POJOKSATU.ID - Pemkot Bandung melakukan sejumlah antisipasi agar tak terjadi darurat sampah imbas dari pembatasan TPA Sarimukti.
Salah satu upaya antisipasi yang dilakukan adalah memperbanyak kawasan bebas sampah (KBS).
Plh Wali Kota Bandung, Ema Sumarna, mengakui memang tidak mudah mengubah mindset dan perilaku masyarakat terkait sampah.
Baca Juga: Ada Bendera Merah Putih Panjang Berkibar di Curug Cileat Jelang HUT Kemerdekaan RI ke-78
"Tiap bulan saya evaluasi bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK). Kita terus mendorong masing-masing kecamatan itu berlomba untuk menghadirkan dan memperbanyak KBS," kata Ema, Selasa 8 Agustus 2023.
Dengan jumlah KBS yang signifikan, diyakini akan mengurangi ritasi sampah ke TPA Sarimukti.
Namun hal itu diakui Ema juga membutuhkan kerja lebih keras lagi karena KBS yang belum siap.
Baca Juga: Total Formasi PPPK Guru 2023, Ada Tambahan Kuota 18.000
Selain itu, masyarakat juga masih terus terus berproses dalam memilah sampah.
"Lalu Sarimukti dikurangi, itu juga tidak mudah. Makanya kita terus koordinasi dengan Pemerintah Provinsi. Walaupun kita juga paham Sarimukti itu tidak bisa untuk selamanya," ungkapnya.
Untuk diketahui, jumlah sampah Kota Bandung yang diangkut ke TPA Sarimukti sebelumnya sebanyak 1.300 ton kini dibatasi sampai 868 ton saja.
Baca Juga: Tayangkan Live Streaming Liga Inggris di Instagram, ya Ditangkap Polisi, 1 Orang masih di Bawah Umur
"Untuk Kota Bandung karena paling besar, maka kita minta pengurangannya itu secara bertahap," ucap Kepala DLHK Kota Bandung, Dudy Prayudi.
Selama 5 bulan ke depan sampah Kota Bandung ke TPA Sarimukti berkurang 10 rit dari ritase yang sekarang.
Saat ini ritase normal yang tercatat di Pengelolaan Sampah Tingkat Regional (PSTR) sebanyak 259 rit.
Upaya lain yang ditempuh Pemkot Bandung adalah dengan menghadirkan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST).
Baca Juga: Nahas Tukang Parkir Lerai Keributan Malah Tewas Ditusuk Pengunjung Karaoke
Diharapkan dengan adanya TPST bisa mengurangi lebih banyak lagi sampah ke TPA.
Tahun ini, ada 3 TPST yang akan dibangun Kementerian PU, yakni di Nyengseret, Taman Tegalega, dan eks TPA Cicabe.
"Sistemnya menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF)," jelasnya.
Baca Juga: Polrestabes Bandung Tangkap Pelaku Balap Liar di Jalanan Kota Bandung yang Viral
Hasil dari RDF ini merupakan bahan bakar pengganti batu bara yang akan dikirimkan ke pabrik tekstil dan semen.
Selama 10 bulan nanti biaya operasional didanai Kementerian PU. Setelah itu oleh Pemkot Bandung.
"Kalau ini bisa beroperasi, minimal kita bisa mengurangi 100 ton sampah. Belum ditambah kita akan menerapkan TPST versi Banyumas," lanjut Dudy.
Baca Juga: Spesialis Curanmor Lengkong Bandung Ditangkap, cuma 5 Menit Motor Hilang, 1 Pelaku di Bawah Umur
Untuk TPST versi Banyumas, rencananya akan dibangunan di 10 lokasi tapi masih menunggu keputusan dari DPRD Kota Bandung.
Sementara sampai Juli 2023, sudah ada 221 KBS di Kota Bandung atau sekitar 13,3 persen dari total seluruh RW sudah masuk KBS.
"2 upaya itu yang akan terus kita lakukan, yakni pengurangan dari sumber sampah RT dan RW agar tercipta KBS, serta membangun TPST di beberapa titik," tandasnya.***



