POJOKSATU.id — Istilah toxic positivity semakin sering dibahas, terutama di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental.

Sikap ini merujuk pada dorongan untuk selalu berpikir positif secara berlebihan, bahkan ketika seseorang sedang menghadapi kesedihan, stres, atau masalah serius dalam hidupnya.

Sekilas, anjuran untuk tetap positif terdengar baik.

Baca Juga: Benarkah Mi Instan Sulit Dicerna Tubuh? Ini Fakta dan Batas Aman Konsumsinya

Namun, ketika perasaan sedih, marah, atau kecewa justru diabaikan dan ditekan, kondisi tersebut dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental.

Emosi negatif sebenarnya merupakan bagian alami dari pengalaman manusia yang perlu diakui, bukan disangkal.

Toxic positivity kerap muncul dalam kalimat sederhana seperti “jangan sedih,” “harus tetap kuat,” atau “pasti ada hikmahnya”.

Baca Juga: GA PUNYA HATI! Viral Diduga Seorang Nenek-Nenek Ditipu dengan Uang Palsu, Rp200 Ribu Raib Jadi Rp20 Ribuan Palsu!

Meski dimaksudkan sebagai dukungan, respons seperti ini dapat membuat seseorang merasa tidak dipahami karena emosinya tidak divalidasi.

Dampak dari toxic positivity tidak bisa dianggap sepele.

Perasaan yang terus dipendam berisiko menumpuk dan memicu tekanan emosional yang lebih besar.

Baca Juga: Awal Puasa 2026 Dimulai 18 Februari, Siswa SD–SMA Dapat Libur Panjang hingga Lebaran

Selain itu, seseorang juga dapat merasa bersalah karena tidak mampu merasa bahagia seperti yang diharapkan lingkungan sekitarnya.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menghambat proses penyembuhan emosi serta membuat hubungan sosial terasa kurang hangat dan terbuka.

Sebaliknya, sikap positif yang sehat justru dimulai dari penerimaan terhadap emosi.

Baca Juga: Dana Negara Sudah Turun, Order Tak Kunjung Datang: Purbaya Semprot KKP di Depan Pengusaha Kapal

Mengakui bahwa situasi memang sulit, memberi ruang untuk bercerita, serta menawarkan dukungan tanpa menghakimi merupakan bentuk empati yang lebih membantu.

Setelah emosi diterima, barulah harapan dan motivasi dapat diberikan secara perlahan.

Memahami perbedaan antara optimisme yang sehat dan toxic positivity menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan mental.

Baca Juga: Wacana Pilpres 2029 Mulai Menghangat, PAN Usung Zulhas, PSI Serahkan Segalanya ke Prabowo

Bersikap positif tetap diperlukan, tetapi tidak dengan menolak kenyataan perasaan yang sedang dialami.

Dengan memberi ruang pada seluruh emosi, baik menyenangkan maupun menyakitkan, seseorang dapat menjalani proses pemulihan secara lebih utuh dan sehat.***