POJOKSATU.id - Amerika Serikat (AS) dan China dikabarkan tengah mengerjakan kesepakatan bilateral untuk melarang penggunaan senjata otonom yang didukung kecerdasan buatan (AI).

Jika kesepakatan ini berhasil difinalisasi, maka akan menjadi terobosan besar dalam upaya mengatur penggunaan AI di domain militer.

Kesepakatan yang diusulkan tersebut dikabarkan akan mencakup berbagai macam senjata bertenaga AI, termasuk drone otonom, tank, dan prajurit robot.

Baca Juga: Grok Si Paling Humoris, Bot AI Baru Buatan Elon Musk, Saingi ChatGPT dan Bard Serius Apa Bercyandaah Nih..

Kedua negara juga dikabarkan sedang membahas cara untuk mencegah transfer teknologi AI yang dapat digunakan untuk mengembangkan senjata otonom ke negara lain.

Kabar tentang kesepakatan yang diusulkan ini muncul di tengah kekhawatiran yang semakin meningkat tentang potensi bahaya senjata otonom.

Para kritikus berpendapat bahwa senjata-senjata ini dapat membuat perang menjadi terlalu mudah dan dapat menyebabkan hilangnya nyawa manusia.

Mereka juga khawatir bahwa senjata bertenaga AI dapat diretas atau disalahgunakan oleh aktor yang tidak bertanggung jawab.

Baca Juga: AI ChatGPT Tanggapi Lebih Baik Saat Dihadapkan dengan Bahasa Emosional

Sementara itu, para pendukung senjata otonom berpendapat bahwa senjata-senjata ini dapat membuat perang lebih presisi dan tidak mematikan.

Mereka juga menunjukkan bahwa AI dapat digunakan untuk mengotomatiskan tugas-tugas yang saat ini dilakukan oleh manusia, yang akan mengurangi risiko korban jiwa manusia.

Kesepakatan yang diusulkan antara AS dan China merupakan langkah positif untuk mencegah pengembangan senjata otonom.

Namun, penting untuk dicatat bahwa kesepakatan tersebut belum final dan belum jelas bagaimana kesepakatan tersebut akan diberlakukan.

Baca Juga: GitHub Copilot CLI, Asisten AI untuk Terminal Programmer

Selain itu, juga dimungkinkan bahwa negara-negara lain dapat mengembangkan senjata otonom mereka sendiri, bahkan jika AS dan China dapat mencapai kesepakatan.

Masa depan senjata otonom masih belum pasti. Namun, kesepakatan yang diusulkan ini merupakan tanda bahwa ada kekhawatiran internasional yang semakin meningkat tentang potensi bahaya senjata-senjata ini.

Mungkin saja kesepakatan ini dapat membuka jalan bagi larangan internasional yang lebih luas terhadap senjata otonom.***