jakarta Festive Wonder.
Di sisi lain, program “Mudik ke Jakarta” yang melibatkan hotel, pusat perbelanjaan, kawasan wisata, serta moda transportasi juga ikut mendorong pergerakan ekonomi.
Kolaborasi lintas sektor ini dinilai efektif menciptakan daya tarik sekaligus memperluas dampak ekonomi.
Menariknya, kegiatan seperti Hijab Fashion Show juga turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan transaksi, khususnya di sektor fesyen yang memang mengalami lonjakan permintaan menjelang Lebaran.
Menurut Suharini, momentum Ramadan dan Idulfitri menjadi periode krusial dalam mendorong konsumsi masyarakat.
Peningkatan belanja ini diharapkan tidak hanya bersifat musiman, tetapi juga mampu memperkuat daya beli dalam jangka panjang.
Dengan tren positif yang masih berlanjut, Jakarta diproyeksikan akan mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat selama periode Ramadan hingga Lebaran.
Pemerintah berharap momentum ini dapat terus dijaga sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi di Ibu Kota.***


