POJOKSATU.id - Saat ini, semakin banyak buku tentang self love dan self improvement yang ditulis oleh penulis Indonesia.
Salah satunya adalah buku yang berjudul "What’s So Wrong About Your Self Healing" karya Ardhi Mohamad.
Dengan pendekatan yang unik, Ardhi Mohamad dalam bukunya "What’s So Wrong With Your Self Healing" memberikan gagasan dan pandangan baru terhadap self healing yang sangat relate bagi banyak pembaca buku saat ini.
Buku "What’s So Wrong With Your Self Healing" karya Ardhi Mohamad ini merupakan sebuah buku motivasi yang mengangkat berbagai permasalahan yang sering dihadapi oleh orang dewasa.
Ini termasuk pembentukan pola pikir, proses pertumbuhan, dan mengatasi berbagai tantangan dalam kehidupan.
Buku "What’s So Wrong With Your Self Healing" rilis pada tahun 2021 lalu dan memiliki 276 halaman.
Berikut adalah beberapa poin, review dari buku "What’s So Wrong With Your Self Healing" karya Ardhi Mohamad yang bisa menjadi solusi untuk healing.
1. Kecewa terhadap Orang Tua
Setiap orang mungkin pernah mengalami rasa kecewa, sedih, dan perasaan gagal terhadap suatu hal.
Hal disini bisa berasal dari kekecewaan terhadap diri sendiri atau terhadap orang tua.
Beberapa dari kita mungkin memiliki luka hati di masa kecil, namun mungkin tidak terasa selama dewasa, dan efeknya mungkin baru terasa ketika kita sendiri telah menjadi orang tua.
Adakalanya sebagai anak, kita dapat merasa kecewa terhadap orang tua, baik itu dalam hal-hal kecil atau bahkan masalah yang lebih serius.
Kita mungkin cenderung menyalahkan orang tua saat luka itu terasa kembali.
Seperti manusia lainnya, kita sering kali melakukan kesalahan, baik secara sadar ataupun tidak sadar, baik saat menjadi orang tua atau sebagai anak.
Ardhi Mohamad dalam bukunya "What’s So Wrong With Your Self Healing" ingin menyampaikan pesan bahwa kita tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dewasa yang baik karena bimbingan dan pengarahan dari orang tua kita, terlepas dari segala kesalahan yang membentuk diri kita saat ini.
Namun, hubungan antara orang tua dan anak adalah hubungan pertama yang seharusnya terjalin dengan penuh kasih sayang.
2. Ketika Kita Merasa Tidak Memiliki Teman
Waktu terus berputar dan kehidupan manusia terus bergerak maju.
Ada yang terus melangkah ke depan tanpa melihat sekitar, ada yang singgah sejenak kemudian melanjutkan perjalanan, dan ada yang terus berjalan bersama hingga akhir.
Siklus ini senantiasa terjadi di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal pertemanan.
Ardhi Mohamad dalam bukunya "What’s So Wrong With Your Self Healing" mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita.
Kita menyadari bahwa tidak semua orang yang awalnya berada di sekitar kita akan terus bersama, mereka memilih jalannya masing-masing.
Pilihan itu dapat terjadi dengan atau tanpa kehadiran kita. Oleh karena itu, seiring bertambahnya usia, lingkup pertemanan kita mungkin akan semakin menyusut.
Dari puluhan orang yang pernah ada, mungkin hanya akan tersisa satu atau dua.
3. Dianggap Terlalu Sensitif
Sifat dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya.
Apa yang terjadi di masa lalu membentuk diri kita saat ini. Hal ini juga berlaku terhadap hubungan sesama manusia, termasuk teman, kolega, dan pasangan.
Jika seseorang dianggap terlalu sensitif terhadap sikap orang lain, mungkin hal ini karena pengalaman di masa lalu yang pernah membuatnya menjadi semakin sensitif.
Masa lalu kita, terutama dalam hubungan dengan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap diri kita di masa depan.
Sehingga jika ada orang yang berkata dia terlalu baperan, atau dia terlalu sensitif, maka bisa saja dia pernah memiliki masa lalu yang berat.
Seperti yang diungkapkan ardhi Mohamad dalam bukunya "What’s So Wrong With Your Self Healing" apa yang kita cari dalam hubungan kita dengan orang lain adalah apa yang hilang atau tidak kita dapatkan dalam hubungan kita dengan orang tua.
4. Mendekat pada Sumber Kehidupan
Menuju akhir dari buku "What’s So Wrong With Your Self Healing", Ardhi Mohamad mengajak kita untuk mengakui bahwa ada tempat terbaik untuk healing yang sering terlupakan oleh manusia. Kita sering merasa lelah dan membutuhkan healing.
Namun, kita juga lupa bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah dengan lebih mudah adalah dengan kembali pada Sang Pencipta.
Ketika semua orang mungkin meninggalkan kita, hanya Allah yang akan tetap bersama kita.
Ardhi Mohamad menjelaskan betapa mudahnya kita melepaskan diri dari masalah ketika kita lebih mendekat pada yang memberikan masalah.
Oleh karena itu, pada akhirnya hanya Allah yang mampu memahami segala kegelisahan dalam hati setiap manusia.
Kelebihan dari buku “What’s So Wrong With Your Self Healing" karya Ardhi Mohamad ini yaitu meskipun buku ini mengangkat tema yang sedang populer di masyarakat dan memiliki kaitan erat dengan kesehatan mental, sebenarnya isi dari buku ini tidak hanya membahas masalah yang banyak dialami.
Buku “What’s So Wrong With Your Self Healing" menekankan mengapa seseorang bisa berada dalam kondisi seperti ini dan bagaimana kita semua dapat mengatasi masalah dengan cara yang sederhana.
Ardhi Mohamad dalam bukunya “What’s So Wrong With Your Self Healing" menggambarkan perjalanan perkembangan manusia hingga mengalami masalah serupa.
Baca Juga: Pelaku yang Memalsukan Buku 'Master Firasat' Ditemukan, Ini yang Dilakukan Wirang Birawa
Serta memberikan wawasan tentang apa yang sebenarnya bisa menjadi solusi healing untuk kita.
Dalam buku “What’s So Wrong With Your Self Healing", Ardhi Mohamad berhasil menciptakan kesan menarik dan membuka perspektif kita tentang apa yang sebenarnya diperlukan untuk proses healing.
Selain itu, Ardhi Mohamad juga menyajikan sejumlah ilustrasi dan gambar menarik di setiap bab bukunya.
Disamping itu, kekurangan dari buku “What’s So Wrong With Your Self Healing" karya Ardhi Mohamad ini memberikan inspirasi yang sedikitnya lebih condong ke ranah agama.
Maka dari itu, mungkin ada sebagian pembaca yang kurang sejalan dengan gagasan Ardhi Mohamad karena melihat masalah dari sudut pandang Islam.
Namun, hal ini tidak mengurangi nilai positif dari buku “What’s So Wrong With Your Self Healing" ini.
Pada intinya, Ardhi Mohamad sebagai penulis hanya mengajak kita untuk menyadari bahwa agama dapat menjadi tempat untuk bersandar ketika kita merasa lelah.***



