POJOKSATU.id - Stunting didefinisikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh infeksi dan kekurangan gizi yang berkelanjutan.
Stunting adalah kondisi di mana panjang atau tinggi badan anak kurang dari standar.
Secara medis, stunting terjadi ketika tinggi badan anak kurang dari kurva pertumbuhan yang seharusnya.
Tidak terpenuhinya asupan gizi dalam jangka panjang adalah salah satu dari banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko stunting.
Baca Juga: Mengenal dan Mengatasi Stunting pada Anak, Orang Tua Harus Tahu!
Tidak sedikit orang yang percaya bahwa faktor genetik bertanggung jawab atas tubuh pendek seorang anak. Pada kenyataannya, genetika hanya menyumbang bagian kecil dari masalah kesehatan anak.
Meski begitu, anak yang bertubuh pendek belum tentu mengalami stunting.
Itu sebabnya, para orang tua perlu mengetahui ciri ciri dari anak yang terkena stunting dan yang tidak.
Penyebab Stunting
Stunting biasanya terjadi pada anak-anak, terutama pada dua tahun pertama kehidupan, karena kekurangan gizi kronis, terutama kekurangan gizi yang berlangsung lama.
Berikut adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan stunting.
Baca Juga: Ini Dia 5 Cara Cegah Stunting Pada Anak Dimulai Sejak Dalam Kandungan
1. Ibu hamil kekurangan asupan gizi
Menurut WHO (World Health Organization), asupan gizi yang tidak memadai menyebabkan sekitar 20 persen stunting sebelum bayi lahir.
Ibu hamil dapat mengalami anemia defisiensi zat besi, yang dapat menghambat pertumbuhan janin, jika mereka kekurangan asupan gizi ini.
2. Pola makan tidak seimbang
Anak mungkin kekurangan nutrisi penting untuk pertumbuhan yang baik jika mereka tidak makan cukup sayuran, buah-buahan, dan protein.
Ini dibahas dalam jurnal ilmiah berjudul Risiko Factors of Stunting in Children Aged 1-5 Years at Wire Primary Health Care, Tuban Regency, East Java.
Jurnal tersebut juga menjelaskan bahwa faktor genetik seperti tinggi badan ibu dan ayah, serta konsumsi ikan, dapat memengaruhi risiko stunting.
Baca Juga: Cara Ampuh Startup PrimaKu Atasi Stunting di Indonesia dengan Telehealth dan Omnichannel
3. Perawatan yang tidak memadai
Setelah melahirkan Ibu dan bayi keduanya membutuhkan perawatan yang cukup. Tujuannya adalah agar ibu dapat memberikan ASI yang cukup kepada bayinya.
Ingat bahwa ASI sangat penting untuk 1.000 hari pertama bayi karena membantu memperkuat sistem kekebalan tubuhnya.
Ibu yang baru melahirkan mungkin mengalami sindrom baby blues, kelelahan kronis, atau bahkan depresi jika mereka tidak menerima perawatan yang cukup.
4. Gizi anak yang tidak cukup
Anak-anak harus mendapatkan nutrisi yang cukup selama dua tahun pertama kehidupan mereka.
Karena itu, salah satu faktor utama yang menyebabkan anak terlambat berkembang adalah kekurangan nutrisi seperti protein, zinc, dan zat besi.
Posisi menyusui yang tidak tepat, tidak mendapatkan ASI eksklusif, pola makan yang buruk, atau makanan pendamping ASI yang buruk adalah beberapa faktor yang sering menyebabkan anak kekurangan nutrisi yang diperlukan.
Baca Juga: Percepatan Penurunan Stunting, Tim Kota Bandung dan Kemenko PMK Kunjungi Keluarga Berisiko
5. Pola asuh orang tua
Pola asuh jelas sangat berpengaruh pada perkembangan anak.
Pola asuh yang buruk bahkan bisa menyebabkan stunting karena terkait erat dengan cara pemberian makanan kepada anak.
