POJOKSATU.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung merilis data inflasi periode Mei 2025.

Hasilnya, sejumlah indikator ekonomi dan sosial menunjukkan tren positif dibanding bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan data BPS yang dikutip dalam platform resminya, inflasi month-to-month (Mei 2025 terhadap April 2025) di Kota Bandung tercatat sebesar -0,35 persen, lebih baik dibandingkan angka inflasi Jawa Barat sebesar -0,32 persen dan nasional sebesar -0,37 persen.

Baca Juga: Polda Kalsel Sita Narkoba Milik Ferdy Pratama Sebanyak 54,8 Kg Serta Ribuan Ekstasi

 

Penyumbang utama deflasi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar di antaranya cabai rawit (-0,15 persen), bawang merah (-0,07 persen), bawang putih (-0,06 persen), cabai merah (-0,06 persen), angkutan antar kota (-0,06 persen), dan daging ayam ras (-0,04 persen).

Sementara itu, beberapa komoditas tercatat memberikan andil inflasi, seperti emas perhiasan (0,08 persen), tomat (0,03 persen), telur ayam ras (0,02 persen), dan tarif pulsa ponsel (0,02 persen).

Secara year-on-year (Mei 2025 terhadap Mei 2024), inflasi Kota Bandung tercatat sebesar 1,16 persen, lebih rendah dari angka inflasi Jawa Barat yang mencapai 1,47 persen dan nasional sebesar 1,60 persen.

 

Baca Juga: Ramu Umar

Komoditas dengan andil inflasi tertinggi adalah emas perhiasan (0,44 persen), disusul minyak goreng (0,12 persen), sigaret kretek mesin (0,12 persen), tarif air minum (0,10 persen), dan sewa rumah (0,09 persen).

Sementara komoditas penyumbang deflasi year-on-year di antaranya daging ayam ras (-0,22 persen), bawang merah (-0,10 persen), bensin (-0,06 persen), telur ayam ras (-0,06 persen), dan cabai merah (-0,05 persen).

Adapun inflasi year-to-date (Mei 2025 terhadap Desember 2024) tercatat sebesar 0,66 persen, menjadi yang terendah di antara 10 kabupaten/kota di Jawa Barat. Sebagai pembanding, inflasi year-to-date Jawa Barat tercatat 0,98 persen dan nasional 1,19 persen.

Baca Juga: Pemprov Sumut Buka Pendaftaran Seleksi Jabatan Komisaris Perseroda, Cek Syarat dan Berkas Dokumen yang Wajib Disiapkan

Komoditas dengan andil inflasi terbesar di Kota Bandung adalah emas perhiasan (0,27 persen), tarif air minum PAM (0,10 persen), sewa rumah (0,09 persen), kontrak rumah (0,07 persen), dan santan jadi (0,03 persen).

Sedangkan komoditas dengan andil deflasi di antaranya daging ayam ras (-0,09 persen), telur ayam ras (-0,05 persen), beras (-0,05 persen), bawang merah (-0,04 persen), dan cabai rawit (-0,02 persen).

Selain capaian inflasi, sektor pariwisata Kota Bandung juga menunjukkan pemulihan positif. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Kota Bandung pada April 2025 mencapai 51,65 persen, meningkat 19,88 poin dibandingkan Maret 2025, dan naik 0,96 poin dibandingkan April 2024. Angka ini jauh di atas TPK Jawa Barat sebesar 38,07 persen dan nasional 36,75 persen.

Peningkatan tersebut ditopang momentum libur Idulfitri dan penyelenggaraan berbagai festival musik serta kuliner sepanjang akhir April 2025.

Baca Juga: Sri Mulyani Tetapkan Biaya Harian Dinas Luar Negeri ASN 2026, Tertinggi Capai Rp12,9 Juta per Hari

 

Dari sisi sosial, BPS Kota Bandung juga mencatat kemajuan dalam aspek kesetaraan gender. Indeks Ketimpangan Gender (IKG) tahun 2024 tercatat sebesar 0,244, turun 0,031 poin dibandingkan 2023.

Capaian ini menunjukkan perbaikan kondisi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan reproduksi, dan partisipasi ekonomi.

Selain itu, Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kota Bandung meningkat menjadi 95,38 pada tahun 2024.

 

Baca Juga: RUU Sisdiknas Tengah Dibahas, Serukan PPPK ke Sekolah Induk dan Gaji Tepat Waktu Langsung ke Rekening ASN

Angka ini mencerminkan penyempitan kesenjangan pembangunan antara laki-laki dan perempuan di berbagai sektor, termasuk pendidikan, usia harapan hidup, serta pengeluaran per kapita.

Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan upaya Pemerintah Kota Bandung dalam mengendalikan inflasi dan memperbaiki indikator sosial-ekonomi berjalan efektif, sekaligus menempatkan Kota Bandung di posisi unggul dibandingkan rata-rata provinsi maupun nasional.***