POJOKSATU.ID – Kedatangan bulan suci Ramadan selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh masyarakat Indonesia.
Sebagai negara dengan keragaman budaya yang luar biasa, setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa syukur dan sukacita dalam menyambut bulan penuh berkah ini.
Namun, seiring berjalannya waktu dan modernisasi, beberapa tradisi leluhur yang sarat makna mulai jarang ditemui atau hanya dilakukan oleh segelintir komunitas.
Baca Juga: Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh Menjadi Jejak Sejarah, Simbol Perjuangan, dan Saksi Tsunami 2004
Berikut adalah 7 tradisi unik dari berbagai penjuru Nusantara yang kini tergolong mulai langka:
1. Meugang (Aceh)
Tradisi memasak daging sapi atau kerbau dan menikmatinya bersama keluarga serta yatim piatu ini masih ada, namun kemeriahannya mulai bergeser.
Dahulu, seluruh desa akan dipenuhi aroma masakan daging yang semerbak sebagai simbol pemuliaan terhadap bulan Ramadan.
Kini, tingginya harga daging dan gaya hidup praktis membuat tradisi makan besar bersama ini mulai menyusut di beberapa wilayah perkotaan di Aceh.
Baca Juga: PW GPA Al Washliyah DKI Jakarta: Polri Harus Tetap di Bawah Presiden
2. Malam Selikuran (Surakarta & Yogyakarta)
Berakar dari zaman Kesultanan Mataram, tradisi ini biasanya dilakukan untuk menyambut malam ke-21 Ramadan.
Meski identik dengan pertengahan bulan, persiapannya dimulai sejak sebelum Ramadan.
Masyarakat membawa tumpeng dan lampion sebagai simbol cahaya (petunjuk).
Saat ini, iring-iringan lampion yang memenuhi jalanan kota mulai jarang terlihat, kecuali di lingkungan keraton atau desa wisata tertentu.
3. Nyorog (Betawi)
Bagi warga Betawi, Nyorog adalah tradisi membagikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua atau tokoh masyarakat.
Tujuannya adalah mempererat silaturahmi sebelum menjalankan ibadah puasa.
Sayangnya, tradisi mengantar rantang berisi masakan khas seperti sayur gabus pucung ini kini mulai tergantikan oleh pengiriman paket hampers instan melalui layanan ojek online.
4. Perlon Unggahan (Banyumas)
Tradisi unik dari desa-desa di Banyumas ini melibatkan prosesi ziarah kubur massal dan makan bersama di atas daun pisang.
Yang membuatnya langka adalah syarat masakan yang harus disajikan, seperti sayur lodeh kupat dan serundeng sapi yang diolah secara tradisional selama seharian penuh.
Proses memasak gotong royong menggunakan kayu bakar inilah yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda.
Baca Juga: Ramadan Tiba, Pemkot Bandung Gencarkan Razia Gepeng dan Tutup Tempat Hiburan Malam
5. Pacu Jalur (Riau)
Di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, masyarakat menyambut Ramadan dengan perlombaan sampan tradisional yang disebut Pacu Jalur.
Perlombaan ini diakhiri dengan tradisi mandi balimau (mandi jeruk nipis) sebagai simbol penyucian diri.
Karena membutuhkan biaya besar untuk pembuatan perahu dan koordinasi massa, pelaksanaannya kini lebih sering bergantung pada agenda festival pemerintah ketimbang inisiatif murni warga.
6. Dendang Sahur (Maluku)
Di wilayah Maluku, terdapat tradisi membangunkan sahur dengan musik dan nyanyian yang harmonis menggunakan rebana dan alat musik tradisional lainnya.
Berbeda dengan cara membangunkan sahur modern yang terkadang menggunakan pengeras suara masjid atau bunyi-bunyian asal, Dendang Sahur adalah pertunjukan seni yang indah.
Sayangnya, pemuda yang menguasai syair-syair tradisional ini kian berkurang jumlahnya.
Baca Juga: Alih Status Dosen PPPK ke PNS Ditunda, Pemerintah Minta Tunggu Tahapan
7. Megibung (Bali)
Meski Bali mayoritas beragama Hindu, komunitas Muslim di Karangasem memiliki tradisi Megibung, yaitu makan bersama dalam satu wadah besar yang disebut selaka.
Tradisi ini mengajarkan kesetaraan tanpa memandang kasta atau status sosial.
Meski masih dipraktikkan, durasi dan tata cara protokol adat dalam Megibung mulai banyak dipangkas agar lebih cepat dan praktis.
Menjaga Warisan di Tengah Modernitas Keberadaan tradisi-tradisi di atas bukan sekadar seremoni, melainkan perekat sosial yang memperkuat identitas bangsa.
Upaya pelestarian melalui festival budaya dan dokumentasi digital diharapkan dapat memperkenalkan kembali kekayaan ini kepada generasi Z dan Alpha agar tidak hilang ditelan zaman.***




