POJOKSATU.id, JEMBER - Gelaran Jember Fashion Carnaval (JFC) Red Carpet 2026 sekaligus gala dinner yang dihelat meriah di Pendopo Jember pada Jumat malam, (24/7/2026), sukses menyedot perhatian publik.
Namun, di balik kemeriahan pesta bertabur bintang tersebut, tersimpan sebuah misi besar yang tengah diusung oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember.
Acara ini tidak hanya dihadiri oleh jajaran pejabat publik, tetapi juga dipenuhi sederet figur ternama.
Tampak hadir artis legendaris Christine Hakim, desainer kondang Bubah Alfian, hingga Presiden JFC Budi (Iwan) Setiawan.
Tak ketinggalan, 12 Puteri Indonesia turut memeriahkan acara sebagai tamu kehormatan sekaligus talent JFC 2026, berbaur bersama para influencer dan artis ibu kota lainnya.
Meski dikelilingi gemerlap pesohor, Bupati Jember, Muhammad Fawait (Gus Fawait), menegaskan bahwa JFC bukan sekadar ajang pamer busana atau festival tahunan belaka.
Lebih dari itu, Gus Fawait memposisikan event berskala internasional ini sebagai motor penggerak ekonomi dan senjata strategis untuk mengentaskan kemiskinan di Jember.
Secara tidak langsung, Gus Fawait menekankan bahwa kehadiran JFC selalu membawa rentetan dampak positif secara ekonomi, khususnya bagi pergerakan sektor informal di tingkat bawah.
Ia menyebut gelaran JFC 2026 ini akan memicu multiplier effect.
Baca Juga: 7 SMA Swasta Mundur dari Program Sekolah Gratis Banten, Siswa Terancam Bayar SPP atau Pindah Sekolah
Di mana nantinya akan ada lonjakan omzet bagi para pelaku UMKM dan membuat tingkat hunian hotel di Jember selalu penuh sesak oleh wisatawan.
"Mengapa saya katakan positif, JFC ini menjadi sebuah kawah candradimuka untuk generasi penerus dunia karnaval," ungkap Gus Fawait.
Untuk mencapai target pengentasan kemiskinan secara maksimal, Bupati Jember memastikan seluruh elemen pemerintahannya bergerak bersama.
Ia menolak keras adanya ego sektoral antar-dinas dalam menyelesaikan persoalan perut rakyat.
"Kemiskinan itu bisa kita entaskan dari berbagai sudut. Dan pergerakannya tidak boleh ada ego sektoral, harus berbarengan, baik dari pendidikan, kesehatan, maupun perekonomian," tegasnya.
Hal ini sejalan dengan berbagai program terintegrasi yang tengah dikebut Pemkab Jember, mulai dari beasiswa pelajar, layanan kesehatan Homecare bagi warga kurang mampu, hingga event internasional sekelas JFC.
Gus Fawait mematok rekor baru bagi sejarah Jember, yakni menekan angka kemiskinan hingga tembus di bawah batas psikologis yang selama satu dekade terakhir selalu gagal dicapai.
"Target saya harus di bawah angka psikologis 200 ribu. Karena kita tidak pernah dalam 10 tahun ini berada di bawah angka 200 ribu secara absolut," ungkap Gus Fawait.
Baca Juga: Cara Menulis Esai Beasiswa yang Baik dan Benar, Lengkap dengan Struktur dan Tipsnya
Sebagai penutup, Gus Fawait menjamin bahwa Pemkab Jember saat ini menerapkan filter yang sangat ketat.
Ia dengan tegas menyatakan keengganannya untuk menghamburkan anggaran demi menyelenggarakan acara daerah yang sia-sia dan tidak berdampak pada kesejahteraan rakyat.
"Saya tidak mau menyelenggarakan event yang secara perhitungan tidak berdampak kepada apa pun. Semua event yang kita lakukan hari ini sudah kita kaji secara mendalam," pungkasnya. ***



