POJOKSATU.id - Museum-museum di Bandung menjadi salah satu daya tarik budaya yang memikat para wisatawan, dengan berbagai jenis koleksi yang mereka tawarkan.
Mengunjungi museum wisata edukasi di Bandung bukan hanya menyenangkan, tetapi juga dapat memperluas pengetahuan anak-anak tentang sejarah, seni, dan budaya Indonesia.
Bandung menawarkan beragam pilihan destinasi menarik, mulai dari museum seni modern hingga museum sejarah.
Berikut beberapa rekomendasi museum wisata edukasi di Bandung
1. Museum Geologi Bandung
Museum Geologi terletak di Jl. Diponegoro No.57, Cihaur Geulis, Kec. Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat.
Museum ini buka pada hari Senin hingga Kamis dari pukul 09.00 hingga 15.00, ditutup pada hari Jumat, dan dibuka kembali pada Sabtu dan Minggu dari pukul 09.00 hingga 14.00.
Harga tiket masuknya adalah Rp2000 untuk pelajar dengan menunjukkan Kartu Tanda Pelajar/Mahasiswa, Rp3000 untuk umum, dan Rp10.000 untuk turis asing.
Museum Geologi di Bandung awalnya merupakan markas Angkatan Udara pemerintah Hindia Belanda selama Perang Dunia II.
Pada tahun 2000, museum ini dibuka untuk umum. Museum ini merupakan tempat yang sangat menarik untuk mengeksplorasi ilmu geologi dengan koleksi fosil, batuan, dan mineralnya.
Bagi anak-anak yang gemar dengan dinosaurus, mereka akan sangat senang menemukan fosil-fosil dinosaurus di dalam museum ini.
Selain itu, pengunjung juga dapat menemukan peta geografi Indonesia, informasi tentang hipotesis terjadinya bumi, perkembangan makhluk hidup dari masa primitif hingga modern, dan koleksi tengkorak manusia purba yang ditemukan di Indonesia.
Baca Juga: Eksplorasi Sentul: 7 Lokasi Wisata Terbaik yang Wajib Dikunjungi, Cocok untuk Wisata Keluarga!
2. Museum Konferensi Asia Afrika
Museum Konferensi Asia Afrika terletak di Jl. Asia Afrika No.65, Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat.
Jadwal buka museum ini berbeda-beda, dengan tutup pada hari Senin, Rabu, dan Jumat, sedangkan buka pada Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu dengan jam kunjungan pukul 09.0012.00 dan 13.0015.00 WIB.
Tiket masuk ke museum ini gratis.
Museum Konferensi Asia Afrika didedikasikan untuk mengenang peristiwa bersejarah Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, pertemuan tingkat tinggi antara negara-negara Asia dan Afrika yang bertujuan mempromosikan kerja sama politik dan ekonomi di antara bangsa-bangsa tersebut.
Museum ini bertujuan memperingati acara penting ini dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang sejarah serta kontribusi bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam politik dunia.
Koleksinya mencakup artefak, foto-foto, dokumen, dan benda-benda terkait dengan konferensi, serta informasi tentang latar belakang dan perkembangan Konferensi Asia Afrika.
Selain itu, museum ini berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian tentang masalah-masalah Asia Afrika dan negara-negara berkembang.
Museum ini juga berperan dalam mendukung pengembangan kebudayaan nasional, pendidikan generasi muda, dan pariwisata di wilayah Bandung.
3. Museum Gedung Sate
Museum Gedung Sate terletak di Jl. Diponegoro No.22, Citarum, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat.
Museum ini buka setiap hari Senin hingga Minggu dengan jam kunjungan pukul 09.3016.00.
Untuk masuk ke museum, tiketnya dihargai sebesar Rp5.000 per orang.
Museum Gedung Sate menawarkan pengalaman museum yang modern dan interaktif dengan konsep Smart Museum.
Dengan menggunakan teknologi digital canggih, museum ini memungkinkan pengunjung untuk belajar tentang sejarah Gedung Sate dan Kota Bandung secara menyenangkan dan informatif.
