POJOKSATU.id - Suara ngorok saat tidur mungkin sudah dianggap biasa.
Namun, kalau dengkuran terdengar keras dan terjadi terus-menerus, jangan buru-buru menganggapnya sekadar kebiasaan.
Mendengkur terjadi ketika aliran udara melewati saluran pernapasan bagian atas yang menyempit.
Saat tidur, otot di sekitar leher, lidah, dan langit-langit mulut menjadi lebih rileks.
Jaringan di area tersebut kemudian dapat menghalangi sebagian jalan napas dan bergetar ketika udara melewatinya.
Akibatnya, muncullah suara dengkuran.
Sesekali ngorok, misalnya ketika sedang pilek atau kelelahan, belum tentu menandakan masalah serius.
Namun, dengkuran yang berat dan disertai gangguan pernapasan patut diperhatikan karena bisa berkaitan dengan Obstructive Sleep Apnea (OSA).
Kondisi tersebut membuat napas berhenti sementara ketika seseorang sedang tidur.
Dampaknya bukan cuma membuat pasangan terganggu, tetapi juga dapat menyebabkan tidur tidak berkualitas.
Seseorang bisa bangun dalam kondisi tetap lelah, sulit berkonsentrasi, atau lebih mudah mengantuk dan emosional pada siang hari.
Mulai dari Mengubah Posisi Tidur
Salah satu langkah yang dapat dicoba adalah menghindari posisi tidur telentang.
Ketika tubuh telentang, gravitasi dapat membuat pangkal lidah dan jaringan lunak di sekitar tenggorokan bergerak ke belakang.
Kondisi tersebut berpotensi mempersempit jalur udara.
Sebaliknya, tidur menyamping dapat membantu menjaga saluran pernapasan tetap lebih terbuka.
Bagi orang yang sering tanpa sadar kembali telentang ketika tidur, bantal tubuh berukuran panjang bisa digunakan untuk membantu mempertahankan posisi menyamping.
Perhatikan Berat Badan
Berat badan berlebih juga dapat berkontribusi terhadap munculnya dengkuran.
Penumpukan jaringan lemak di sekitar leher dan tenggorokan dapat membuat ruang saluran napas menjadi lebih sempit.
Karena itu, menjaga berat badan tetap sehat dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi dengkuran, terutama jika kelebihan berat badan menjadi salah satu faktor pemicunya.
Perubahan gaya hidup yang dilakukan secara konsisten bukan hanya berpotensi membantu masalah ngorok, tetapi juga mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Posisi Kepala Bisa Ikut Berpengaruh
Cara lain yang dapat dicoba adalah mengatur posisi kepala saat tidur.
Kepala dapat dibuat sedikit lebih tinggi dengan menggunakan bantal yang mampu menopang leher dengan nyaman.
Posisi tersebut dapat membantu menjaga jalan napas tetap terbuka dan membuat pernapasan terasa lebih lega, terutama ketika hidung sedang tersumbat akibat pilek.
Namun, jangan sampai penggunaan bantal terlalu tinggi justru membuat leher tertekuk.
Kenyamanan dan posisi tubuh tetap perlu diperhatikan.
Hidung Tersumbat Jangan Diabaikan
Gangguan pernapasan melalui hidung juga bisa memperburuk dengkuran.
Alergi, pilek, atau pembengkakan jaringan di dalam hidung dapat membuat seseorang lebih sulit bernapas melalui hidung saat tidur.
Membersihkan hidung dengan cairan saline atau menggunakan alat pelebar saluran hidung dapat menjadi pilihan bagi sebagian orang.
Perbaikan aliran udara melalui hidung dapat membantu mengurangi hambatan pernapasan.
Namun, penggunaan semprotan hidung dekongestan tertentu tidak sebaiknya dilakukan sembarangan.
Produk yang mengandung oxymetazoline, misalnya, umumnya hanya digunakan dalam jangka pendek sesuai petunjuk karena pemakaian terlalu lama dapat memicu hidung tersumbat kembali.
Kapan Ngorok Perlu Diperiksa?
Nah, bagian ini penting. Tidak semua dengkuran harus membuat panik, tetapi ada tanda-tanda yang sebaiknya tidak diabaikan.
Jika seseorang sering terbangun karena terengah-engah, mengalami jeda napas saat tidur, tersedak ketika tidur, atau tetap merasa sangat lelah meski waktu tidurnya cukup, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan.
Keluhan tersebut dapat mengarah pada gangguan tidur seperti OSA yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Dokter dapat menilai kondisi pasien dan, bila diperlukan, merekomendasikan pemeriksaan tidur seperti polisomnografi untuk mengetahui pola pernapasan selama tidur.
Terapi yang tepat tentu bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan gangguan.
Karena itu, jangan hanya mengandalkan cara rumahan apabila dengkuran sudah disertai gangguan pernapasan atau keluhan lain.***