Stunting dapat terjadi jika orang tua tidak memperhatikan asupan gizi anak mereka.
6. Infeksi berulang
Anak-anak dengan kekebalan lemah cenderung mudah sakit karena infeksi ini dapat memperlambat pertumbuhan mereka hingga menyebabkan stunting.
7. Sanitasi yang kurang baik
Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan dengan kondisi air yang tidak higienis cenderung lebih rentan terhadap penyakit daripada anak-anak yang memiliki akses yang mudah ke air bersih.
Selain itu, layanan kesehatan sangat terbatas. Pada akhirnya, infeksi berulang yang tidak tertangani ini dapat menghentikan perkembangan hingga menyebabkan stunting.
Baca Juga: Ganjar Milenial Gelar Sosialisasi Cegah Stunting Bareng Ibu-Ibu di Kapuas
8. Kurangnya akses ke layanan kesehatan
Menurut jurnal ilmiah berjudul Stunting dan faktor terkait pada anak di bawah lima tahun.
Studi yang berbasis rumah sakit, ada banyak faktor yang menyebabkan stunting. Faktor penting lainnya adalah kondisi kesehatan ibu yang buruk.
Akses terhadap layanan kesehatan yang memadai, seperti pemeriksaan rutin, imunisasi, dan perawatan kesehatan anak, dapat menyebabkan kesulitan untuk mendeteksi dan menangani masalah pertumbuhan anak dengan cepat.
9. Kehamilan yang tidak sehat
Ibu hamil yang kekurangan gizi dapat menyebabkan bayinya mengalami penurunan pertumbuhan sejak dalam kandungan.
Bayi yang lahir dengan berat rendah atau tidak sesuai dengan standarnya memiliki risiko lebih tinggi untuk stunting.
Baca Juga: Turunkan Stunting, Gardu Ganjar Bagikan Sayuran hingga Telur di Kabupaten Tangerang
10. ASI yang tidak eksklusif
ASI memiliki nutrisi yang lengkap dan penting untuk pertumbuhan yang optimal.
Namun, dalam beberapa situasi, bayi mungkin kekurangan nutrisi karena tidak cukup ASI selama enam bulan pertama kehidupan.
11. Kurangnya pengetahuan tentang masalah gizi
Kurangnya pengetahuan tentang masalah gizi dapat menyebabkan kebiasaan makan yang tidak sehat dan tidak memadai. Inilah yang dapat menyebabkan anak stunting.
12. Bayi dengan berat badan kurang
Bayi dengan berat badan kurang (lebih dari 2500 gram) juga berisiko mengalami stunting, yang merupakan salah satu penyebab utama kematian neonatal.
Bayi belum memiliki saluran pencernaan yang sempurna, yang menyebabkan hal ini terjadi. Akibatnya, dia tidak menyerap lemak dan protein dengan cukup baik.
Baca Juga: Praktisi Kesehatan Komitmen Bantu Santri Dukung Ganjar Sosialisasikan Bahaya Stunting di Kalbar
13. Anak yang menderita penyakit jantung bawaan
Anak dengan kondisi ini menghadapi kesulitan menelan makanan. Selain itu, ini terkait dengan fungsi jantung, yaitu memompa darah ke seluruh tubuh.
Namun, kegagalan jantung memompa darah ke seluruh tubuh dapat menghambat distribusi nutrisi.
Pengobatan Stunting
Pengobatan stunting disesuaikan dengan penyebab utama stunting.
Jika anak sudah melewati batas usia balita, stunting tidak dapat disembuhkan.
Namun, intervensi nutrisi dan medis lainnya dapat membantu kondisi anak tidak semakin parah.
Baca Juga: Pentingnya Omega-3 untuk Kesehatan Anak: Asupan yang Tidak Boleh Diabaikan
Cara menangani stunting adalah sebagai berikut.
