POJOKSATU.ID – Suasana mendadak panas di kawasan elite Ciumbuleuit, Kota Bandung! Tepat di depan kediaman mewah Anggota DPR RI, Atalia Praratya, amarah puluhan santri dari Aliansi Forum Santri Nusantara (FSN) Bandung Raya tumpah ruah, Selasa (14/10/2025).

Bak api disiram bensin, pernyataan istri mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, soal tragedi maut Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, menjadi pemicunya.

Bagaimana tidak? Di saat duka masih menyelimuti, pernyataan Bu Cinta, sapaan akrabnya, yang meminta usulan pembangunan ulang ponpes dengan dana APBN dikaji ulang, dianggap telah mengiris hati para santri dan keluarga korban.

Baca Juga: Kasus SMAN 1 Cimarga Banten: Perbandingan Generasi 90-an dan Pelajar Sekarang, Dulu Tamparan Bentuk Karakter, Kini Malah Wajib Lapor

Pantauan Pojoksatu.id di lokasi, Jalan Gunung Kencana Nomor 5, ketegangan sudah terasa sejak massa tiba sekitar pukul 15.00 WIB. Aparat kepolisian yang sigap langsung membuat barikade pertahanan.

Namun, lautan santri bersarung dan berpeci itu tak gentar. Dengan wajah penuh kekecewaan, mereka membentangkan spanduk-spanduk protes yang isinya lebih tajam dari sembilu.

"Pecat Atalia!", "Peduli Keluarga Korban", hingga "Tegakkan Keadilan", begitulah tulisan-tulisan yang menjadi saksi bisu betapa dalamnya luka yang mereka rasakan.

Baca Juga: OJK, Pemerintah Jawa Barat dan Telkom University Kolaborasi Perkuat Edukasi Keuangan Berintegritas di Jawa Barat

Koordinator Aksi, Riki Ramdan Fadilah, dengan suara berapi-api, tak bisa menyembunyikan amarahnya. Menurutnya, sebagai wakil rakyat yang terhormat, Atalia seharusnya menjadi garda terdepan memperjuangkan nasib korban, bukan malah melontarkan narasi yang menambah perih.

"Pernyataan Ibu Atalia telah melukai perasaan kami, seluruh komunitas pesantren, dan terutama keluarga korban. Ini bukan sekadar bangunan yang roboh, ini tentang nyawa dan masa depan generasi kami!" pekik Riki dengan lantang.

Tak main-main, empat tuntutan keras langsung mereka sodorkan di hadapan awak media.

Baca Juga: Jelang Hari Santri, Trans7 Justru Memberikan Kado Pahit bagi Dunia Pesantren, Endingnya Minta Maaf ke Ponpes Lirboyo

Pertama, dan yang paling menggelegar, FSN meminta Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, tak pakai lama untuk memecat Atalia Praratya dari kursinya di Senayan.

"Pernyataannya dinilai bertentangan dengan prinsip keadilan sosial!" tegas Riki.

Kedua, mereka mendesak Atalia untuk segera menggelar konferensi pers, melakukan klarifikasi, dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh komunitas pesantren dan keluarga korban tragedi Al Khoziny.

Baca Juga: Pahami Cara Sederhana Memahami Pasar Saham

Ketiga, Komisi VIII DPR RI tempat Atalia bernaung juga ikut 'disentil'. FSN menuntut agar segera disusun Kebijakan Nasional Keselamatan Pesantren (National Santri Safety Framework) agar tragedi serupa tak jadi langganan.

Dan yang terakhir, pemerintah dan DPR didesak habis-habisan untuk memenuhi seluruh hak korban.

"Mulai dari santunan, bantuan medis dan psikososial, beasiswa penuh bagi anak yatim piatu, hingga pembangunan kembali fasilitas pesantren," rinci Riki.

Baca Juga: Siapa Dheninda Chaerunnisa? Ketua Komisi III DPRD Gorut yang Viral Ejek Orator Ternyata Punya Pacar Sesama Anggota Dewan

Dengan suara bergetar, Riki menegaskan bahwa duka Al-Khoziny harus menjadi pelajaran mahal bagi negara.

"Kami tidak ingin duka ini hanya menjadi headline sementara. Ini soal nyawa dan masa depan santri, bukan ruang untuk mencari popularitas politik," pungkasnya. ***