POJOKSATU.ID – Kinerja Bank Umum yang berkantor pusat di Jawa Barat menunjukkan gambaran beragam per April 2025.

Meskipun asetnya tercatat tumbuh, Dana Pihak Ketiga (DPK), realisasi kredit, dan laba justru mengalami penurunan.

Di sisi lain, Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) menunjukkan pertumbuhan positif di semua indikator, meski diiringi peningkatan rasio Non-Performing Loan (NPL).

Baca Juga: Banyak Guru Mendapatkan TPG Triwulan 2 Sebesar Rp9 Juta Tetapi Ada Juga yang Capai Belasan Juta, Apa yang Membedakan? CEK Infonya Agar Tidak Salah Pah

Demikian disampaikan Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat, Darwisman.

Ia menjelaskan, total aset Bank Umum yang berkantor pusat di Jawa Barat pada April 2025 mencapai Rp190 triliun, tumbuh tipis 1,72% atau Rp3 triliun dibandingkan April 2024.

Namun, DPK Bank Umum dengan kantor pusat di Jawa Barat justru mengalami penurunan.

Baca Juga: Pemkab Madina Umumkan Pemenang PPPK 2024 Tahap 2 Guru, Teknis dan Kesehatan, Tak Ada Lagi Ribut-ribut

"DPK turun Rp3 triliun atau 2,61% secara tahunan, dari Rp137 triliun pada April 2024 menjadi Rp134 triliun pada April 2025," kata Darwisman.

Penurunan juga terjadi pada realisasi kredit. "Realisasi kredit menunjukkan penurunan Rp0,4 triliun atau 0,32% year-on-year, dari Rp126 triliun di April 2024 menjadi Rp125 triliun di April 2025," lanjutnya.

Lebih lanjut, laba yang dibukukan Bank Umum ini juga mengalami koreksi signifikan.

Baca Juga: Sukseskan Ketahanan Pangan, Pemdes Kaligewe Wetan Gandeng PUPR Normalisasi Irigasi Ketos

"Pembukuan laba turun sebesar 22,21% year-on-year, dari Rp517,69 miliar di April 2024 menjadi Rp403,19 miliar di April 2025," ungkap Darwisman.

Penurunan laba ini, menurutnya, diakibatkan oleh dua faktor utama: peningkatan nominal NPL sebesar 58,51% (Rp1,2 triliun) dan penurunan kredit sebesar 0,32%.

Berbeda dengan Bank Umum, BPR dan BPRS di Jawa Barat menunjukkan tren yang lebih positif.

Baca Juga: Lolos PPPK Tahap 2? Segera Isi DRH NI Mulai Hari Ini, Jika Tidak Mau Gugur!

Darwisman merinci, total aset BPR dan BPRS tumbuh Rp0,85 triliun atau 2,67% secara tahunan, mencapai Rp32,71 triliun pada April 2025 dari Rp31,86 triliun pada April 2024.

DPK juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 3,54% atau Rp0,77 triliun, dari Rp21,77 triliun menjadi Rp22,54 triliun.

"Penyaluran kredit/pembiayaan yang diberikan BPR dan BPRS juga tumbuh Rp0,66 triliun atau 2,86% year-on-year, dari Rp23,11 triliun menjadi Rp23,77 triliun," jelas Darwisman.

Baca Juga: TPG TW2 Sudah Mulai Jalan, Tapi 3.613 Guru di NTB Masih Tersendat TW1

Yang paling menarik, perolehan laba BPR dan BPRS mengalami lonjakan luar biasa.

"Laba BPR dan BPRS naik sebesar 498,1% year-on-year, dari posisi rugi Rp0,01 triliun pada April 2024 menjadi laba Rp0,07 triliun pada April 2025," kata Darwisman.

Namun, Darwisman mengingatkan, di balik pertumbuhan positif tersebut, rasio NPL gross BPR dan BPRS justru memburuk, dari 11,16% di April 2024 menjadi 12,69% di April 2025.

Baca Juga: Hasil Seleksi PPPK Tahap 2 Tahun 2024 Sudah Diumumkan, Banyak Honorer R3 dan R4 Tidak Lulus, Pemda Usahakan Tak Ada PHK

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android

Versid iOS

Channel Whatsapp

Fanpage edugov

"Peningkatan NPL ini menjadi perhatian kami meskipun secara keseluruhan BPR dan BPRS menunjukkan kinerja yang baik," tutupnya. ***