POJOKSATU.id — Sebagian orang mungkin pernah mengalami adonan cireng yang terasa aneh.

Saat diaduk perlahan teksturnya terlihat cair, tetapi ketika ditekan atau diberi tekanan justru terasa lebih padat.

Fenomena tersebut dikenal sebagai cairan non-Newtonian.

Berbeda dengan air atau minyak yang memiliki tingkat kekentalan tetap, cairan non-Newtonian merupakan zat yang kekentalannya dapat berubah tergantung pada tekanan atau gaya yang diberikan.

Baca Juga: Sinopsis Toy Story 5, Woody hingga Jessie Kembali Hadapi Ancaman Baru dari Dunia Digital

Bahan semacam ini dapat bersifat lebih padat ketika ditekan, namun kembali lebih cair saat dibiarkan atau diaduk secara perlahan.

Fenomena tersebut juga dapat muncul pada adonan berbahan dasar tepung tapioka atau aci apabila perbandingan antara tepung dan air tidak tepat.

Akibatnya, adonan menjadi sulit dibentuk dan hasil cireng tidak sesuai harapan.

Salah satu penyebab paling umum adalah penggunaan air yang terlalu banyak.

Baca Juga: Syarat CPNS 2026 Terbaru, Ini Batas Usia hingga Dokumen yang Wajib Disiapkan Pelamar

Jumlah air yang berlebihan membuat partikel pati dari tepung tapioka tersuspensi sehingga menghasilkan tekstur yang menyerupai cairan non-Newtonian.

Selain itu, penggunaan air yang tidak cukup panas juga dapat memengaruhi tekstur adonan.

Dalam pembuatan cireng, sebagian tepung sebaiknya diseduh menggunakan air mendidih agar pati mengalami proses gelatinisasi sehingga tekstur adonan menjadi lebih stabil dan mudah dibentuk.

Penyebab lainnya adalah proses pengadukan yang terlalu lama.

Menguleni adonan secara berlebihan justru dapat membuat teksturnya semakin lengket dan kurang elastis.

Kesalahan lain yang cukup sering terjadi ialah mencampurkan seluruh tepung dengan air secara bersamaan.

Cara tersebut dapat menyebabkan adonan menjadi terlalu lembek dan sulit dipulung.

Baca Juga: Demo Mahasiswa Kembali Menyeruak Jumat Sore 19 Juni, Kali Ini Sasar Gedung DPR Senayan

Agar adonan cireng tidak berubah menjadi seperti cairan non-Newtonian, penggunaan air mendidih sangat dianjurkan.

Air panas membantu pati tapioka membentuk struktur gel yang lebih baik sehingga tekstur adonan menjadi lebih stabil.

Penambahan air juga sebaiknya dilakukan secara bertahap. Dengan cara tersebut, takaran air dapat disesuaikan sehingga adonan tidak menjadi terlalu encer.

Cara lainnya adalah dengan menyeduh sebagian tepung terlebih dahulu hingga membentuk pasta, kemudian mencampurkannya dengan sisa tepung yang masih kering.

Baca Juga: Bupati Tanggamus Terseret Dugaan Penipuan Jual Beli Tanah di Curug Tangerang Senilai Rp50 M

Teknik ini umum digunakan untuk menghasilkan cireng yang renyah di bagian luar tetapi tetap kenyal di bagian dalam.

Saat mengaduk adonan, sebaiknya dilakukan secukupnya hingga seluruh bahan tercampur rata.

Menguleni terlalu lama justru dapat membuat hasil akhir cireng menjadi alot.

Apabila adonan sudah terlanjur terlalu cair, tepung tapioka dapat ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga diperoleh tekstur yang lebih kalis dan mudah dibentuk.

Baca Juga: BI: Kenaikan Harga Pertamax Diperkirakan Sumbang Inflasi 0,25 Persen, Ternyata Ini Penyebabnya

Sebagai panduan sederhana, perbandingan yang umum digunakan adalah 250 gram tepung tapioka dengan 150 hingga 180 mililiter air mendidih.

Sebagian tepung, sekitar 50 gram, diseduh terlebih dahulu hingga membentuk pasta sebelum dicampurkan dengan sisa tepung kering.

Cara tersebut dapat membantu menghasilkan cireng dengan tekstur yang lebih baik dan meminimalkan kegagalan saat mengolah adonan.***