Teknologi seperti proyeksi 4D, Augmented Reality, dan Virtual Reality dihadirkan untuk membuat kunjungan pengunjung semakin menarik.
Selain teknologi canggih, museum ini juga menawarkan fasilitas interaktif lainnya, termasuk sebuah teater.
Di sana, pengunjung dapat menonton film pendek yang menjelaskan lebih lanjut tentang Gedung Sate dan sejarahnya.
4. Museum Sri Baduga
Museum Sri Baduga terletak di Jl. BKR No.185, Pelindung Hewan, Kec. Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat.
Museum ini buka dari Selasa hingga Jumat pada pukul 08.0016.00.
Untuk tiket masuk, Anda hanya perlu membayar Rp3.000.
Museum Sri Baduga adalah salah satu destinasi yang wajib dikunjungi saat liburan di Bandung.
Didirikan pada tahun 1974, museum ini dibuka untuk umum pada tahun 1980 dengan nama Museum Negeri Provinsi Jawa Barat.
Pada tahun 1990, namanya diubah menjadi Museum Negeri Provinsi Jawa Barat Sri Baduga, diambil dari nama seorang Raja Agung dari kerajaan Sunda beragama Hindu di Jawa Barat.
Museum Sri Baduga memiliki banyak koleksi yang mencakup berbagai benda bersejarah dan barang-barang antik dengan nilai seni yang tinggi.
Koleksinya mencakup arca zaman megalitik, pakaian adat, rumah tradisional, perkakas, permainan, dan alat musik tradisional.
Museum ini juga memiliki arsitektur menarik dengan bangunan berbentuk seperti rumah panggung, mencerminkan gaya rumah tradisional Jawa Barat.
Baca Juga: 6 Destinasi Wisata Ekstrem di Indonesia, Berani Tantang Adrenalin Kamu?
5. Museum Pos Indonesia
Museum Pos Indonesia terletak di Cilaki St No.73, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat.
Museum ini buka pada hari Senin hingga Jumat antara pukul 09.00 hingga 15.00, dan Anda dapat masuk secara gratis.
Museum Pos Indonesia memiliki sejarah panjang yang dimulai pada zaman Belanda dengan nama Museum PTT (Pos Telegrap dan Telepon) pada tahun 1931.
Pada awalnya, museum ini fokus pada koleksi prangko dari dalam dan luar negeri.
Sayangnya, selama Perang Dunia II, museum ini mengalami kelalaian perawatan dan hampir dilupakan.
Kemudian, pada suatu waktu, muncul ide untuk mendirikan Museum Pos dan Giro yang tidak hanya akan memajang prangko, tetapi juga berbagai benda bersejarah lainnya, termasuk foto-foto, peralatan pos, dan lain-lain.
Pada tanggal 18 Desember 1980, Panitia Persiapan Pendirian Museum Pos dan Giro didirikan oleh Direksi Perum Pos dan Giro.
Baca Juga: Kaliwungu Karawang, Wisata Alam Indah dan Sejuk yang Dikelola Kelompok Tani
Tugas utamanya adalah mengumpulkan benda-benda bersejarah yang sesuai untuk dijadikan koleksi museum.
Setelah beberapa bulan bekerja keras, panitia berhasil mengumpulkan sejumlah benda dan kemudian mengadakan Pameran Pos dan Giro pada tanggal 27 September 1982.
Pada saat yang sama, mereka juga meresmikan penggunaan Sistem Kode Pos Indonesia.
Setahun setelahnya, yaitu pada tanggal 27 September 1983, Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, Achmad Tahir, meresmikan ruangan bawah gedung tersebut sebagai museum dengan nama Museum Pos dan Giro.
Seiring dengan perubahan perusahaan pos menjadi PT. Pos Indonesia (persero) pada tanggal 20 Juni 1995, nama museum ini juga berubah menjadi Museum Pos Indonesia, dan inilah nama yang masih digunakan hingga sekarang.
Dengan mengunjungi museum wisata edukasi terbaik ini, dapat menggali lebih dalam tentang kekayaan budaya dan sejarah Indonesia sambil menciptakan kenangan yang tak terlupakan bersama keluarga.***



