POJOKSATU.id, MEDAN-Manajer Operasional Hotel San Cemara Asri Medan, Jiro memberikan klarifikasi insiden pengusiran atlet squash dan taekwondo Sumatera Utara (Sumut) untuk PON 2024.
Dia menegaskan penyebab mereka meminta atlet check out dari Hotel San Cemara Asri Medan, karena Dispora Sumut tidak menyelesaikan masalah administrasi penginapan atlet PON tersebut dengan baik.
Jiro menilai Dispora Sumut tidak ada kepastian di awal terkait mekanisme pembayaran hotel, yang seharusnya dilakukan jauh hari, dan mendadak memasukkan atlet.
“Ternyata perencanaan mereka kurang bagus gitu loh. Tiba-tiba di hari H atletnya sudah datang, mereka (Dispora) minta bantu check in-kan tamunya tanpa melakukan pembayaran administrasi dan malam di bahas bersama-sama," jelasnya, Kamis, 8 Agustus 2024.
"Pembahasan untuk administrasi tadi untuk kelengkapan data, pembayaran, itu ada tarik ulur dan belum ada kesepakatan dan tunda terus,” sambungnya.
Baca Juga: Atlet Squash dan Taekwondo Sumut untuk PON 2024 Diusir dari Hotel di Medan, Berikut Kronologinya
Jiro mengaku, pihak hotel sudah memberikan toleransi tiga hari, dua malam kepada pihak Dispora untuk tenggat pembayaran biaya penginapan. Termasuk, sama-sama mencari solusi agar Dispora bisa membayar minggu pertama terlebih dahulu sebagai tanda kesepakatan.
“Bahkan mereka buat surat pernyataan gitu loh, bakalan check out bila pembayaran tidak selesai pada pukul lima sore (Rabu). Ternyata sudah jam lima sore, pihak mereka ketika diminta pembayaran dikasih harapan palsu," sebutnya.
"Ujung-ujungnya jam 8 malam, pihak mereka pun tidak ada yang bisa komunikasi dengan kami. Kami nelpon ditolak dan gak diangkat gitu loh,” sambungnya.
Jiro mengatakan pihaknya sempat meminta atlet keluar dari kamar, namun karena alasan toleransi akhirnya atlet dan pelatih diperbolehkan menginap satu malam di hotel.
Tapi, keesokan paginya, tidak ada pihak Dispora Sumut yang merespon kepastian pembayaran. “Pembayaran tiga malam itupun tidak ada cerita diskusinya kekmana penyelesaiannya. Panitia satupun tidak ada yang kasih jawaban kepada kami. Padahal, kami sudah ijinkan nginap tiga malam,” ujarnya.
Diungkapkannya pihaknya juga telah memberikan waktu tiga hari untuk penyelesaikan pembayaran. Namun, dengan alasan prosedur pembayaran dari pihak Dispora yang belum ada kejelasan, pihaknya tidak bisa mentoleransi lebih lama.
Bahkan, pihaknya mengaku baru menerima surat peminjaman kamar pada 6 Agustus, atau satu hari setelah atlet sudah masuk ke penginapan.
“Jadi mereka sekarang improvisasi sendiri, mereka datang di hotel kita hari pertama itu tanpa ada surat pemberitahuan terlebih dahulu. Harusnya kita pihak hotel gak boleh terima," sebutnya.
"Tapi, karena niat kami baik mau mendukung pemerintah. Tanpa ada kontrak dan hitam di atas putih, kita ijinkan tamu masuk dengan itikad baik mereka mau menyesaikan ini atau besok,” tandas Jiro.
Sebelumya, sebanyak 41 atlet dan pelatih cabor squash serta taekwondo terpaksa pindah ke Hotel Miyana setelah setelah diusir dari Hotel San Cemara Sari Medan, Kamis pagi. ***

