POJOKSATU.id - 29 September 1955 merupakan hari bersejarah bagi demokrasi di Indonesia karena digelar pemilihan wakil rakyat untuk pertama kalinya setelah 10 tahun merdeka.
Sejarah Pemilu tahun 1955 di Indonesia menjadi momen penting dalam perkembangan politik yang mencerminkan kemajuan demokrasi karena adanya pemilihan wakil rakyat.
Dengan melibatkan berbagai partai politik, sejarah pemilu tahun 1955 ini memberikan kesempatan bagi warga Indonesia untuk terlibat secara aktif dalam proses demokrasi melalui pemilihan wakil rakyat.
Terdapat sekitar 43 juta jiwa penduduk Indonesia yang memenuhi syarat untuk ikut dalam pemilu tahun 1955 yang menjadi sejarah demokrasi pemilihan wakil rakyat masa itu.
Pendaftaran pemilu dimulai pada bulan Mei 1954 hingga bulan November 1954.
Sebanyak 87,65 persen atau sekitar 37 juta jiwa dari jumlah tersebut menggunakan hak suara mereka.
Pemilu tahun 1955 di Indonesia, dilaksanakan dalam dua tahap.
Pertama, pada 19 September 1955. Pada tahap pertama ini, pemilu dilaksanakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan diikuti oleh 29 partai politik serta individu.
Pemilu pada masa ini dilaksanakan menggunakan sistem proporsional.
Dimana kursi yang tersedia dibagikan kepada partai politik sesuai dengan imbangan perolehan suara yang didapat.
Baca Juga: Sejarah Berdirinya PDIP, Dipimpin oleh Megawati Sukarnoputri dan Dikenal dengan Partai Banteng
Empat partai besar muncul sebagai pemenang dalam tahap pertama ini.
Diantaranya, Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan perolehan suara sebanyak 22,3 persen.
Disusul oleh Masyumi dengan perolehan suara sebanyak 20,9 persen.
Selanjutnya, Nahdlatul Ulama dengan perolehan suara sebanyak 18,4 persen.
Dan terakhir Partai Komunis Indonesia dengan perolehan suara sebanyak 15,4 persen.
Selain itu, enam anggota parlemen mewakili komunitas Tionghoa dan enam lagi mewakili komunitas Eropa juga terpilih.
Hasil akhir pemilihan pada tahap pertama ini memenuhi 272 kursi DPR.
Baca Juga: Sejarah Berdirinya PSI, Kini Dipimpin Kaesang Pangarep, Tawarkan Politik Move On dan Santuy
Kedua, pada 25 September 1955. Pada tahap kedua ini, pemilu dilaksanakan untuk memilih anggota konstituante.
Sebanyak 520 kursi anggota Konstituante tersedia dalam pemilihan ini. Namun, karena Irian Barat tidak melaksanakan pemilihan, maka jatah kursi dikurangi menjadi 514 kursi.
Hasil pemilihan pada tahap kedua ini menunjukkan bahwa Partai Nasional Indonesia (PIN), Nahdlatul Ulama (NU), dan Partai Komunis Indonesia (PKI) memiliki dukungan yang signifikan.
Lain hal nya dengan Masyumi yang mengalami penurunan perolehan suara pada tahap ini dibandingkan dengan hasil pemilihan anggota DPR.
Selain itu, pada pemilu tahun 1955 ini juga dilaksanakan pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang dilakukan dalam dua tahap.
Pertama, dilaksanakan pada bulan Juni 1957 untuk wilayah Indonesia bagian barat.
Baca Juga: Sejarah Partai Gerindra, Tak Lepas dari Sosok Prabowo Subianto
Kedua, dilaksanakan pada bulan Juli 1957 untuk wilayah Indonesia bagian timur.
Hasil pemilu 1955 ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki dinamika politik yang sangat kuat pada saat itu.
Partai-partai pemenang dalam pemilu di tahun tersebut memegang peran utama dalam mewakili masyarakat Indonesia.
Tak hanya itu, kempat partai tersebut juga mencerminkan ideologi utama yang berkembang di masyarakat Indonesia, yaitu Islam, nasionalis, dan komunis.
Pemilu tahun 1955 ini memberikan pelajaran bagi masyarakat Indonesia mengenai penggunaan hak politik mereka.
Sementara itu, bagi pemerintah, pemilu 1955 ini menjadi pengalaman pertama yang berharga untuk dijadikan sebagai acuan dalam proses pelaksanaan pemilu pada tahun-tahun berikutnya.***
