POJOKSATU.ID - Berikut ini Pojoksatu ulas kisah Ratu Balqis dari Kerajaan Saba.

Pada masa kini, sosok Ratu Balqis dari Kerajaan Saba bisa menjadi teladan untuk pemipin wanita yang demokratis.

Simak kisah Ratu Balqis yang inspiratif bagi para pemimpin wanita yang demokratis pada era ini.

Kisah Ratu Balqis Dari Kerajaan Saba

Kisah Ratu Balqis dari Kerajaan Saba adalah sebuah kisah yang terkenal dalam literatur agama dan budaya Timur Tengah.

Terutama dalam Alkitab dan Al-Quran. Ratu Balqis, yang juga dikenal sebagai Ratu Sheba, adalah seorang penguasa legendaris dari kerajaan Saba, yang diyakini terletak di wilayah yang sekarang merupakan bagian dari Yaman atau Ethiopia.

Baca Juga: Memahami Esensi Kepemimpinan dan Kepercayaan Diri: Mendalami Keunikan Prinsip Alpha Female

Kisah ini diceritakan dalam Alkitab (Kitab 1 Raja-raja, pasal 10) dan Al-Quran (Surah An-Naml, ayat 20-44).

Cerita Ratu Balqis dimulai ketika Nabi Sulaiman diberi karunia oleh Allah untuk memiliki pengetahuan yang luas, kebijaksanaan, dan kekayaan yang besar.

Berita tentang kebijaksanaan Nabi Sulaiman menyebar hingga ke kerajaan Saba, yang dipimpin oleh Ratu Balqis.

Mendengar kabar tersebut, Ratu Balqis memutuskan untuk mengunjungi Nabi Sulaiman dan menguji kebijaksanaannya.

Ratu Balqis pun memutuskan untuk membawa hadiah-hadiah yang sangat berharga, termasuk rempah-rempah, emas, dan batu permata.

Ketika ia tiba di istana Nabi Sulaiman, ia diberi kesempatan untuk memamerkan harta bendanya.

Baca Juga: Kumpulan Raja dan Ratu Hingga Pemangku Adat di Sulsel Mengukuhkan Dukungan untuk Ganjar Pranowo

Ratu Balqis menempatkan emas, permata, dan rempah-rempah di depan Nabi Sulaiman, yang dengan bijak mengenali dan menghargai kekayaan yang dibawanya.

Namun, Nabi Sulaiman tidak terpana hanya oleh kekayaan material Ratu Balqis.

Ia juga mengakui kebesaran Allah dan kesyukuran atas karunia-karunia yang telah diberikan kepadanya.

Nabi Sulaiman mengajak Ratu Balqis untuk beriman kepada Allah dan meninggalkan penyembahan berhala.

Kisah ini menekankan pentingnya kebijaksanaan, kekayaan, dan keimanan.

Ratu Balqis terkesan oleh kebijaksanaan dan kebijaksanaan Nabi Sulaiman, dan ia menerima ajaran monoteisme yaitu hanya beriman kepada satu tuhan yaitu Allah, yang disampaikan olehnya.

Setelah beberapa waktu berada di istana Nabi Sulaiman, Ratu Balqis memutuskan untuk kembali ke kerajaannya dengan membawa pengajaran baru dan keyakinan kepada rakyatnya.

Baca Juga: Deklarasi Dukungan, Raja dan Ratu di Sulbar Siap Menangkan Ganjar Pranowo di Pilpres 2024

Cerita ini memiliki pesan moral yang mendalam tentang kebijaksanaan, iman, dan penghargaan terhadap kekayaan dunia sebagai karunia dari Allah.

Kisah Ratu Balqis juga menunjukkan pentingnya saling berbagi pengetahuan dan kebijaksanaan antara penguasa dari berbagai kerajaan.

Sosok Ratu Balqis

Ratu Balqis dikenal sebagai ratu tercantik. Menurut cerita yang ada, penguasa Saba ini memiliki perawakan yang luar biasa.

Ia digambarkan sangat cantik, dengan kulit bercahaya.

Sang ratu juga memiliki wajah yang tenang dan cantik yang mampu membuat siapa pun bertekuk lutut dengan sikap yang sopan.

Selain cantik, Ratu Balqis juga kuat dalam memimpin rakyatnya.

Buktinya adalah bagaimana sosok Ratu memimpin kerajaan yang luas ini.

Baca Juga: Pakai Gaun Terinspirasi dari Ratu Laut Selatan, Cinta Laura Memukau di Red Carpet Festival Film Cannes 2023

Saba sering dipuji sebagai salah satu kerajaan yang luar biasa, dan dibutuhkan sosok yang kuat dan luar biasa untuk bisa menjalankan kerajaan seperti itu.

Ratu Balqis dapat melakukan hal-hal luar biasa.

Apapun permasalahan negaranya, beliau selalu berkonsultasi dengan pejabat pemerintah untuk mengambil keputusan yang fleksibel, luas dan adil. Kisah tersebut tercatat dalam surat an-Naml ayat 32.

Ratu Balqis memimpin Saba bukan dengan tangan besi, melainkan karena sikap sang Ratu yang tangguh.

Misalnya, jangan pernah tampil otoriter dan selalu mendengarkan siapapun.

Inilah contoh sikap agung sang Ratu saat menerima surat dari Nabi Sulaiman.

Ratu Balqis tidak serta merta mengambil keputusan sendiri, melainkan berkonsultasi dengan pejabat kerajaan.***