POJOKSATU.ID - Secara administratif, lokasi TPST Bantar Gebang terletak di Kota Bekasi, dengan luas sekitar 110 hektar dan tinggi hingga 50 meter.
Saking tingginya tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, banyak orang menyebutnya sebagai gunung sampah di Bekasi.
Hal itu juga yang membuat seorang konten kreator menerima tantangan dari penontonnya untuk naik ke gunung sampah di Bekasi ini.
Baca Juga: Guru A2 dan A3 Masih Belum Valid di Info GTK, Ini Langkah Perbaikannya
Dalam unggahan akun TikTok @pandu.bone12, ia tampak kesulitan mendaki jalur pendakian yang terus menanjak hingga ke puncak.
Tak ada pemandangan indah sepanjang jalur pendakian, hanya disuguhi landscape berbagai macam sampah rumah tangga.
Di antara limbah itu, ternyata ada pohon timun suri yang tumbuh subur dan berbuah, akarnya mungkin hidup di antara lumpur yang menempel di sampah.
Baca Juga: Masih Tertunda karena Jam Mengajar Kurang? Ini Solusi agar TPG Triwulan 3 Segera Cair
Konten kreator ini seakan memperlihatkan sisi lain Bekasi sebagai kota industri, ternyata ada tumpukan sampah yang terus meninggi setiap harinya.
Harapan warga sekitar untuk menghirup udara segar tampaknya hanya mimpi yang tak pernah terwujud karena setiap harinya ada 7.000 ton sampah ditampung di Bantar Gebang.
Jakarta dan Bekasi sama-sama menaruh rahasia kotornya di sana, seolah membuang masalah begitu saja.
Baca Juga: Nyaris 3 Ribu Perceraian, Kasus Cerai Akibat KDRT di Kabupaten Bandung Barat Terbanyak di Jabar
Padahal yang dibuang tak pernah hilang, ia hanya bergeser tempat, dan kini menumpuk jadi simbol gagalnya pengelolaan sampah.
Pemerintah Jakarta maupun Bekasi kerap berbicara soal kota hijau, inovasi lingkungan, dan kolaborasi keberlanjutan.
Fakta di lapangan memperlihatkan yang berkolaborasi justru plastik dan bau busuk, berpadu membentuk aroma khas yang mengganggu indra penciuman.
Baca Juga: Pas Buat Liburan, Ini 5 Pilihan Hotel di Daerah Ancol
Setiap hari konvoi truk sampah terus berdatangan tanpa jeda, berbaris rapi membawa sisa hidup orang lain dan tanda tanya besar kapan semua ini akan berakhir.
Bantar gebang bukan lagi sekadar tumpukan sampah, tapi kegagalan kolektif dari masyarakat dan pemerintah setempat.
Akan tetapi, paling berdosa tetap mereka yang punya wewenang tapi tidak punya kepekaan karena hanya berhenti di wacana dan PowerPoint.
Baca Juga: Makna Filosofis di Balik Logo Dies Natalis ke-11 UNSIKA
Sebenarnya banyak solusi yang bisa diambil pemerintah dalam menangani masalah sampah ini.
Paling sederhana adalah aktifkan bank sampah di tiap RW, dan buat sistem insentif bagi warga yang mengelola limbah rumah tangga sendiri.
Tapi selama anggaran lebih sering habis untuk baliho dan seremoni, program tersebut tak mungkin berjalan dan akhirnya mungkin Bekasi terkubur perlahan.
Baca Juga: Syarat dan Jadwal Lengkap Program Magang Kemnaker 2025, Hanya untuk Lulusan Baru!
Pemerintah Bekasi sebenarnya sudah turun tangan dan beberapa kali merilis slogan untuk sosialisasi pada masyarakat.
Akan tetapi, itu mungkin hanya jadi wacana karena biasanya ketika turun ke lapangan cuma sekadar berfoto dengan latar belakang tumpukan sampah, lalu pulang dengan mobil ber-AC dan mencium wangi parfum.
Kebijakan pemerintah yang tak pernah tuntas meninggalkan bau busuk yang aromanya lebih menusuk daripada sampah.
Baca Juga: 544 Perusahaan BUMN dan Swasta Buka Program Magang 2025, Fresh Graduate Wajib Coba!
Jika pemerintah masih memilih diam dan tak ada langkah konkret di lapangan, mungkin suatu hari nanti Bantar Gebang bukan lagi TPS, tapi ibu kota baru untuk sampah di berbagai wilayah.***

