POJOKSATU.id BANDUNG - Perpusnas RI dorong sosialisasi program Gerakan Indonesia Membaca di Bandung, Selasa, 25 Juni 2024.

Perpusnas RI meyakini program bantuan buku bagi 10 ribu ruang baca di perpustakaan desa maupun taman baca masyarakat (TBM), menunjukkan bukti manfaat kehadiran negara di tengah masyarakat.

Kondisi darurat literasi yang terjadi di Indonesia bukan karena rendahnya budaya baca melainkan ketiadaan buku bacaan yang sesuai dengan kebutuhan minat baca masyarakat.

“Bahkan, Komisi X DPR RI kala itu sampai membentuk Panja untuk melihat kondisi literasi Indonesia yang kesimpulannya dinyatakan Indonesia menghadapi kondisi darurat literasi,” terang Plt Kepala Perpusnas RI E. Aminudin Aziz.

Baca Juga: Surati Kepsek SMAN 8 Medan untuk Menganulir Keputusan Siswi Tinggal Kelas, Kadisdik Sumut Ungkap Peluang Rosmaida Purba Dipecat

Ketika ketiadaan buku bacaan menjadi masalah utama, lanjut Amin, Perpusnas mencoba mensinkronkan dengan program yang sudah dirintis oleh Kemendikbudristek melalui penyediaan buku-buku bacaan untuk anak-anak jenjang PAUD dan SD.

“Mereka harus dicecoki dengan kebiasaan membaca yang benar. Karena kegemaran membaca harus dibangun sejak usia dini,” tambahnya.

Kemajuan internet memang mengubah kebiasaan membaca masyarakat. Mereka lebih suka dengan teks baacaan yang pendek. Ketika diberikan teks panjang malah jadi malas.

Pun dengan kehadiran dunia digital, sehingga muncul opini mengapa tetap harus mencetak buku?

Baca Juga: Bey Machmudin Imbau ASN Jabar Mundur 40 Hari Sebelum Daftar Pilkada

Menanggapi hal tersebut, Amin justru menegaskan bahwa kemampuan meningkatkan literasi sesungguhnya dibangun ketika membaca buku secara fisik.

Kerileksan fisik akan jauh lebih tenang daripada harus berlelah-lelah melihat layar ketika membaca buku digital. Sentuhan tangan pada kertas memberikan dampak yang psikologis.

“Oleh karena itu, hingga saat ini Perpusnas dan Kemendikbudristek tidak pernah sekalian pun berpikir menghentikan program cetak buku karena buku memegang peran yang jauh lebih penting dan signifikan dibanding membaca di gawai,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Plt Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin, mengakui apa yang disampaikan Plt Kepala Perpusnas.

Kondisi darurat literasi pun juga dirasakan pihaknya akibat ketersediaan buku yang masih kurang.

Baca Juga: Bentrokan Dua Kelompok Jemaat di Cawang Jaktim, Pemicunya Gegara Emak-emak Dilarang Ibadah

Oleh karena itu Pemprov Jawa Barat mendukung penuh Gerakan Indonesia Membaca milik Perpusnas.

Dari bantuan 10 ribu perpustakaan desa atau TBM, provinsi Jawa Barat mendapatkan 713 desa.

Bey menganggap upaya ini merupakan ikhtiar bersama untuk meningkatkan literasi masyarakat sebagai modal pembangunan.