POJOKSATU.ID- Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mencium bau tak sedap terkait pertemuan sejumlah tokoh dan budayawan.

Pertemuan tersebut berlangsung di kediaman KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah (Jateng) pada Minggu 12 November 2023.

Komandan Relawan TKN, Haris Rusly Motif menyebut sejumlah tokoh dan budayawan yang berkumpul di Rembang tersebut merupakan haters pembenci Prabowo.

Baca Juga: Electrum H5, Motor Listrik Gojek yang Menjangkau 120 Km

"Sebetulnya mereka adalah pembenci atau hatersnya Prabowo dalam dua kali Pilpres sebelumnya," kata Haris kepada Pojoksatu.id di Jakarta, Senin (13/11/2023).

Dia menduga perkempulan tersebut sebuah agenda untuk mencari cara menjatuhkan kredibilitas Prabowo-Gibran.

"Untuk mencari cara menjatuhkan kredibilitas Prabowo. Beberapa nama yang berkumpul tersebut pernah tampil menjadi tim kampanye di Pilpres 2019, dengan rekam jejak sebagai spesialis kampanye negatif," ujar dia.

"Mereka merekayasa narasi bertopeng moral dan nilai-nilai yang ditujukan semata untuk menjatuhkan nama baik Pak Prabowo dan Mas Gibran," sambungnya.

Baca Juga: Wuling Bingo, Mobil Listrik Mungil yang Siap Guncang Pasar Otomotif Indonesia

Haris juga menduga perkempulan dan budayawan tersebut mengatur startegi untuk memanfaatkan isu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) guna menjatuhkan pasangan Prabowo-Gibran.

"Mereka menjadikan sejumlah isu sebagai senjata, termasuk putusan Mahkamah Konstitusi yang mengatur batas usia capres dan cawapres yang menguntungkan anak muda," terangnya.

"Seandainya Gibran tidak berpasangan dengan Prabowo, tapi berpasangan dengan capres yang mereka usung, dipastikan beberapa dari tokoh masyarakat yang berkumpul di Rembang tersebut akan mendukung putusan MK," tandas Haris.

Sebelumnya, sejumlah tokoh bangsa yang terdiri atas budayawan, seniman, tokoh agama, dan tokoh masyarakat lainnya bersilaturahmi ke kediaman KH Mustofa Bisri (Gus Mus) di Kabupaten Rembang, Minggu (12/11/2023).

Baca Juga: AI ChatGPT Tanggapi Lebih Baik Saat Dihadapkan dengan Bahasa Emosional

Silaturahmi ini menyebut dirinya sebagai Majelis Permusyawaratan Rembang (MPR).

Bahkan, sebelum silaturahmi digelar, beredar flyer dengan menyebut pernyataan bersama 15 tokoh bangsa.

Beberapa nama tokoh di flayer tersebut diantaranya Sinta Nuriyah Wahid, Goenawan Mohamad.

Kemudian, Nasaruddin Umar, Frans Magnis-Suseno, Rhenald Kasali, Erry Riyana Hardjapamekas, Lukman Hakim Saifuddin, dan lainnya.

Baca Juga: PLN Masih Hadapi Surplus Listrik, Lantas Apa Solusinya?

Pada konferensi pers yang diikuti secara daring, perwakilan MPR Alif mengatakan, tujuan pertemuan tokoh bangsa dengan Gus Mus adalah silaturahmi menyampaikan beberapa hal mengenai situasi yang sedang berkembang saat ini.

Di mana jika mengutip puisi Gus Mus, bahwa saat ini Indonesia tengah menghadapi satu kondisi dengan rasa yang berbeda.

“Puisi ini menjadi satu sinyal bagi banyak orang sebetulnya dalam bahasa Gus Mus adalah orang-orang yang bekerja di kebudayaan khususnya,"

"Dan beberapa kali disampaikan dalam banyak pertemuan banyak ceramah diskusi selalu menyebutkan bahwa rasanya sudah waktunya di Indonesia ini kebudayaan lah yang menjadi Panglima,” katanya.

Baca Juga: Sinopsis Film Kopi Pahit, Konflik Pasutri Baru Usai Pulang Bulan Madu

Dari pertemuan tersebut, kata dia, setidaknya ada dua hal yang perlu ditindaklanjuti.

Pertama, penting kiranya semua pihak yang prihatin dengan situasi sekarang, situasi yang sudah sama-sama dipahami, di mana situasi ketika demokrasi Indonesia ini di ontang anting.

“Mahkamah Konstitusi sebagaimana bukti-buktinya ditemukan oleh majelis kehormatan Mahkamah Konstitusi ada intervensi dari eksekutif ke yudikatif,"

"Kemudian juga ada situasi lain adalah bahwa ancaman terhadap asas jujur dan adil pemilu yang akan kita lakukan 14 Februari mendatang,” katanya.

Kedua, perlu adanya silaturahmi secara terus menerus antar tokoh bangsa untuk memberi masukan Indonesia ke depan.

Yaitu memberikan nasehat kepada kekuasaan kepada elite politik bahwa apa yang sudah berlangsung itu melukai perasaan masyarakat dan Indonesia sedang tidak baik baik saja. ***