POJOKSATU.id — Kucing calico dikenal memiliki pola warna bulu yang khas, biasanya berupa perpaduan warna putih, hitam, dan oranye.
Pola tersebut membuat calico mudah dikenali sekaligus menarik perhatian pencinta kucing.
Namun, ada satu hal yang membuat calico semakin unik, yakni jenis kelamin jantan.
Kucing calico jantan tergolong sangat langka. Kondisi tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan berkaitan dengan mekanisme pewarisan warna bulu yang berhubungan dengan kromosom X.
Pada kucing, jantan umumnya memiliki kromosom XY, sedangkan betina memiliki kromosom XX.
Baca Juga: Mau Periksa atau Steril Kucing? Cek Jadwal Mobil Klinik Hewan Jakarta Barat dan Tarifnya
Gen yang berkaitan dengan warna oranye dan hitam berada pada kromosom X.
Kucing betina yang memiliki dua kromosom X dapat membawa versi gen warna yang berbeda pada masing-masing kromosom.
Ketika terjadi proses inaktivasi kromosom X, sebagian sel menggunakan satu kromosom X, sementara sel lainnya menggunakan kromosom X yang berbeda.
Proses tersebut kemudian berkontribusi terhadap terbentuknya pola bercak warna hitam dan oranye pada tubuh kucing calico.
Sementara itu, kucing jantan normal hanya memiliki satu kromosom X.
Oleh karena itu, secara genetik kucing jantan biasanya hanya membawa salah satu versi gen tersebut sehingga tidak menghasilkan kombinasi warna hitam dan oranye seperti calico betina.
Meski demikian, terdapat kondisi tertentu yang memungkinkan kucing jantan memiliki pola calico.
Salah satunya adalah kelainan kromosom yang membuat kucing jantan memiliki susunan kromosom XXY.
Dengan memiliki dua kromosom X, kucing tersebut dapat membawa gen warna yang berbeda pada masing-masing kromosom X sehingga pola tiga warna dapat muncul.
Kondisi ini dikenal sebagai sindrom Klinefelter pada kucing.
Lantas, apakah semua kucing calico jantan pasti memiliki kelainan kesehatan?
Baca Juga: Prabowo Ungkap Rencana Pendidikan Negeri Gratis, dari SD hingga Universitas, Kapan?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Kucing calico jantan yang memiliki kromosom XXY memang memiliki perbedaan kromosom dan umumnya mengalami gangguan reproduksi.
Salah satu dampaknya adalah kucing tersebut biasanya mandul atau memiliki kemampuan reproduksi yang sangat rendah.
Selain itu, kucing dengan kondisi tersebut dapat memiliki perkembangan organ reproduksi yang berbeda dibandingkan kucing jantan pada umumnya.
Namun, perbedaan kromosom tersebut tidak otomatis membuat kucing mengalami gangguan kesehatan yang terlihat dalam aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Pengumuman Hasil UKKJ JF Guru 2026 Periode 1, Cek Daftar Nama dan Link Resmi
Kucing calico jantan dengan kondisi XXY tetap dapat menjalani kehidupan normal, seperti makan, bermain, dan beraktivitas layaknya kucing lainnya.
Di sisi lain, tidak semua calico jantan harus langsung dianggap memiliki kromosom XXY.
Ada mekanisme genetik lain yang juga dapat menghasilkan pola warna tiga warna pada kucing jantan.
Karena itu, warna bulu saja tidak dapat digunakan untuk memastikan kondisi kromosom seekor kucing.
Pemeriksaan genetik atau kromosom diperlukan apabila pemilik ingin mengetahui penyebab pasti munculnya pola calico pada kucing jantan.
Dengan demikian, kelangkaan calico jantan terutama berkaitan dengan faktor genetika, bukan karena kucing tersebut pasti tidak dapat bertahan hidup.
Baca Juga: Kronologi Guru SMKN 2 Panyabungan Ditemukan Meninggal di Dapur Rumah, 2 Hari Hp Tak Aktif
Jika menemukan kucing calico jantan, keberadaannya memang tergolong tidak biasa.
Namun, kucing tersebut tidak perlu dianggap sebagai kucing yang pasti sakit hanya karena memiliki pola warna yang langka.
Yang membedakannya, terutama pada kasus XXY, adalah kondisi kromosom dan kemungkinan gangguan reproduksi yang menyertainya.***




