POJOKSATU.id - Pada hari ini, Jumat (5/4/2024) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berisiko melemah hingga dekati level Rp16.000.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mengakhiri perdagangan dengan kenaikan sebesar 0,17% atau 27 poin ke posisi Rp15.892 per dolar AS. Adapun indeks dolar tercatat sebesar 103,870 atau melemah 0,12%.
Sementara itu, Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah.
Baca Juga: Filosofi Dodol Betawi dan Cara Pembuatannya yang Wajib Ekstra Sabar
Dia memperkirakan, nilai tukar rupiah akan fluktuatif dan ditutup melemah ke level Rp 15.880 hingga Rp 15.930 dalam perdagangan Jumat, 5 April 2024.
Pada akhir perdagangan Kamis, 4 April 2024, rupiah ditutup menguat 27 poin ke level Rp 15.892 per dolar AS setelah sebelumnya melemah 15 poin.
Ibrahim menyebut, posisi cadangan devisa Indonesia pada Maret 2024 diperkirakan makin menciut.
Cadangan devisa per Maret 2024 diperkirakan pada level US$ 143 miliar. Posisi ini turun jika dibandingkan dengan cadangan devisa pada Februari 2024 yang mencapai US$ 144 miliar.
Turunnya cadangan devisa tersebut, kata Ibrahim akibat ekspor komoditas utama RI yang masih melambat.
Selain itu, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah mendekati Rp 16 ribu per dolar AS juga menjadi sentimen.
Baca Juga: Rampai Nusantara Sebut Tudingan Hasto pada Jokowi Mau Rebut Partai hanya Karangan Belaka
Begini kata Pengamat
Pengamat Pasar Uang, Ariston Tjendra menyebut jika level pelemahan rupiah kali ini sudah mencatatkan yang terendah sejak Oktober 2023 berdasarkan acuan dari tradingview.
Dia menjelaskan, kurs rupiah terhadap dolar AS digoyang oleh situasi eksternal yaitu eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah karena Israel-Palestina serta eskalasi di Ukraina-Rusia.
Dikatakannya, ketegangan geopolitik, bisa merembet ke perekonomian global yaitu menimbulkan gangguan suplai sehingga meningkatkan inflasi dan memicu pelambatan ekonomi global.
Sentimen dari dalam negeri, defisit neraca transaksi berjalan yang dialami saat ini menjadi penekan rupiah karena kebutuhan dolar meninggi.
Isu kenaikan inflasi dan prospek inflasi ke depan juga bisa menjadi penekan rupiah karena inflasi tersebut akan menurunkan daya beli dan melambatkan pertumbuhan ekonomi.
"Dengan faktor di atas, peluang pelemahan masih terbuka. Peluang ke atas Rp16.000 masih terbuka,” ujar Ariston. ***