1. Jika anak mengidap TBC, berikan obat anti tuberkulosis dan berikan makanan bernutrisi.
2. Memberi nutrisi seperti protein hewani, lemak, dan kalori.
3. Suplemen seperti vitamin A, zinc, zat besi, kalsium, dan yodium
harus diberikan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
4. Memberi imunisasi dasar dan tambahan untuk membangun sistem kekebalan tubuh, yang melindungi dari penyakit.
Program Pencegahan Stunting
Beberapa cara untuk mencegah stunting yaitu:
1. Masa kehamilan
Ada beberapa cara untuk mencegah stunting selama kehamilan.
Mengonsumsi makanan tinggi kalori, protein, dan mikronutrien selama kehamilan, menjalani pemeriksaan kehamilan rutin, dan menjalani proses persalinan di klinik.
2. Masa balita
Pada program pencegahan stunting di usia balita bisa dimulai dari pemantauan kesehatan pada 1.000 hari pertama kehidupan bayi.
Kemudian dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan penuh di awal kehidupannya.
Kemudian, mengawasi pertumbuhan dan perkembangan balita dan membantu perkembangan anak sejak dini.
Di samping itu, penting juga untuk pemerintah melakukan imunisasi agar anak terlindungi dari berbagai penyakit.
Baca Juga: Sedentary Lifestyle: Ancaman Kesehatan Akibat Kegiatan Pasif
3. Fase remaja putri
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menyatakan dalam "Anemia pada Remaja Putri Berisiko Tingkatkan Stunting" bahwa remaja dengan anemia memiliki kemungkinan besar mengalami anemia saat mereka hamil setelah menikah.
Jika tidak ditangani maka berisiko terjadinya pendarahan saat persalinan, bayi berat badan rendah, dan akhirnya melahirkan bayi stunting.
Makanan yang kaya zat besi, vitamin B12, dan asam folat sangat penting untuk mencegah stunting dan mengatasi anemia.
Penanganan medis yang tepat dan pemeriksaan medis rutin juga diperlukan.
Tujuannya adalah untuk menemukan dan mengobati anemia pada remaja pada usia dini.
4. Gaya hidup sehat
Menjaga gaya hidup yang sehat dapat membantu anak-anak tidak stunting.
Untuk mengatasi masalah ini, ibu dan anak dapat mengatur pola makan yang seimbang, divaksinasi dan diperiksa kesehatan secara teratur, dan sering berolahraga.
5. Pemberian makanan tambahan pada usia enam hingga dua puluh empat bulan
Makanan tambahan harus berupa protein hewani. Ikan, ayam, daging, dan susu membantu anak stunting.
6. Informasi tentang pernikahan dan pencegahan pernikahan dini
Pernikahan dini dapat menyebabkan stunting. Mengapa hal ini terjadi?
Sebab, menikah terlalu dini dapat membahayakan kesehatan ibu dan mengakibatkan kehamilan berisiko.
Ibu-ibu yang berusia di bawah 18 tahun memiliki pemahaman yang kurang tentang kesehatan reproduksi dan pengasuhan anak, yang meningkatkan risiko stunting pada anak mereka.
Baca Juga: Tingkatkan Pertumbuhan Rambut dengan 4 Jenis Olahraga yang Mudah Dilakukan, Nomor 2 Gampang Banget!
7. Konseling gizi
Puskesmas dan rumah sakit daerah biasanya mengadakan konseling gizi. Pengetahuan tentang nutrisi keluarga diberikan melalui program ini.
Ini termasuk peningkatan akses kesehatan bumil dan menyusui serta penyediaan makanan sehat untuk bumil, balita, dan anak sekolah.
Jika Si Kecil tampak lebih pendek ketimbang anak seusianya, orang tua harus segera memeriksakannya ke dokter.
Untuk anak di bawah dua tahun, pemeriksaan harus dilakukan setiap 1-2 bulan, untuk anak di atas dua tahun, pemeriksaan dapat dilakukan setiap tahun.***



