POJOKSATU.id, Kota Bandung - Pengamat Meteorologi dan Klimatologi Muda sekaligus Prakirawan Cuaca di Stasiun Geofisika Bandung (BMKG Bandung) Yuni Yulianti menyampaikan cuaca dialami kota Bandung saat ini akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus mendatang.
Hal ini ditandai dengan sudah sangat berkurangnya awan-awan konvektif, signifikan untuk pembentukan hujan, kemudian juga suhu di pagi hari dan dini hari yang sangat dingin sebagai efek dari angin monsun Australia yang membawa udara dingin dan kering.
"Kemudian juga suhu di siang hari cukup panas dengan cuaca yang cerah karena tutupan awan tidak ada atau sangat minim, sehingga panas dipancarkan optimum. Kemudian juga untuk malam dan dini hari, dilepaskannya optimum juga, sehingga untuk pukul 13.00-14.00, maksimumnya di Bandung itu sekitar 31-32°C, cukup panas," tegasnya.
Pihak BMKG menyebut musim kemarau ini diprediksi sampai dengan bulan Oktober atau Agustus sudah memasuki musim penghujan.
Lanjut Yuni, untuk Bandung raya pada khususnya sejak bulan Juni baru mulai memasuki awal musim kemarau, dan itu terbilang terlambat. Selain efek muson Australia, juga dampak intervensi dari El Nino.
"El Nino ini anomali suhu permukaan air laut di Pasifik-Ekuator yang bernilai positif atau lebih hangat dibandingkan dengan rata-ratanya. Dampaknya adalah pengurangan curah hujan secara signifikan ke wilayah, eh, sebagian wilayah Indonesia, termasuk juga Jawa Barat atau Bandung Raya. Jadi, untuk musim kemarau tahun ini memang curah hujannya lebih rendah dibandingkan dengan klimatologisnya," ucapnya.
Begitupun untuk angin, beberapa hari ini berhembus cukup kencang membawa udara yang dingin dan kering dengan kecepatan rata-rata di Jawa Barat ini antara 5-40 km/jam, dan untuk di wilayah Bandung Raya ini rata-rata sekitar 14-15 km/jam.
"BMKG sudah mengeluarkan warning waspadai potensi kecepatan angin untuk beberapa wilayah di Jawa Barat. Terutama untuk di selatan, di sekitar perairan selatan Jawa Barat seperti Tasikmalaya, Ciamis, Banjar. Bandung sendiri tetap harus diwaspadai potensi angin kencang, karena memang masih dalam range normalnya, di antara 5-20 km/jam. Terutama untuk daerah-daerah yang banyak pohon tinggi dengan ranting-rantingnya sudah tua dan juga papan reklame," terangnya.
Bahkan surat edaran himbauan sendiri sudah disampaikan 6 bulan sebelum masuk musim kemarau. Kata Yuni, pihaknya sudah berkoordinasi dengan kabupaten/kota di wilayah Jawa Barat.
Baca Juga: Tembus Laba Rp3,6 Miliar, DPRD Jabar Dorong Suntikan Modal untuk PT BPR Cirebon Jabar
"Kami mengadakan rilis prakiraan musim kemarau terkait dengan memang musim kemarau tahun ini diindikasikan akan terintervensi oleh El Nino moderat hingga kuat, begitu, untuk wilayah Jawa Barat. Dalam artian bahwa akan terjadi pengurangan curah hujan yang cukup signifikan, terutama di bulan Juli-Agustus," tandasnya.
Pihaknya menghimbau kepada pemerintah daerah dan instansi terkait, seperti di bidang pertanian, irigasi, kemudian juga di bidang kehutanan untuk siap siaga terkait dengan musim kemarau tahun ini.***



