POJOKSATU.id - Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang makin masif memang bikin banyak orang waswas, ya.

Soalnya, AI sudah bisa mengambil alih tugas-tugas repetitif dengan cepat dan presisi.

Tapi ternyata, para eksekutif teknologi global sepakat bahwa ada “benteng” terakhir yang belum bisa ditembus mesin.

Dan menariknya, benteng itu bukan kemampuan teknis, melainkan soft skills.

Prashanthi Padmanabhan, VP of Engineering for Talent Solutions di LinkedIn, menegaskan bahwa nilai tawar seorang profesional kini bergeser.

Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Tertarik Membaca Blog Miharu Julie?

Bahkan di bidang sangat teknis seperti engineering, kemampuan kolaborasi jadi kunci untuk menegaskan nilai kita sebagai manusia.

Ia bilang, “Sama pentingnya adalah soft skill Anda, seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, dan kerja tim,” jelasnya.

Nah, berdasarkan pandangan para pakar transformasi tenaga kerja dari LinkedIn, IBM, hingga Cisco, ada tiga keahlian utama yang benar-benar harus dikuasai biar posisi kita nggak gampang tergeser oleh mesin.

Baca Juga: Kepala Sekolah di Cilincing Ditemukan Tewas Gantung Diri di Ruangannya, Penjaga Sekolah Ungkap Hal Mengejutkan

1. Pemecahan Masalah Kompleks

Soft skill pertama ini dianggap krusial banget. AI memang bisa kasih jawaban instan, tapi kualitasnya tetap tergantung pada input dari manusianya.

Michael Housman, pendiri AI-ccelerator, menekankan bahwa kemampuan kita mengidentifikasi masalah yang tepat dan merangkai prompt efektif adalah nilai yang nggak bisa diganti mesin.

Guy Diedrich dari Cisco menambahkan bahwa dengan cepatnya inovasi AI, kemampuan manusia untuk "mengajukan pertanyaan yang tepat"—terutama soal keputusan etis—akan jauh lebih berharga daripada sekadar menjawab persoalan teknis.

Jadi bukan cuma urusan jawab-menjawab, tapi soal memahami konteks dan arah masalah.

Baca Juga: Ini Dia Fitur Unggulan ChatGPT for Teachers, OpenAI Janjikan Bantuan Cerdas sekaligus Aman untuk Guru, Simak 5 Keunggulannya

2. Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence)

Kemampuan membaca situasi dan memahami orang lain masih jadi wilayah yang belum bisa dijangkau algoritma.

Alex King, pendiri ExpandIQ, menyebut bahwa firasat manusia—gut feeling—tetap punya peran besar dalam menentukan respon yang tepat di berbagai kondisi kerja.

Ruchir Puri, Chief Scientist IBM, juga bilang bahwa kesuksesan hari ini nggak lagi hanya soal IQ, tapi EQ dan kecerdasan hubungan.

Ia menyarankan, “Saran saya adalah selalu-lah berempati. Posisikan diri Anda di tempat mereka.”

Menurutnya, komunikasi efektif itu bukan cuma soal isi pesan, tapi juga kejelasan dan cara penyampaian yang mudah dipahami.

Baca Juga: Curhatan Warga Korban Banjir Tapteng Viral, Toko Swalannya Dijarah Perampok, Laptop dan Celengan Dicuri, Laporan Polisi Ditolak

3. Kreativitas dan Imajinasi

Dengan banyak pekerjaan sibuk diambil alih AI, manusia justru punya ruang lebih untuk melakukan deep work—pemikiran mendalam yang menghasilkan ide-ide baru.

Jeetu Patel, CPO Cisco, bilang bahwa kini imajinasi adalah “satu-satunya batasan” dalam pengembangan produk.

Terri Horton dari FuturePath juga menekankan pentingnya kreatif memikirkan ulang peran kita.

Ia mencontohkan, “Jika kita mengganti 30% tugas dengan AI, apa lagi yang bisa Anda lakukan?”
Baca Juga: PKH Tahap 4 Cair 1–10 Desember 2025, Ini yang Harus Diketahui Penerima di Desil 1 dan Desil 2

Kreativitas bukan hanya soal ide, tapi kemampuan merancang ulang cara kerja agar tetap relevan.

Padmanabhan juga mencatat tren baru: kandidat tanpa kemampuan teknis sekalipun bisa menonjol dalam wawancara jika punya konsep kreatif yang sudah diwujudkan menjadi produk nyata.

Artinya, imajinasi dan keberanian mengeksekusi ide jadi nilai lebih yang sangat dicari hari ini.

Kemajuan AI memang tak terhindarkan, tapi kemampuan manusia untuk berpikir dalam, memahami emosi, dan melahirkan ide-ide segar tetap jadi penentu masa depan.

Selama kita terus mengasah sisi-sisi ini, peran manusia tak akan mudah tergantikan mesin—dan justru makin tak tergantikan. ***