POJOKSATU.id, JAKARTA – Sekjen Partai Gelora, Mahfuz Sidik, sampai mengungkit kisah analogi Nabi Musa yang tak perlu berutang ke Firaun ketika mendengar isu PKS mau gabung ke pemerintahan Prabowo.

Partai Gelora yang sedari awal mendukung Prabowo-Gibran, tak rela atau tak setuju kalau PKS bergabung dengan Pemerintahan Prabowo-Gibran.

Gelora memberikan reaksi keras terkait langkah politik PKS yang membuka diri bergabung dengan Prabowo-Gibran usai putusan MK yang mensahkan pasangan ini.

Gelora menyinggung kembali serangan PKS kepada Prabowo-Gibran selama ini.

"Jika sekarang PKS mau merapat karena alasan proses politik sudah selesai. Apa segampang itu PKS bermain narasi ideologisnya? Apa kata pendukung fanatiknya? Sepertinya ada pembelahan sikap antara elite PKS dan massa pendukungnya," kata Mahfuz Sidik dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu (28/4).

Baca Juga: Dampak Gempa Garut Berdasarkan Catatan BPBD : 151 Rumah Rusak, 4 Warga Luka-luka, Ditaksir Kerugian Mencapai 3 Miliar

Sekjen Partai Gelora yang juga mantan politisi PKS ini juga menyoroti adanya pembelahan sikap antara elite PKS dan massa pendukungnya terkait rencana bergabung dengan Prabowo ini.

Narasi Menyerang Prabowo

Mantan politisi PKS ini lantas mengingatkan publik dengan narasi yang pernah muncul dari kalangan PKS soal Prabowo ini.

Dia membahas analogi dari PKS soal Nabi Musa tidak perlu berutang kepada Firaun, karena dahulu Anies Baswedan diusung menjadi calon Gubernur Jakarta pada 2017 oleh Partai Gerindra.

Mahfuz mengungkit PKS yang pernah menyerang Prabowo-Gibran.

Baca Juga: Siap-Siap Lelang Jabatan Eselon II Untuk OPD Yang Kosong, Tahap Pertama Uji Kompetisi Jabatan Direktur Bayu Asih

"Seingat saya selama proses kampanye, di kalangan PKS banyak muncul narasi sangat ideologis dalam menyerang sosok Prabowo-Gibran," kata Mahfuz.

Mahfuz juga mengungkit pernyataan PKS yang memberi cap pengkhianat kepada Prabowo karena bergabung dalam Kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin pada 2019 silam.

“Umumnya datang dari basis pendukung PKS," ujarnya soal cap penghianat ini.

Mahfuz juga mengungkapkan bahwa PKS selama ini kerap memunculkan narasi yang mengadu domba dan membelah masyarakat.

Dia menegaskan selama ini Jokowi dan Prabowo juga telah mengingatkan untuk tidak memberikan narasi yang memecah belah politik dan ideologi.

"Narasi-narasi yang beresiko membelah lagi masyarakat secara politis dan ideologis. Padahal itu yang sering diingatkan oleh Presiden Jokowi dan capres Prabowo” kata mantan politisi PKS ini.***