POJOKSATU.id, Kota Bandung - Di media sosial kini ramai meme kota Bandung darurat begal.

Menanggapi itu Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengaku berita begal semakin banyak muncul selama ia cuti sakit.

"Itu kan bermunculan di akhir pekan, ya. Di saat saya memang lagi dapat cuti istirahat pengobatan lagi, eh ternyata berita begal muncul loba pisan (banyak sekali,red)," ujar Farhan di balai kota, Senin 20/7/2026.

Baca Juga: Bukan Cuma IPK, Ini Daftar Skill yang Wajib Dimiliki agar Dilirik Perusahaan

Lanjutnya secara statistik, berdasarkan  paparan Kapolres, tingkat kriminalitas di Kota Bandung sudah jauh menurun. Namun masalahnya bukan angka statistik, tetapi masalah rasa aman.

"Masyarakat merasa aman tidak? Nah
nanti saya akan rapat khusus dengan Pak Kapolres mengenai hal ini. Saya juga mengerti bahwa Polres kita ini sekarang bekerja keras, patroli menggunakan sarana prasarana yang sudah tidak up to date. Makanya nanti kita akan ngobrol untuk mengetahui apa yang bisa kita dukung secara operasional, sehingga kepolisian bisa melaksanakan tugasnya dengan sangat baik, gitu," ujarnya.

Masih kata Farhan, pada kasus ini ada  beberapa sentimen negatif terkait prinsip warga jaga warga.

Baca Juga: Pemprov DKI Bahas Perluasan Penerima Transportasi Umum Gratis, Ini Daftar 6 Golongan Usulannya

"Nah, untuk masyarakat yang mengatakan, 'Abdi mah hoyong dijaga, tapi alim ngajaga,' gitu ya, sebagai antitesis dari warga jaga warga, maka saya ingatkan, sikap antitesis terhadap warga jaga warga adalah sikap yang mengedepankan individualisme. Hati-hati lho," ujarnya.

Farhan mengakui bahwa aparat pemerintahan dan aparat kepolisian harus melaksanakan tugasnya. Namun bukan berarti masalah dan tugas tersebut dilimpahkan kepada masyarakat.

"Bukan gitu, tetapi prinsip warga jaga warga adalah prinsip solidaritas, prinsip gotong royong. Dan prinsip gotong royong itu ada di Pancasila, Trisila, dan Ekasila. Nah, kalau mempelajari ideologi itu sudah jelas, bahwa Ekasila gotong royong. Dan gotong royong kita wujudkan dengan warga jaga warga, warga jaga kota. Karena baik polisi maupun wali kota sama-sama warga kota juga, kan," ungkapnya.

Baca Juga: Kemendikdasmen Buka 15 Bidang Studi Kejuruan dalam Seleksi PPG Calon Guru 2026, Cek Disini!

Hal itu yang akan dikedepankan, pasalnya   ada dua isu yang berbeda, Isu operasional dan isu ideologis yang kini menjadi sebuah wacana.

Terkait keluhan warga tidak terlihat aparat patroli, Farhan balik bertanya.

"Tidak kelihatan, gitu. Jadi gini, kalau gelap, saya akui, kita memang sedang mengolah anggaran sedemikian rupa agar bisa segera terang benderang kembali. Makanya saya belum berani mengumumkan bahwa kita Bandung caang baranang, kenapa? Karena secara struktur anggaran, kita memang sedang memastikan bahwa pengadaan lampu ini berjalan dengan baik. Agak lambat. Mohon maaf pisan. Memang agak lambat," ucapnya.

Baca Juga: Nayib Bukele, Presiden yang Mengubah Wajah Negara El Salvador

Masih kata Farhan, seharusnya dari tahun lalu sudah dilakukan pengadaan namun Farhan mengaku menyusun ulang sehingga pelaksanaan dimulai triwulan ketiga dan keempat tahun ini.

"Pasti tahun ini, karena ada beberapa yang saya kolaborasikan dengan pemerintah pusat dengan pemerintah provinsi. Contoh, Jalan Supratman itu sudah clear pada tanggal 17 Mei saat selesai kirab itu kan ada pararoek (gelap,red) di Supratman. Pak Gubernur negor tapi itu jalan provinsi. Demikian juga jalan Pasteur sampai ke Gedung Sate, pada saat bersamaan, Soekarno-Hatta yang isunya paling besar itu, itu kan jalannya nasional. Nah, maka pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan pemerintah pusat itu sedang berbagi tugas," bebernya.

Begitupun terkait koordinasi JPO sepanjang jalan itu hanya ada satu. Kata Farhan, hal itu karena pembangunan JPO tidak sesederhana itu.

Baca Juga: Nyolot ke Wartawan Usai Ditunjuk Tangani Perkara Febrie Adriansyah, SWSI Minta Hotman Paris Segera Minta Maaf

"Kenapa Jakarta gampang? Karena Jakarta  pemerintah kota dan pemerintah provinsi satu. Dan ke pemerintah pusat tinggal nelepon. Kalau kita, mesti datang dulu ke balai yang ada di Bandung, Jawa Barat, baru kita bisa ngobrol dengan pemerintah pusat. Kalau saya langsung ke menteri, maka saya dianggap melewati yang ada di daerah. Ini mah bagian dari administrasi. Mohon maaf, ya. Kalau saya mah sangat patuh administrasi. Sehingga nanti kalau sudah jadi, tidak menimbulkan buntut masalah," ungkapnya.

Lanjutnya, kalau dilihat dari skema yang ada, seharusnya pada triwulan keempat itu semua lampu sepanjang Soekarno-Hatta sudah bisa berjalan.

Farhan pun mengaku setiap malam itu sangat khawatir, terutama di Jalan layang Kopo dan dibawahnya merupakan salah satu titik rawan.

Baca Juga: Apakah Ikan Cupang Harus Pakai Filter? Ini Penjelasan dan Tips Perawatannya

"Kemudian titik rawan di Kiaracondong. Bahkan waktu itu saya pernah nangkep satu kelompok begal. Saya yakin kepolisian juga tidak tinggal diam. Bahkan Kapolda sudah memberikan perintah tindakan tegas terukur. Nah, itu yang harus kita jaga dalam sebuah kerangka penanganan ini. Yang paling penting gini, kita akan bekerja keras, untuk mengembalikan rasa aman kepada warga dan juga para pengunjung Kota Bandung." tutupnya.***