POJOKSATU.id - Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali bikin dunia menahan napas.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) makin memanas, apalagi dengan adanya blokade militer di jalur strategis hingga ketidakpastian gencatan senjata.
Situasi ini bukan cuma soal politik atau militer.
Dampaknya mulai terasa ke sektor global, terutama energi.
Banyak pihak khawatir harga minyak dan energi bakal melonjak tajam dalam waktu dekat.
Berikut ini deretan perkembangan terbaru yang perlu kamu tahu.
Militer AS kembali melakukan penggeledahan kapal kargo di jalur yang diduga terkait Iran.
Salah satu kapal bahkan sempat diperiksa sebelum akhirnya dilepas setelah dinyatakan tidak menuju pelabuhan Iran.
Langkah ini mempertegas ketatnya blokade yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, Gedung Putih menegaskan belum ada kesepakatan damai dengan Iran.
"Kami tidak akan terburu-buru membuat kesepakatan yang buruk. Presiden hanya akan menyepakati perjanjian yang mengutamakan keamanan nasional AS, dan dia telah menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah boleh memiliki senjata nuklir," ujar juru bicara Gedung Putih.
Ketegangan juga datang dari Palestina.
Menteri Luar Negeri Palestina menyebut Israel berupaya melemahkan struktur pemerintahan mereka.
Ia menegaskan pentingnya penyatuan wilayah Gaza dan Tepi Barat tanpa adanya intervensi paksa.
Bukan hanya itu, Presiden AS Donald Trump juga sempat menyentil Kanselir Jerman terkait kritik soal konflik ini.
Ia bahkan menilai pernyataan tersebut tidak memahami situasi yang sebenarnya.
Sementara itu, AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap jaringan keuangan bayangan Iran.
Dana yang nilainya mencapai miliaran dolar disebut digunakan untuk aktivitas yang dianggap mengancam keamanan global.
Yang bikin makin was-was, Bank Dunia memproyeksikan harga energi global bisa melonjak hingga 24 persen tahun ini.
Bahkan, harga minyak mentah diperkirakan naik signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Kondisi ini dipicu gangguan pasokan akibat konflik dan blokade di Selat Hormuz.
Di kawasan Teluk, para pemimpin negara berkumpul di Arab Saudi untuk membahas krisis ini.
Pertemuan tersebut menunjukkan kekhawatiran serius negara-negara kawasan terhadap dampak konflik yang makin meluas.
Kabar mengejutkan datang dari Uni Emirat Arab yang memutuskan keluar dari OPEC mulai Mei.
Keputusan ini disebut sebagai langkah strategis untuk fokus pada kebijakan energi jangka panjang.
Di Lebanon, serangan militer kembali terjadi dan menewaskan delapan orang, meski sebelumnya sempat ada gencatan senjata.
Situasi ini makin memperkeruh kondisi keamanan di kawasan.
Sementara itu, upaya mediasi terus berjalan.
Pakistan disebut masih menunggu proposal baru dari Iran terkait kemungkinan kesepakatan damai.
Menariknya, sebuah kapal tanker LNG dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz yang sedang diblokade.
Meski begitu, lalu lintas kapal di jalur tersebut masih sangat terbatas dan penuh risiko.

