POJOKSATU.id, Bandung – Peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026 menjadi momentum bagi Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Fuel Terminal (FT) Bandung untuk memperkuat komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat dan terciptanya lingkungan yang inklusif.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk “Berbagi Rasa dan Cerita”.
Program ini mengintegrasikan potensi kopi lokal dari kawasan Kaki Gunung Papandayan dengan pemberdayaan penyandang disabilitas, khususnya melalui pengembangan keterampilan barista.
Baca Juga: Cara Daftar BPJS Kesehatan Gratis 2026, Cek Syarat dan Langkah Pengajuannya
Program tersebut hadir di tengah tantangan yang masih dihadapi Teman Tuli di Kota Bandung, mulai dari keterbatasan komunikasi dan akses informasi hingga minimnya ruang untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Pada saat yang sama, petani kopi di kawasan Kaki Gunung Papandayan juga menghadapi persoalan ekonomi dan kemiskinan.
Melalui “Berbagi Rasa dan Cerita”, Pertamina mengembangkan sejumlah kegiatan yang menghubungkan potensi lokal dengan pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: Gagal ke Final Asian Games 2026, Tim Badminton Putri Indonesia Dipastikan Raih Medali Perunggu
Di antaranya pembangunan rumah produksi kopi di Desa Cipaganti, pengembangan Kafe Inklusi Kopi Berbagi, pelatihan keterampilan barista bagi penyandang disabilitas, pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), hingga pengembangan inovasi Barista Smart Glasses.
Hingga September 2026, program tersebut telah memberikan manfaat kepada 423 penerima manfaat yang terdiri atas petani kopi dan barista penyandang disabilitas.
Local Hero sekaligus penerima manfaat program “Berbagi Rasa dan Cerita”, Dede Ahmad, mengapresiasi program yang dinilai mampu mempertemukan potensi kopi lokal dengan upaya pemberdayaan penyandang disabilitas.
Baca Juga: Aktivis Lingkungan Yogyakarta Pertanyakan Penolakan WALHI atas Revitalisasi Tambak Pantura
Menurut Dede, hilirisasi kopi dari Kaki Gunung Papandayan menjadi kafe inklusi turut meningkatkan pendapatan petani kopi hingga 275%.
Program tersebut juga dinilai membuka kesempatan kerja dan ruang yang lebih setara bagi penyandang disabilitas di Kota Bandung.
“Dengan adanya hilirisasi kopi dari Kaki Gunung Papandayan menjadi Kafe Inklusi, pendapatan petani kopi dapat meningkat hingga 275%. Selain itu, program ini juga membantu teman-teman difabel di Kota Bandung untuk memperoleh pekerjaan dan kesempatan yang setara. Mewakili seluruh petani kopi dan teman-teman difabel, kami mengucapkan terima kasih kepada Pertamina,” ujar Dede.
Baca Juga: Mengenal Fashion Gyaru yang Kembali Viral, Ini Ciri Khas Makeup hingga Outfit yang Jadi Perhatian
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB, Reno Fri Daryanto, mengatakan Pertamina berkomitmen untuk terus menghadirkan program TJSL yang memberikan manfaat sekaligus membuka akses dan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
“Melalui program ‘Berbagi Rasa dan Cerita’, Pertamina berupaya membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkembang dan berpartisipasi. Kami berharap program ini dapat terus memberikan manfaat, tidak hanya melalui pemberdayaan potensi lokal, tetapi juga dengan menciptakan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas,” ujar Reno.
Program “Berbagi Rasa dan Cerita” juga selaras dengan arah program Asta Cita keempat yang mencakup pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, keterampilan, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
Baca Juga: 7 Model iPhone Ini Bisa Dapat Kompensasi Apple hingga Rp1,7 Juta, Cek Apakah Ponselmu Termasuk
Melalui program TJSL tersebut, Pertamina terus mendorong pengembangan potensi masyarakat dengan menggabungkan pemberdayaan ekonomi lokal dan prinsip inklusivitas.
Upaya ini sekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan dan berkontribusi di tengah masyarakat.***




