POJOKSATU.id - Otoritas Jasa Keuangan mencatat kredit macet dari kalangan Generasi Z dan juga Milenial mencapai 37,17 persen. Data Juli 2024 itu menunjukkan rentang usia 19 sampai 34 tahun wanprestasi dalam membayar cicilan 90 hari atau 3 bulan.
Mereka terjebak dalam pinjaman pada platform fintech peer-to-peer (P2P) dan juga pinjaman online (pinjol). OJK pun menghubungkan hal tersebut dengan tingkat literasi Generasi Z yang masih rendah.
Data OJK menunjukkan tingkat literasi keuangan Generasi Z masih beradap ada persentase 51,70. Artinya, mayoritas dari mereka yang masih belum paham dalam mengelola uang.
Baca Juga: Gubernur Dedi Mulyadi Desak OJK Jabar Lebih Tegas Berantas Pinjol Ilegal
OJK pun membuat kampanye bertajuk Like-It! atau Literasi Keuangan Indonesia Terdepan pada November 2024. Hal itu sebagai ikhtiar agar Generasi Z cerdas mengatur keuangan, termasuk berinvestasi guna membangun ketahanan finansial.
Generasi Z juga menjadi perhatian Maybank, salah satu bank yang berkomitmen dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia. Maybank merealisasikan hal tersebut ke dalam aplikasi bernama M2U ID App.
Aplikasi ini mengusung 360 Digital Wealth yang berarti segala pengaturan keuangan bisa menggunakan aplikasi tersebut. Hingga kini, ada berbagai fitur yang tersedia untuk beragam portofolio finansial, pembayaran, pembelian, pinjaman, dan lainnya.
Salah satu yang menarik adalah investasi emas lewat Tabungan Emas Pegadaian yang hadir pada aplikasi ini. Karena, nasabah dapat berinvestasi mulai dari Rp10.000 saja.
Head of Digital Banking Maybank Indonesia Charles Budiman kepada pojoksatu.id menjelaskan Maybank memprioritaskan dalam menghadirkan layanan keuangan digital dalam M2U ID App kepada generasi muda, termasuk Generasi Z.
Salah satu cara untuk membangun kekayaan adalah tujuan keuangan yang jelas dan bagaimana cara dalam mencapai tujuan tersebut. Fitur ini juga dihadirkan dalam aplikasi unggulan bank yang telah eksis di Indonesia sejak akhir 1959.
"Kami memiliki fitur goal-based investing di mana fitur ini dapat membaca rekomendasi bulanan atau produk investasi yang sesuai profil risiko dan tujuan keuangan nasabah seperti seberapa lama dan jangka waktu tabungan berjangka," ucap Charles, belum lama ini.
Seiring dengan perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) dalam banyak aspek kehidupan, Charles mengatakan tidak menutup kemungkinan teknologi tersebut akan hadir dalam M2U ID App.
Baca Juga: BRI Peduli Sambut Nyepi: Ribuan Paket Sembako dan Renovasi Pura untuk Warga Desa Adat Soka
"Sehingga bisa memberikan insight dan rekomendasi yang dipersonalisasi berdasarkan perilaku transaksi dan kebiasaan pengguna. Kami percaya bahwa pendekatan berbasis data dan AI dapat menjadi langkah strategis dalam memberdayakan generasi muda untuk lebih melek finansial dan mandiri secara ekonomi," tutur pecinta olahraga lari ini.
Charles menambahkan pengembangan M2U ID App terus-menerus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keuangan nasabah dari berbagai kalangan.
"Kami terus melakukan inovasi-inovasi dalam fitur-fitur M2U ID App untuk memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi keuangan," kata dia.
Bagi Generasi Z yang merasa boros dalam transaksi digital, aplikasi M2U ID juga menyediakan fitur limit dalam QR Pay. Karena, sering kali kemudahan bertransaksi digital membuat seseorang menjadi impulsif dalam berbelanja.
"Pengguna dapat menetapkan sendiri batas maksimal transaksi harian maupun per transaksi. Fitur ini menjadi pengingat sekaligus kontrol tambahan agar pengeluaran tetap sesuai rencana. Dengan begitu, pengguna tetap nyaman bertransaksi tanpa khawatir belanja berlebihan," demikian kata Charles.***


