POJOKSATU.id - Diare adalah sebuah kondisi ketika pengidapnya buang air besar (BAB) lebih sering dari biasanya.
Kondisi ini bisa menyebabkan seseorang BAB sebanyak tiga kali atau lebih dalam satu hari. Selain itu, feses yang keluar juga lebih encer.
Dalam catatan pafimagelang.org ada dua jenis diare yang bisa terjadi, yaitu akut atau kronis (persisten):
1. Diare Akut
Diare akut adalah jenis yang berlangsung dalam waktu singkat. Ini adalah masalah kesehatan yang umum terjadi.
Biasanya, kondisi ini berlangsung sekitar satu atau dua hari, tapi bisa juga lebih lama, kemudian menghilang dengan sendirinya.
2. Diare Kronis
Jenis diare ini berbeda dengan diare akut yang umum terjadi. Diare kronis merujuk pada diare yang berlangsung lebih dari empat minggu. Gejalanya bisa berkelanjutan atau muncul secara sporadis.
Diare kronis bisa menjadi tanda dari masalah kesehatan yang lebih serius, seperti gangguan pencernaan kronis atau penyakit lain yang memengaruhi saluran pencernaan.
Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab diare. Umumnya, gangguan pencernaan ini terjadi akibat beberapa hal berikut:
1. Virus
Beberapa virus yang bisa menyebabkan diare antara lain virus Norwalk (dikenal juga sebagai norovirus), adenovirus enterik, astrovirus, cytomegalovirus, dan virus yang menyebabkan hepatitis.
Rotavirus adalah penyebab umum diare mendadak pada anak-anak. Virus penyebab COVID-19 juga telah dikaitkan dengan gejala gastrointestinal, seperti mual, muntah, dan diare.
2. Bakteri dan parasit
Paparan bakteri tertentu seperti Escherichia coli atau parasit melalui makanan atau air yang terkontaminasi dapat menyebabkan diare.
Saat bepergian ke daerah yang kurang higienis, diare yang disebabkan oleh bakteri atau parasit sering disebut sebagai diare pelancong (traveler’s diarrhea).
Clostridioides difficile (C. diff) adalah bakteri lain yang menyebabkan diare, dan ini bisa terjadi setelah penggunaan antibiotik atau selama perawatan di rumah sakit.
3. Obat-obatan
Obat-obatan, seperti antibiotik, dapat menyebabkan diare.
Antibiotik bekerja melawan infeksi dengan membunuh bakteri penyebab penyakit, tetapi mereka juga membunuh bakteri baik yang membantu tubuh.
Hal ini mengganggu keseimbangan alami bakteri di usus, yang dapat menyebabkan diare atau infeksi seperti C. diff.
Obat lain yang dapat menyebabkan diare termasuk obat kemoterapi dan antasida yang mengandung magnesium.
4. Intoleransi laktosa
Laktosa adalah gula yang ditemukan dalam susu dan produk susu lainnya. Orang yang kesulitan mencerna laktosa sering mengalami diare setelah mengonsumsi produk susu.
Intoleransi laktosa dapat meningkat seiring bertambahnya usia karena kadar enzim yang membantu mencerna laktosa menjadi semakin rendah.
5. Fruktosa
Fruktosa adalah gula yang secara alami ditemukan dalam buah-buahan dan madu.
Kadang-kadang ditambahkan sebagai pemanis ke beberapa minuman. Fruktosa dapat menyebabkan diare pada orang yang kesulitan mencernanya.
6. Pemanis buatan
Sorbitol, erythritol, dan mannitol merupakan bahan yang sering digunakan untuk pemanis buatan dalam permen karet dan produk bebas gula lainnya.
Kandungan ini dapat menyebabkan diare pada beberapa orang yang sehat.
7. Operasi
Operasi pengangkatan sebagian usus atau kandung empedu terkadang juga bisa menyebabkan diare sebagai efek samping tindakan.
Sebab, operasi dapat menyebabkan makanan bergerak melalui sistem pencernaan dengan lebih cepat.
Akan tetapi, kondisi ini biasanya akan berangsur membaik dengan sendirinya.
8. Gangguan pencernaan lainnya
Diare kronis juga dapat disebabkan oleh kondisi seperti sindrom iritasi usus (IBS), penyakit Crohn, kolitis ulseratif, penyakit celiac, kolitis mikroskopis, dan pertumbuhan bakteri berlebih di usus kecil (small intestinal bacterial overgrowth atau SIBO).***




