POJOKSATU.id - Stasiun Tanjung Priok merupakan salah satu stasiun peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang menjadi bangunan cagar budaya dan objek wisata.
Stasiun Tanjung Priok yang menjadi bangunan cagar budaya dan objek wisata ini terletak di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Stasiun Tanjung Priok sudah dijadikan cagar budaya sekaligus objek wisata sejarah kerena memiliki nilai historis yang tinggi.
Stasiun Tanjung Priok ditetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya berdasarkan SK Gubernur Nomor 475 Tahun 1993 dan SK Menbudpar Nomor PM.13/PW.007/MKP/05.
Baca Juga: Cafe Batavia, Tempat Wisata Legendaris dan Simbol Bangunan Bersejarah Sejak Zaman Kolonial Belanda
Stasiun Tanjung Priok mulai dibangun pada tahun 1887 oleh pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal J. W. van Lansberge.
Proyek pembangunan Stasiun Tanjung Priok melibatkan sekitar 1.700 pekerja, di mana 130 di antaranya berasal dari Eropa.
Lokasi Stasiun Tanjung Priok berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Priok.
Pelabuhan Tanjung Priok berfungsi sebagai gerbang utama bagi Kota Batavia dan Hindia Belanda, menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa yang sudah tidak memadai.
Pada masa itu, Tanjung Priok mengakomodasi perdagangan dan wisatawan Eropa di Batavia.
Hal ini karena wilayah utara Jakarta, tempat Tanjung Priok berada, sebagian besar terdiri dari hutan dan rawa-rawa yang berbahaya.
Baca Juga: Wisata Water Coaster di Bandung, Rasakan Sensasi Seru dengan Meluncur Sepanjang 400 Meter
Karena alasan tersebut, diperlukan sarana transportasi yang aman untuk menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan pusat kota melalui Batavia Centrum atau Stasiun Jakarta Kota.
Lokasinya yang strategis di dekat pelabuhan Tanjung Priok, membuat stasiun ini memainkan peran penting dalam pengangkutan dan distribusi barang ke seluruh Indonesia.
Sehingga bisa mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Meskipun bukan stasiun pusat, Stasiun Tanjung Priok dibangun di atas lahan seluas 46.930 meter persegi dengan luas bangunan 3.768 meter persegi yang megah dan mewah.
Zaman dulu, stasiun ini juga menyediakan fasilitas penginapan untuk penumpang yang menantikan kedatangan kapal laut untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Baca Juga: Wisata Galeri Indonesia Kaya di Jakarta Usung Konsep Edukasi Seni dan Digital
Fasilitas kamar-kamar ini berada di sayap kiri bangunan, dikhususkan untuk penumpang Belanda dan Eropa.
Selain itu, bangunan ini juga dilengkapi dengan ruang bawah tanah yang diyakini digunakan sebagai gudang logistik.
Dan pada akhirnya, Stasiun tanjung Priok resmi dibuka pada 6 April 1925 bersamaan dengan peluncuran kereta listrik pertama rute Priok-Meester Cornelis (Jatinegara).
Setelah Indonesia merdeka perusahaan kereta api pemerintah Belanda diambil alih oleh pemerintah Indonesia yang pada saat itu bernama DKA (Djawatan Kereta Api).
Baca Juga: 10 Tempat Wisata Asyik Liburan Bersama Keluarga Terbaik di Jakarta dan Sekitarnya, Dijamin Seru!
Kemudian, Stasiun Tanjung Priok sempat berhenti beroperasi pada tahun 1999 dan mulai beroperasi kembali pada tanggal 13 April 2009 hingga saat ini.
Sebelum mulai beroperasi, stasiun ini mengalami proses renovasi. Renovasi ini dilakukan agar bentuk dan karakteristik asli bangunan tetap terjaga.
Dengan demikian, stasiun ini dapat berfungsi secara optimal sebagai sarana transportasi, dan juga tetap bisa dijadikan sebagai tujuan wisata sejarah bagi para pengunjung.
Hingga saat ini dengan sejarah panjang dan peran yang terus berlanjut, Stasiun Tanjung Priok tetap menjadi salah satu simbol penting dari konektivitas dan perdagangan di Indonesia.***



