POJOKSATU.ID- Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa diminta tidak memanfaatkan NU untuk kepentingan politik praktis di Pemilu 2024.
Permintaan itu disampaikan Ketua Forum Pemuda NU, Abdul Jalil menyusul deklarasi dukungan Khofifah kepada Prabowo-Gibran.
Menurut dia, Khofifah harus menghormati putusan PBNU yang tidak mau terlibat dalam politik praktis.
“Ibu Khofifah harus taat-patuh pada Khittah dan sikap PBNU. Seluruh badan otonom organisasi NU tidak boleh berpolitik praktis," kata dia kepada Pojoksatu.id, Kamis (18/1/2024).
"Jadi, sekali lagi, dirinya (Ibu Khofifah) juga tidak boleh menggunakan dan menjadikan Muslimat NU sebagai alat kepentingan politik,” sambungnya.
Selain itu, lanjut Jalil, Khofifah mendukung paslon 2 karena dugaan
kasus hukum yang menyeret-nyeret nama Gubernur Jawa Timur tersebut.
Akibatnya, deklarasi dukungan tersebut pun dinilai sangat berkaitan dengan kepentingan pribadi Khofifah yang ingin menyelamatkan diri dari dugaan kasus hukum yang akan membelitnya.
“Harus diakui, publik menyeret-yeret nama ibu Khofifah dugaan suap dana hibah APBD Jawa Timur," ujarnya.
"Rumor yang muncul pun akhirnya mengkaitkan dukungan Khofifah kepada Capres itu kuat kaitannya dengan kasus dana hibah APBD Jatim,” jelas dia.
Apalagi dalam waktu dekat, Muslimat NU juga akan menyelenggarakan peringatan Harlah Muslimat NU yang ke-78 tahun di Gelora Bung Karno, Jakarta.
Jalil menilai acara tersebut pasti akan dimanfaatkan Khofifah untuk mendukung pasangan Prabowo Gibran.
“Sulit untuk tidak percaya acara Harlah Muslimat NU tidak digunakan untuk kepentingan politik (Ibu) Khofifah sebagai Tim Sukses Prabowo-Gibran", katanya.
Baca Juga: Dampak Tragedi Kerusuhan 98 Mei dari Segi Sosial dan Politik yang Berakhir Memilukan
"Dengan format mobilisasi massa, besar kemungkinan akan ada deklarasi politik dalam momentum tersebut,” sambungnya.
Apalagi dalam susunan acara yang beredar, program acara tampak dibuat asal-asalan tidak memperhatikan kenyamanan dan kesehatan para peserta.
Jalil menyebut acara yang berlangsung pada tengah malam itu, tidak mengindahkan kepentingan kader-kader Muslimat yang kebanyakan ibu-ibu tua dan lansia.
“Kader Muslimat NU itu ibu-ibu tua dan lansia. Susunan acaranya (yang berlangsung sejak Pkl 00.00 WIB) tidak memperhatikan kesehatan", jelasnya.
"Mereka dan kepentingan mereka di kamar kecil (restroom) untuk membersihkan hadas serta bersuci. Ini tentu akan mendzalimi mereka,” tutur dia.
Jalil mengaku orang tuanya yang merupakan kader Muslimat juga sudah menerima informasi terkait peringatan Harlah Muslimat NU ke-78 yang berlangsung di Jakarta.
Namun demikian, orang tuanya belum bisa memastikan keikutsertaannya dalam momentum tersebut.
Ibunya Jalil masih mempertimbangkan aspek kesehatan dan kebersihan diri (thaharah) jika hadir di dalam agenda itu.
Baca Juga: Target Menang Satu Putaran, Warga di Cirebon Timur Kompak Dukung Prabowo-Gibran
“Ibu saya mengaku terpaksa mendatangi acara tersebut. Selain karena adanya mobilisasi, dirinya menyebut ini sebagai Khidmah kepada organisasi,” tutur dia. ***
