POJOKSATU.ID - Peristiwa tamparan kepala sekolah pada muridnya yang tertangkap basah menghisap kretek telah menjadi perbincangan hangat.
Pasalnya, seluruh pelajar yang berjumlah 630 orang dari 19 kelas, kompak mogok belajar pada hari Senin, 13 Oktober 2025.
Alasannya mereka tak terima temannya ditampar dan meminta kepala sekolah untuk lengser.
Baca Juga: Pahami Cara Sederhana Memahami Pasar Saham
Insiden ini terjadi di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten saat kegiatan Jumat bersih di sekolah.
Orang tua siswa yang tak menerima putranya ditampar, melaporkan kejadian itu pada polisi.
Sedangkan kepala sekolah memang mengakui tamparan itu dilakukan tapi dilakukan spontan karena murid tersebut melanggar aturan sekolah.
Sementara itu, di media sosial terpantau dukungan mengalir deras pada sosok kepala sekolah yang tegas dan berani memberi pelajaran pada murid tersebut.
"Anak sekarang lebay semua, beda sama anak dulu," tulis @athoiswan_.
"Kalau dulu lapor ke orang tua malah ditambahin gamparannya karena bikin mapu," kata @qibiel.23.
Netizen justru tak mempermasalahkan tamparan itu, karena murid tersebut memang bersikap keterlaluan di lingkungan sekolah.
Tak sedikit juga yang tertawa melihat tindakan yang dilakukan siswa dan orang tuanya melaporkan kejadian itu pada polisi.
Mungkin ia sedang mengingat masa dulu ketika dirinya bersekolah, ketika tamparan dari guru merupakan pelajaran yang bisa membentuk karakter.
Ternyata ada perbedaan besar antara mental generasi 90-an yang tahan banting dengan pelajar sekarang yang mudah tersinggung tapi sulit disalahkan.
Tamparan, jeweran, atau berdiri di depan kelas bukan dianggap kekerasan, tapi konsekuensi agar tak mengulang kesalahan.
Generasi 90-an memang tumbuh di bawah disiplin keras orang tua dan guru, sebandel-bandelnya mereka tapi tetap menghormati sosok guru.
Baca Juga: Inovasi Riset UGM, Dari Padi Gamagora hingga Beras Presokazi, Dukung Kemandirian Pangan Nasional
Bahkan ketika ditampar oleh guru, mereka tak mungkin menceritakan pada orang tua, karena tamparan berikutnya dipastikan akan mendarat lebih tajam.
Ketika berbuat salah, mereka mengakui kesalahan itu dan dengan berani menerima sanksinya, karena sadar bahwa disiplin keras yang diterapkan adalah bentuk kasih sayang.
Hari ini, tamparan dari guru bukan lagi diartikan sebagai sebuah pelajaran, tapi dianggap penghinaan.
Baca Juga: Penyebab TPG Triwulan 3 Guru Bersertifikasi Hingga Kini Belum Masuk ke Rekening!
Para orang tua memilih mendewakan buah hatinya, tanpa melihat kesalahan yang telah dilakukannya di sekolah.
Sehingga pelajar tersebut tumbuh tanpa mau menerima konsekuensi atas apa yang dilakukannya dan berpotensi menjadi pribadi yang tak akan bertanggung jawab.
Kasus ini memperlihatkan secara nyata betapa rapuhnya mental pelajar sekarang yang sering terlihat sok jagoan tapi ketika disentil sedikit langsung merengek dan melapor ke polisi.
Baca Juga: LPSE Banten Melompat ke Era Digital: Dari Tim Adhoc Jadi Motor Reformasi Pelayanan Publik
Peristiwa seperti ini bukan kali pertama, ada banyak kasus lainnya yang bahkan sampai menyeret guru ke penjara dan membayar denda.
Hingga akhirnya, banyak tenaga pendidik yang memilih diam atau membiarkan pelanggaran yang dilakukan murid, daripada viral dan berurusan dengan hukum.
Di sisi lain, guru dituntut mendidik tegas tapi dilarang keras menyentuh sisi emosional siswa.
Baca Juga: Tidak Ada Terbang ke Israel, Presiden Prabowo Sudah Tiba di Jakarta Usai Lawatan KTT Gaza di Mesir
Jika diskriminasi pada guru tetap dibiarkan, sekolah mungkin akan melahirkan generasi cerdas tapi mereka akan sulit bertahan hidup di dunia yang keras, di luar lingkungan sekolah dan keluarga.***




