POJOKSATU.id - Bagi orang dewasa, Tahun Baru sering diidentikkan dengan resolusi, pesta, atau hitung-hitungan anggaran.

Namun bagi anak, pergantian tahun punya makna yang jauh lebih sederhana. Mereka jarang mengingat ke mana keluarga pergi atau berapa mahal perayaannya.

Yang tertinggal justru potongan kecil suasana: tawa di ruang tamu, aroma masakan, atau cerita sebelum tidur di malam terakhir tahun.

Psikologi perkembangan anak mencatat bahwa memori jangka panjang anak lebih kuat terbentuk dari pengalaman emosional dibandingkan kejadian besar yang bersifat visual semata.

Baca Juga: Update! Korban Tewas Bencana Sumatera Tembus 1.068 Jiwa, Negara Dinilai Kalah Cepat dari Alam

Penelitian tentang memori anak menunjukkan bahwa hingga usia sekolah dasar, ingatan paling melekat berasal dari interaksi sosial yang berulang dan penuh emosi, bukan dari peristiwa tunggal yang megah.

Di Indonesia, pola perayaan Tahun Baru keluarga juga cenderung sederhana. Survei gaya hidup keluarga perkotaan menunjukkan lebih dari 60 persen keluarga memilih merayakan Tahun Baru di rumah.

Angka ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelum pandemi, dan hingga kini kebiasaan tersebut masih bertahan.

Bagi anak, kebiasaan inilah yang justru membentuk rasa aman dan kedekatan.

Baca Juga: IPB University Resmi Luncurkan Program Doktor Ilmu Manajemen, Pendaftaran Dibuka 20 Oktober 2025

Beranjak dari rutinitas sekolah menuju liburan akhir tahun, anak sebenarnya berada pada fase emosional yang sensitif.

Perubahan jam tidur, pola bermain, dan intensitas bertemu orang tua membuat mereka lebih peka terhadap suasana.

Maka, cara orang tua hadir di momen Tahun Baru menjadi sangat menentukan apa yang akan mereka ingat.

Apa yang Sebenarnya Diingat Anak Saat Tahun Baru

Berbagai studi perkembangan anak menunjukkan bahwa sekitar 70 persen memori masa kecil yang bertahan hingga dewasa berkaitan dengan relasi emosional, bukan benda atau lokasi.

Baca Juga: Ramai Klaim TPG THR 100 Persen Sudah Cair, Simak Isi Email Balasan Kemenkeu Prime

Dari sini, kita bisa melihat bahwa sudut pandang anak terhadap Tahun Baru sangat berbeda dengan orang dewasa.

Bagi anak, Tahun Baru bukan tentang kembang api paling besar, melainkan siapa yang duduk di samping mereka saat hitung mundur.

Bukan soal menu mahal, tetapi momen ketika orang tua meluangkan waktu tanpa terganggu gawai.

Hal-Hal Kecil yang Diam-Diam Membekas di Ingatan Anak

Berikut beberapa hal sederhana yang sering kali menjadi memori kuat anak saat Tahun Baru dan Liburan Akhir Tahun.

- Waktu orang tua yang utuh

Anak sangat peka terhadap kehadiran emosional. Studi perilaku keluarga menunjukkan bahwa anak merasa lebih bahagia ketika orang tua memberikan perhatian penuh, meski hanya 20–30 menit tanpa distraksi.

Baca Juga: 5 Solusi Bagi Guru Bersertifikasi yang TPG Triwulan 3 dan 4 Belum Cair hingga Bulan Desember Ini!

- Ritual kecil yang berulang

Menonton acara yang sama setiap Tahun Baru, makan bersama di jam tertentu, atau doa keluarga sebelum tidur menjadi jangkar memori yang kuat.

- Suasana rumah yang berbeda

Lampu hias sederhana, tata ruang yang sedikit berubah, atau musik yang jarang diputar memberi sinyal pada anak bahwa hari itu istimewa.

- Respons emosional orang tua

Anak lebih mudah mengingat ekspresi orang tua—tertawa, tersenyum, atau memeluk—dibandingkan detail acara. Psikolog anak menyebut emosi sebagai “lem perekat memori”.

Baca Juga: Seleksi Administrasi PPG Guru Tertentu Periode 5 akan Ditutup! Guru Perhatikan Beberapa Hal Penting Ini Sebelum Ajukan Pendaftaran!

- Kesempatan didengar

Saat anak diberi ruang bercerita tentang harapan Tahun Baru, mereka merasa dihargai. Rasa ini berkontribusi besar pada pembentukan kepercayaan diri.

- Aktivitas sederhana yang dilakukan bersama

Bermain kartu, memasak bersama, atau menulis harapan Tahun Baru lebih membekas dibandingkan aktivitas pasif seperti menonton.

Mengapa Kesederhanaan Justru Lebih Kuat

Data kesejahteraan anak menunjukkan bahwa stabilitas emosional keluarga berperan besar dalam kebahagiaan anak.

Anak yang tumbuh dengan rutinitas keluarga yang konsisten memiliki risiko stres emosional lebih rendah hingga 30 persen dibandingkan anak yang jarang memiliki waktu keluarga.

Baca Juga: KPM Sudah Graduasi tapi Tidak Tanda Tangan, Haruskah Kembalikan Uang Bansos?

Dalam konteks Tahun Baru, konsistensi ini tercermin dari kehadiran orang tua yang tidak terburu-buru mengejar kesempurnaan acara.

Saat orang tua tenang, anak merasa aman. Saat suasana hangat, memori pun terbentuk secara alami.

Tahun Baru Bukan Tentang Besarnya Acara

Bagi anak, Tahun Baru adalah bagian dari cerita keluarga. Cerita itu dibangun dari detail kecil yang mungkin luput dari perhatian orang dewasa. Justru di sanalah letak kekuatannya.

Ketika orang tua berhenti mengejar perayaan ideal versi media sosial, dan mulai memerhatikan apa yang benar-benar dirasakan anak, Tahun Baru berubah menjadi momen yang lebih jujur dan bermakna. ***