POJOKSATU.id - Kitab suci Alquran merupakan sumber hukum dan pedoman hidup bagi umat Islam. Lalu mengapa Khalifah Utsman bin Affan mengumpulkan Alquran menjadi satu mushaf?
Dikutip dari buku Quran Hadis, Muhaemin (2020:15) Alquran dan hadis merupakan landasan bagi kaum muslimin dalam menjalani kehidupan, karena di dalamnya terdapat berbagai aturan duniawi maupun ukhrawi.
Alasan Mengapa Khalifah Utsman bin Affan Mengumpulkan Alquran Menjadi Satu Mushaf
Saat ini, umat Islam memiliki kitab Alquran yang sama dan seragam berkat adanya upaya kodifikasi Alquran yang dimulai sejak zaman Rasulullah.
Pengumpulan dan penulisan atau kodifikasi Alquran berlangsung selama tiga periode, yakni periode Nabi Muhammad, periode Khalifah Abu Bakar, dan periode Khalifah Utsman bin Affan.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, ayat-ayat Alquran diturunkan secara bertahap melalui perantara Malaikat Jibril.
Para sahabat menghafal ayat-ayat tersebut dan sebagian di antaranya juga menuliskannya pada berbagai media yang tersedia saat itu, seperti pelepah kurma, batu tipis, tulang belikat hewan, kulit, serta lembaran-lembaran lainnya.
Setiap kali wahyu turun, Rasulullah akan memerintahkan para sahabat penulis wahyu untuk mencatatnya.
Selain itu, beliau juga menjelaskan penempatan ayat dalam surat tertentu.
Dengan demikian, pada masa Nabi Muhammad SAW, Alquran telah terjaga melalui hafalan para sahabat dan catatan-catatan yang tersebar.
Setelah Rasulullah wafat, muncul kekhawatiran di kalangan para sahabat tentang keberlangsungan penjagaan Alquran.
Kekhawatiran ini semakin besar ketika terjadi Perang Yamamah pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Dalam perang tersebut banyak sahabat yang hafal Alquran gugur di medan perang.
Peristiwa ini membuat Umar bin Khattab mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar Alquran segera dikumpulkan dalam satu mushaf agar tidak hilang bersama wafatnya para penghafalnya.
Akhirnya Abu Bakar menyetujui usulan tersebut dan menunjuk Zaid bin Tsabit untuk memimpin proses pengumpulan Alquran.
Zaid dipilih karena ia merupakan salah satu penulis wahyu pada masa Rasulullah dan dikenal memiliki hafalan yang kuat serta ketelitian yang tinggi.
Baca Juga: Berkendara Lebih Aman, Ini Cara Aman Menggunakan Rem Depan Motor agar Tak Kehilangan Kendali
Proses pengumpulan dilakukan dengan sangat hati-hati.
Setiap ayat harus disaksikan oleh dua orang saksi yang memastikan bahwa ayat tersebut benar-benar ditulis di hadapan Rasulullah dan dihafal oleh para sahabat.
Hasil pengumpulan ini kemudian disusun menjadi satu mushaf yang dikenal sebagai mushaf Abu Bakar.
Mushaf tersebut disimpan oleh Abu Bakar hingga beliau wafat, kemudian berpindah kepada Umar bin Khattab, dan setelah Umar wafat mushaf itu disimpan oleh Hafshah binti Umar, salah satu istri Rasulullah.
Perbedaan Cara Membaca Alquran
Seiring meluasnya wilayah kekuasaan Islam hingga ke berbagai daerah seperti Syam, Irak, dan Persia, umat Islam berasal dari latar belakang suku dan bahasa yang berbeda.
Hal ini menyebabkan munculnya perbedaan dalam cara membaca Alquran atau yang dikenal dengan istilah qiraat.
Perbedaan ini sebenarnya masih dalam batas yang diperbolehkan, karena Alquran memang diturunkan dengan beberapa dialek Arab.
Namun dalam praktiknya, sebagian masyarakat mulai saling menyalahkan bacaan satu sama lain.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan munculnya perpecahan di kalangan umat Islam.
Salah satu sahabat Nabi, Hudzaifah bin Al-Yaman, yang saat itu ikut dalam ekspedisi militer di wilayah Armenia dan Azerbaijan, melihat langsung perbedaan bacaan Alquran yang diperdebatkan oleh kaum muslimin dari berbagai daerah.
Baca Juga: Malam Nuzulul Quran 2026, Ini Keutamaan dan Amalan yang Dianjurkan
Hudzaifah kemudian mendatangi Khalifah Utsman bin Affan dan menyampaikan kekhawatirannya.
Ia meminta agar umat Islam segera disatukan dalam satu mushaf standar sebelum mereka berselisih seperti kaum Yahudi dan Nasrani mengenai kitab suci mereka.
Pembentukan Tim Penulisan Mushaf Utsmani
Mendengar laporan tersebut, Khalifah Utsman bin Affan segera mengambil langkah untuk menyatukan bacaan Alquran.
Ia meminta mushaf yang disimpan oleh Hafshah untuk dijadikan rujukan utama.
Utsman kemudian membentuk tim penulisan Alquran yang terdiri dari para sahabat yang ahli dalam penulisan dan hafalan Alquran.
Tim tersebut antara lain Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam.
Tugas tim ini adalah menyalin mushaf yang ada pada Hafshah menjadi beberapa mushaf baru dengan standar penulisan yang sama.
Penyalinan ini dilakukan dengan sangat teliti agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan ayat.
Dalam proses tersebut, Khalifah Utsman juga memberikan arahan bahwa jika terjadi perbedaan pendapat mengenai dialek bahasa, maka penulisan harus mengikuti dialek Quraisy.
Hal ini karena Alquran diturunkan dalam bahasa suku Quraisy, yaitu suku Nabi Muhammad SAW.
Mushaf Utsmani Menjadi Standar
Setelah proses penyalinan selesai, beberapa mushaf dikirim ke berbagai wilayah pusat pemerintahan Islam seperti Kufah, Basrah, Syam, dan Makkah.
Setiap wilayah juga disertai seorang qari atau pengajar yang bertugas membimbing masyarakat membaca Alquran sesuai mushaf tersebut.
Baca Juga: Jadwal Malam Nuzulul Quran 2026 Berbeda, Ini Tanggal Menurut Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah
Khalifah Utsman kemudian memerintahkan agar naskah-naskah Alquran lain yang berbeda dengan mushaf standar tersebut disimpan atau tidak lagi digunakan secara umum.
Kebijakan ini dilakukan bukan untuk menghilangkan ayat, tetapi untuk mencegah terjadinya perbedaan bacaan yang dapat memicu perselisihan.
Mushaf yang disusun pada masa Khalifah Utsman ini kemudian dikenal sebagai Mushaf Utsmani. Mushaf inilah yang menjadi dasar bagi penulisan dan penyebaran Alquran hingga sekarang.
Upaya Khalifah Utsman bin Affan tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga keaslian Alquran.
Berkat usaha para sahabat dalam mengumpulkan, menulis, dan menjaga mushaf tersebut, umat Islam di seluruh dunia dapat membaca Alquran yang sama tanpa perubahan isi sedikit pun, hingga hari ini.
Baca Juga: OTT Bea Cukai Berbuntut Panjang, KPK Bakal Periksa Produsen Rokok yang Diduga Suap Oknum Ditjen DJBC
Hingga kini, Alquran tetap terjaga keasliannya dan menjadi pedoman hidup bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. ***




