POJOKSATU.id - Rasa gatal yang disertai kulit kemerahan dan kering sering kali dianggap sebagai masalah kulit biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda eksim atau dermatitis.
Eksim adalah salah satu penyakit kulit yang cukup sering dialami, baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Pada anak, gejala eksim umumnya akan berangsur membaik seiring bertambahnya usia.
Namun, pada sebagian orang, keluhan dapat muncul berulang sehingga membutuhkan penanganan medis agar tidak semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Kuliah Umum di UNDIP, Menkeu Purbaya Paparkan Peran APBN Wujudkan Indonesia Maju 2045
Eksim sendiri memiliki berbagai jenis dengan penyebab yang berbeda-beda.
Karena itu, dokter biasanya akan mencari tahu faktor pemicu sebelum menentukan pengobatan yang paling sesuai.
Proses diagnosis dilakukan dengan menelusuri riwayat makanan dan minuman yang dikonsumsi, penggunaan sabun, sampo, kosmetik, maupun deterjen.
Dokter juga akan menanyakan aktivitas sehari-hari, misalnya kebiasaan berenang, berada di alam terbuka, hingga durasi dan suhu air saat mandi.
Baca Juga: Surplus Perdagangan Indonesia Menyusut Tajam, Mendag Sebut Sektor Nonmigas Masih Jadi Penopang
Selain itu, tingkat stres juga menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan karena dapat memengaruhi munculnya gejala eksim pada sebagian penderita.
Dalam beberapa kasus, dokter dapat melakukan tes tempel atau patch test.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menempelkan sejumlah zat yang diduga menjadi pemicu alergi pada kulit untuk mengetahui apakah tubuh memberikan reaksi tertentu.
Hasil pemeriksaan tersebut membantu dokter mengidentifikasi zat yang memicu eksim sehingga penderita dapat menghindarinya di kemudian hari.
Selain mengetahui penyebabnya, pencegahan juga menjadi langkah penting agar eksim tidak mudah kambuh.
Salah satunya adalah menjaga kelembapan kulit agar tidak terlalu kering maupun terlalu lembap akibat keringat berlebih.
Mengelola stres dengan baik juga dianjurkan karena kondisi psikologis dapat memengaruhi kesehatan kulit. Jika memiliki alergi terhadap makanan tertentu, sebaiknya hindari konsumsi makanan tersebut agar tidak memicu kekambuhan.
Penggunaan produk perawatan kulit juga perlu diperhatikan.
Pilih sabun, sampo, maupun produk lain yang tidak mengandung bahan pemicu iritasi atau alergi.
Selain itu, hindari perubahan suhu yang terlalu ekstrem, jangan mandi dengan air yang terlalu panas, serta gunakan sarung tangan atau pelindung saat bersentuhan dengan deterjen maupun bahan kimia lainnya.
Apabila eksim terus muncul atau semakin parah, dokter dapat memberikan pengobatan sesuai penyebabnya.
Baca Juga: HP Lipat Diprediksi Meledak pada 2026, Ponsel Biasa Mulai Kehilangan Daya Tarik
Beberapa terapi yang umum digunakan antara lain antibiotik jika terjadi infeksi bakteri pada kulit, antihistamin untuk membantu meredakan rasa gatal, serta krim atau salep kortikosteroid guna mengurangi peradangan.
Dokter juga dapat meresepkan obat golongan inhibitor kalsineurin, seperti tacrolimus atau pimecrolimus, yang bekerja menekan respons sistem imun penyebab kulit menjadi merah dan gatal.
Pada kondisi tertentu, terapi cahaya atau phototherapy juga dapat menjadi pilihan untuk membantu meredakan ruam dan mempercepat proses penyembuhan.
Sementara jika eksim dipicu oleh reaksi alergi, menghindari zat pemicunya menjadi bagian penting dari penanganan jangka panjang.
Baca Juga: Cek 4 Rekomendasi Laptop untuk Pelajar 2026, Performa Andal untuk Belajar hingga Kelas Online
Meski sering dianggap sebagai gangguan kulit ringan, eksim tetap membutuhkan perhatian agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Mengenali pemicu eksim sejak dini dengan tepat menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan kulit. ***




