POJOKSATU.ID - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, optimistis bahwa program perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) melalui kolaborasi dengan Yayasan Buddha Tzu Chi akan menggeliatkan ekonomi lokal. Program ini disebut Farhan sebagai wujud gotong royong murni tanpa melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sama sekali.
Dalam kunjungannya meninjau rutilahu di Kelurahan Jamika, Farhan menjelaskan bahwa meskipun prosesnya tidak secepat program berbasis APBD, semangat kolaborasi antara swasta, pengusaha, masyarakat, dan Pemkot jauh lebih kuat.
Farhan mengakui tantangan utama dalam program ini adalah keberagaman kondisi dan luas bangunan rumah yang akan diperbaiki, yang memerlukan penanganan berbeda. Namun, antusiasme tinggi dari para relawan dan kontraktor menjadi indikasi geliat ekonomi yang positif.
"Saya senang karena banyak kontraktor dapat pekerjaan, artinya ekonomi kita sedang bergerak. Tapi juga khawatir karena kita kekurangan tenaga kontraktor. Ini situasi antara senang dan tegang," ujar Farhan, menyoroti efek domino program terhadap sektor tenaga kerja.
Data program rutilahu bersumber dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Bandung, terbagi dalam tiga kategori: penerima APBD, daftar tunggu, dan daftar antrean verifikasi.
Program ini menargetkan perbaikan 500 rutilahu yang tersebar di beberapa area Kota Bandung, termasuk Blok Jamika, Kopo, Kiara Condong, Babakan Ciparay, dan Bandung Kulon.
Sebagai permulaan, 100 rutilahu di Kelurahan Jamika dan Kelurahan Kopo sedang dalam tahap pengerjaan. Pemkot Bandung dan Yayasan Buddha Tzu Chi secara intensif memantau perkembangan proyek ini.
Farhan berharap program rutilahu ini tidak hanya memberikan solusi hunian yang layak bagi warga, tetapi juga menjadi pemicu roda ekonomi yang lebih luas.
"Saya serius mendorong ini agar ekonomi kita berputar. Kalau semua pihak dapat pekerjaan, semua juga akan dapat manfaat," tegasnya.***


